Masuk(Khusus dewasa++) Berniat memperbaiki ekonominya, namun Vino terjebak di pabrik pembuatan mainan dewasa. Godaan dari rekan kerjanya datang silih berganti. Hasratnya sebagai lelaki normal selalu bangkit setiap harinya. Tak hanya itu. Vino dihadapi dengan kejadian mengerikan di dalam pabrik itu. Kejanggalan yang membuat Vino merasa ada sesuatu yang tidak beres di pabrik tempatnya bekerja. Akankah Vino bisa menghadapi godaan itu? Ada apa dibalik Pabrik Sutra Prima?
Lihat lebih banyakWaktu terus berjalan.Jarum jam menunjukkan malam hari. Aku, Andin, dan Dodi masih duduk di ruang tunggu rumah sakit.Beberapa menit yang lalu, perawat sudah membawa kakek ke ruang operasi.Kini kami bertiga hanya bisa menunggu. Aku menatap pintu ruang operasi tanpa berkedip. Dalam hati terus berdoa agar semuanya berjalan lancar."Semoga kakek cepat sembuh," gumamku pelan.Andin yang duduk di sebelahku langsung mengangguk."Amin ... Yang sabar, Kak."Dodi juga ikut mengamini. "Iya, semoga operasinya berhasil."Suasana terasa sepi dan aneh. Tak ada satu pun dari kami yang benar-benar tenang. Rasa gelisah terus aku rasakan.Sesekali dokter atau perawat melintas di koridor, membuatku tanpa sadar selalu menoleh berharap ada kabar.Beberapa saat kemudian Dodi memecah keheningan."Vino."Aku menoleh. "Kenapa?""Aku penasaran," ujar Dodi serius."Penasaran apa?" Aku mengernyitkan dahi.Dodi menyandarkan tubuh ke kursi."Soal cerita yang kamu bilang sering diganggu di pabrik."Aku menghela na
"Kak Vino?"Suara Andin membuyarkan lamunanku.Aku langsung tersentak."Hah iya?""Kok bengong lagi sih?"Aku menghela napas pelan."Maaf .. Hmm."Andin memperhatikanku beberapa saat. "Kak Vino mikirin apa sih?""Ya kepikiran apa yang kamu ceritakan itu," jawabku pelan.Setelah beberapa detik terdiam, akhirnya aku memutuskan untuk jujur."Soalnya begin, Ndin, sebenarnya ada satu hal yang belum pernah kuceritakan lengkap."Andin langsung memasang wajah serius. "Apa itu, Kak?""Sosok perempuan yang sering kulihat... Dia pernah bilang namanya Laras."Andin mengernyit. "Laras?"Aku mengangguk. "Iya. Setiap muncul, dia selalu bilang hal yang sama.""Emang dia bilang apa sih?""'Tolong aku.'"Suasana kantin mendadak terasa lebih sunyi bagi kami.Aku melanjutkan, "Itu yang bikin aku terus kepikiran."Andin tidak lagi tertawa seperti biasanya."Makanya dari awal Kak Vino selalu bilang kalau pabrik itu nggak beres?""Iya begitu lah.""Aku dulu nggak percaya, Kak."Aku tersenyum hambar. "Aku ta
Setelah selesai, Bu Mala menarik napas lega lalu tersenyum kepadaku."Terima kasih, Vino. Saya ke kamar yah," ujarnya tersenyum.Aku langsung mengangguk."Sama-sama, Bu."Beliau berdiri perlahan."Kamu lanjut istirahat saja. Besok kita masih harus bekerja.""Baik, Bu."Bu Mala pun melangkah keluar dari kamar tamu. Sebelum menutup pintu, beliau kembali tersenyum tipis."Selamat malam.""Selamat malam, Bu."Klek!Pintu pun tertutup.Aku kembali merebahkan tubuh di atas kasur yang empuk. Namun mataku belum juga terpejam. Pikiranku kembali mengingat semua kejadian malam itu."Kenapa Bu Mala sebaik ini ya..." gumamku pelan.Aku benar-benar tidak mengerti. Beliau membawaku ke rumahnya. Menawarkan bantuan untuk biaya operasi kakek. Bahkan memperlakukanku seperti tamu kehormatan.Sebagai laki-laki biasa, aku juga mengakui sempat merasa canggung dan berusaha menjaga pikiranku tetap lurus selama berada di rumah itu.Aku segera menggeleng pelan."Jangan mikir macam-macam. Dia itu atasanmu."Yang
Bu Mala perlahan berdiri dari sofa."Ayo Vino sini ..."Aku langsung ikut berdiri. "Ke mana, Bu?""Kita makan dulu yah."Mendengar iyu. Aku hanya mengangguk lalu mengikuti langkahnya menuju ruangan lain.Begitu memasuki ruang makan, mataku langsung membelalak. Di atas meja panjang sudah tersaji berbagai macam hidangan yang masih mengepulkan uap hangat.Dua orang pembantu berdiri di samping meja sambil tersenyum sopan."Silakan, Bu."Bu Mala mengangguk."Terima kasih."Beliau kemudian menoleh kepadaku."Duduk saja, Vino."Aku masih terlihat canggung. "Baik, Bu."Perlahan aku menarik kursi lalu duduk.Jujur saja, aku merasa gugup. Bagaimana tidak? Aku hanyalah anak kampung yang baru beberapa bulan bekerja di pabrik. Namun sekarang justru duduk semeja dengan direktur utama di rumahnya sendiri.Bu Mala tersenyum melihat wajahku."Kenapa keliatan tegang?"Aku tersenyum kikuk."Iya sedikit, Bu.""Santai saja, Vino ... Jangan seperti itu.""Iya, Bu.""Anggap saja sedang makan bersama keluarg
Mataku langsung menyapu ke segala arah. Sama sekali tidak ada yang aneh, tapi wangi melati itu masih terus menusuk hidungku. Hingga tiba-tiba, tirai di jendela bergerak dengan sendirinya, seperti ada yang menggerakkan dari belakangnya. Jantungku langsung berdegup kencang. “Woy, siapa itu?” pekikk
“K–Kak …” ujarku terkejut, tapi masih dengan posisi itu. “K–kamu ngapain?” tanya Priska tak kalah terkejut sambil sesekali melihat ke arah bawahku. “Aku … anu …” Aku menatap ke arah bawah sejenak, lalu buru-buru berdiri tegak dan menyembunyikan alat itu di belakang punggung. “M–maaf, Kak.” Aku
Aku langsung menoleh ke arah sana dan mendorong tubuh Priska dari atasku. “I–itu siapa?!” tanyaku bingung dan panik. Priska langsung berdiri merapikan bajunya dan menatapku bingung, lalu melempar pandangan ke arah mataku melihat. “Siapa? Gak ada siapa-siapa itu,” kata Priska ikut bingung. Aku m
Ketika aku membuka mata, aroma obat–obatan langsung menyeruak ke dalam hidungku. Pandanganku menyapu ke segala arah, jelas ini bukan ruangan uji coba tadi. Tak lama, suara seorang perempuan muncul dari balik pintu. Wajahnya imut, rambutnya pendek, tapi tubuhnya tidak kalah seksi dengan Priska. “H
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan