LOGIN(Khusus dewasa++) Berniat memperbaiki ekonominya, namun Vino terjebak di pabrik pembuatan mainan dewasa. Godaan dari rekan kerjanya datang silih berganti. Hasratnya sebagai lelaki normal selalu bangkit setiap harinya. Tak hanya itu. Vino dihadapi dengan kejadian mengerikan di dalam pabrik itu. Kejanggalan yang membuat Vino merasa ada sesuatu yang tidak beres di pabrik tempatnya bekerja. Akankah Vino bisa menghadapi godaan itu? Ada apa dibalik Pabrik Sutra Prima?
View More“K–Kak, kakak ngapain?” tanyaku yang kaget melihat Priska, leader di tempat kerja baruku, sedang membuka kedua kakinya lebar-lebar di atas meja.
‘Pink!’ gumamku dalam hati ketika melihat celana dalam wanita itu, tapi segera setelah itu aku langsung memalingkan wajahnya. “Menurutmu mau ngapain lagi?” Priska menatapku dengan tajam, lalu meraih benda kecil yang tersambung dengan kabel itu. “Nih, cepet kamu coba pakein produknya ke aku!” Refleks aku menangkap benda itu. Glek! Aku membelalakkan mata dan menelan ludahku susah payah. ‘V–vibrato?!’ kejutku dalam hati. Setelah dipecat dari pekerjaan sebelumnya, demi bisa menyambung hidup, akhirnya aku nekat melamar pekerjaan di pabrik Sutra Prima, pabrik pembuat ‘mainan’ dewasa. Tak disangka, ternyata aku diterima di bagian quality control. Dan sekarang adalah hari pertamaku bekerja. Tapi, sejak awal aku menginjakkan kaki di pabrik ini, aku sudah merasa aneh. Bagaimana tidak, semua karyawan di pabrik ini adalah perempuan! Kecuali satpam di gerbang depan. Bahkan, sekarang aku harus mencoba produk itu dengan leader timku. Sekali lagi, mencoba produk getar-getar itu dengan leaderku! “Kenapa malah bengong? Kamu niat kerja gak sih, Vino?” ujar Priska lagi dengan lebih tegas, tapi ia masih tidak mengubah posisinya, alias paha itu masih terbuka lebar di hadapanku. ‘Cek kualitas sih cek kualitas, tapi masak disuruh nyobain ke cewek!’ gerutuku dalam hati karena terkejut dengan ini semua. “Buruan, Vino!” ulang Priska lebih tegas. “Eh, iya … iya,” sahutku spontan sambil mendekat. Posisiku kini jongkok tepat di depan kedua belah paha yang terbuka lebar. Jantungku mulai tak karuan. Bagaimana tidak? Area segitiga yang berwarna pink itu kini semakin jelas aku lihat. "I-Ini beneran cara ngetes produk ini langsung ke orang?" tanyaku sedikit gugup. "Ini kan produk buat manusia, buat cewek, ya pasti dicobain ke manusia lah! Kalau produknya dijual buat kucing, baru dicoba ke kucing!" jawab Priska, suaranya mulai nyolot. "I–iya juga ya … tapi, Kak …” Aku menggaruk-garuk tengkukku sambil menatap ke segala arah. Rasa malu yang bercampur dengan godaan mulai menjadi satu di kepalaku. Sebagai laki-laki super normal, sudah pasti aku sangat ingin memegang pink-pink itu. Tapi, sebagai pegawai baru yang jelas harus menjaga sikap, mana bisa aku langsung tancap gas! “Gak usah tapi-tapian lagi!” Suara Priska membuatku kembali terperanjat. Dia menatapku lebih tajam, lalu kembali berkata, “Kerjaan hari ini ada banyak, jadi cepet lakuin yang ini sekarang! Jangan kebanyakan mikir kayak bocah baru lulus SMA!” “Buset … enteng banget ini cewek kalau ngomong. Dia gak mikir kali ya kalau aku ini cowok normal!” gerutuku dalam hati. Namun karena tatapan tajam dan perintah Priska yang terdengar semakin menusuk telingaku, aku pun langsung mengambil posisi. “Ekhem …” Aku mencoba mengatur detak jantungku yang semakin tidak karuan. Priska masih menatapku. Posisi kakinya tidak berubah, bahkan tampak seperti sudah nyaman tanpa rasa malu sedikitpun. Aku membolak-balikkan benda kecil lonjong itu. Ini adalah kali pertamaku memegang langsung barang seperti ini. Biasanya, jelas hanya tahu dari video-video biru yang kutonton. Setelah itu, aku kembali menatap titik terdalam paha Priska. “Em … anu … Kak, kakinya bisa dibuka agak lebar lagi?” tanyaku hati-hati dengan suara sedikit bergetar. Priska langsung membuka kakinya lebih lebar. “Begini?” Glek! Mataku langsung disuguhi pemandangan yang membuat celanaku terasa semakin sempit. Aku mengangguk perlahan, tapi tatapanku sama sekali tidak beralih dari segitiga bermuda pink itu. “I-iya, Kak, cukup,” jawabku berusaha tetap tenang. Aku mulai sedikit menunduk, lalu mendekatkan alat di tanganku ke area milik Priska yang hanya terhalang kain pink tipis itu. Deg-degan? Jelas! Gemetar juga iya! Bagaimana tidak, aku bahkan bisa melihat belahan dalam Priska yang mulai … basah, padahal belum disentuh sama sekali. GRRR! Tanpa sengaja aku menekan tombol on di alat getar itu, membuatku sedikit terperanjat. Tatapanku berpindah-pindah antara benda di tanganku dan keindahan di antara paha Priska. “Tempelkan, Vino. Malah diem aja!” tegur Priska lagi. “Tapi itu … celana dalamnya,” ujarku refleks, tapi begitu melihat satu alis Priska terangkat, aku langsung mengoreksi ucapanku. “Maksudku, kalau masih pakai celana dalam … anu … apa penilaiannya bisa akurat? Kan ini untuk … anu …” Namun, tiba-tiba— TAK! Priska memukul kepalaku dengan map yang ada di dekatnya. “Aku gak segila itu buat langsung telanjang di depanmu, anak baru! Udah buruan lakuin tugasmu,” pekik Priska dengan wajah juteknya. ‘Kampret!’ gerutuku dalam hati, malu setengah mati. Tapi sebelum aku berkata apa-apa, dia sudah menarik tanganku untuk mendekat ke arah tempat aduhai itu. “Udah, ayo cepet!” Glek! Meskipun celana dalam itu masih ada di sana, tapi jelas tidak bisa menyembunyikan keindahan di baliknya. ‘Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Vino! Rejeki nomplok kerja begini!’ sorakku dalam hati, mengesampingkan rasa malu yang tadi sempat muncul. Dengan sedikit keraguan yang tersisa, aku langsung berjongkok dan mendekatkan ujung alat getar itu ke kelopak bunga paling indah di dunia ini. Meskipun masih tertutup, aku yakin itu memang indah! Ketika benda itu menempel di luar puncak kenikmatan Priska, aku langsung melihat Priska menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. Dia tampak seperti sedang menahan suaranya. Tapi, ekspresi itu tampak sangat seksi! Ini benar-benar membuat barangku sendiri memberontak ingin keluar. Bahkan, aku semakin merasa kesulitan untuk berjongkok dengan normal. “Hmm …” lenguh Priska lirih, tangannya mencengkram pinggir meja. Glek! Lagi-lagi, aku hanya bisa menelan ludah untuk menahan godaan ini. Tapi, sesekali aku yang mulai merasa gemas, mencoba menggerakkan benda itu untuk menciptakan sensasi lain. “G–gimana, Kak?” tanyaku dengan suara yang entah kenapa menjadi lebih serak. “Eumm … shhh …coba tambah lagi kecepatannya, Vin,” katanya sambil sesekali menggerakkan pinggulnya, seperti sedang berusaha mencari kenikmatan yang lebih lagi. “Oke, Kak.” Aku mengangguk dan langsung menekan tombol kecepatan agar sesuai dengan yang Priska minta. Saat itu, getaran benda ini langsung bertambah lebih kencang. “Ahh … ini enak …” pekik Priska dengan mulut sedikit terbuka. Penampilannya saat ini benar-benar terlihat sangat berbeda dengan beberapa waktu lalu ketika aku baru datang. Tatapan tajam dan raut wajah seriusnya mendadak lenyap, digantikan dengan ekspresi yang bisa membuat semua pria normal lupa daratan. Melihat hal seperti ini, napasku semakin memburu. Jujur saja, aku semakin tidak tahan, tapi aku harus tetap profesional. Ini adalah hari pertamaku bekerja di sini. Tapi tetap saja aku sendiri kerepotan menahan barangku yang semakin mengeras. Sakit? Iya karena celana ini rasanya bertambah sesak, tidak ada ruang untuk harta kesayanganku bergerak bebas. “Hnghhh … tekan terus, Vin. Gesekin ke atas bawah gitu,” pinta Priska sambil menatapku dengan mata sayunya. Aku hanya mengiyakan, dan langsung melakukannya. Di situ mataku tertuju pada area segitiga yang masih tertutup itu. Cetakan basah itu terlihat jelas di tengah-tengah, membentuk pulau yang aduhai. Aku menelan ludah, dan benar-benar sulit menahan gairah yang terus menyelimuti. "Ahh... Naikin lagi kecepatannya, Vin… aku mau sampai," rintihnya. Suaranya bergetar, dan satu hal yang membuat aku kaget. Tiba-tiba kedua tangannya memainkan buah pepayanya sendiri. Sontak mataku terbelalak. “K–Kak Prisa, ngapain mainin itu?” tanyaku terkejut. “Ahh ini enak, alatnya bener-bener bekerja dengan bagus,” jawabnya sambil tersenyum tipis dan terus meremas dadanya. Benar juga. Tapi sialan, aku jadi semakin kewalahan menahan gairah ini. Sampai akhirnya, ketika tubuh Priska bergetar dan bagian bawah itu mengeluarkan cairan putih keruh yang cukup banyak membuat celananya semakin basah, aku sedikit terperanjat. Hingga tiba-tiba– “Ahh .. Vino!!” PRAK! Alat getar di tanganku terjatuh. Priska dengan napas memburu langsung menatapku terkejut karena menjatuhkan alat itu. “M–maaf, Kak,” ujarku bingung dan langsung memungut alat itu. Namun, tiba-tiba– SRRTTT! Aliran listrik dari alat itu langsung menyengat tanganku. “Aaaaa!” Aku menjerit kesakitan, sampai akhirnya jatuh pingsan."Hmpp … Kak …."Aku merasa sedikit sakit ketika Piska terjatuh tepat di atasku. Tapi, tidak bohong juga kalau aku merasakan kehangatan di bawah sana karena senjata kebanggaanku menempel tepat di area hangat Priska tanpa penghalang apapun.Aku menatap wajah Priska sekilas. Dia terlihat panik dan terkejut.“V–Vino … singkirin barangmu ini!” pekiknya dengan suara tertahanPriska sedikit menggerakkan pinggulnya karena gelisah.“Ahh … Kakak bangun lah, kenapa malah digerakin begitu,” ujarku sambil sedikit menikmati sensasi gerakan Priska. “Yang di atas kan Kakak!”Wajah Priska tampak semakin merah. Dia mengulurkan tangannya dan bertumpu di dadaku, bersiap untuk bangkit. Namun tiba-tiba—SRET!Kaki Priska terpeleset cairan pelumas yang ternyata terjatuh di lantai sekitar kami, membuat Priska kembali terkejut dan berakhir tengkurap di atas tubuhku.“Ahh!” pekikku kembali terkejut, tapi rasa kenyal dan hangat di atas dadaku jelas tidak bisa dihindari.‘Sialan, makin kerasa angetnya kalau begi
Mataku langsung menyapu ke segala arah. Sama sekali tidak ada yang aneh, tapi wangi melati itu masih terus menusuk hidungku. Hingga tiba-tiba, tirai di jendela bergerak dengan sendirinya, seperti ada yang menggerakkan dari belakangnya. Jantungku langsung berdegup kencang. “Woy, siapa itu?” pekikku agak gemetar, sok berani. Namun, tak ada jawaban. Akhirnya, setelah mengumpulkan lebih banyak keberanian yang rasanya hampir tidak ada, aku langsung melompat ke kasur dan menutup tubuhku dengan selimut. “Tenang Vin, di dunia ini gak ada yang namanya setan,” gumamku menenangkan diri sendiri. Sampai akhirnya, aku mulai tertidur di tengah ketakutan itu. Ketika pagi datang, sekitar pukul 5, aku kembali membuka mata. Aku langsung buru-buru bangkit dengan penuh semangat, seolah kejadian semalam sudah benar-benar hilang dari ingatan. Hari ini semangatku mencuat tinggi mengingat kata Priska ada bonus yang besar. Hal itu membuatku termotivasi untuk bekerja lebih keras. “Bonus, aku dateng!” se
“K–Kak …” ujarku terkejut, tapi masih dengan posisi itu. “K–kamu ngapain?” tanya Priska tak kalah terkejut sambil sesekali melihat ke arah bawahku. “Aku … anu …” Aku menatap ke arah bawah sejenak, lalu buru-buru berdiri tegak dan menyembunyikan alat itu di belakang punggung. “M–maaf, Kak.” Aku langsung menundukkan kepalaku karena malu bukan main. ‘Goblok banget sih, Vino! Kalau sampai dia mikir elu cowok mesum gimana?!’ gerutuku dalam hati. Meskipun aslinya aku memang bukan pria polos, tapi setidaknya aku harus tetap menjaga martabat di depan perempuan. “Ah udahlah. Aku cuma mau kasih informasi kalau uji cobanya kita tunda jadi besok pagi aja. Soalnya malam ini ada yang mau cek kelistrikan pabrik,” kata Priska akhirnya, dengan suara yang kembali dibuat tegas. “Hah? Oh … berarti sekarang gimana?” tanyaku masih bingung. “Ya pulang, emang kamu mau nginep di sini?” Piska menatapku dengan ketus. ‘Yah, gagal dapet uang lemburan di hari pertama kerja dah,’ ucapku dalam hati. Aku
Aku langsung menoleh ke arah sana dan mendorong tubuh Priska dari atasku. “I–itu siapa?!” tanyaku bingung dan panik. Priska langsung berdiri merapikan bajunya dan menatapku bingung, lalu melempar pandangan ke arah mataku melihat. “Siapa? Gak ada siapa-siapa itu,” kata Priska ikut bingung. Aku mengedipkan mata beberapa kali dengan cepat. Sosok itu memang sudah tidak ada, tapi aku yakin betul tadi aku melihatnya dengan jelas. “Udah ah, ayo cepet nanti gak kebagian makan siang,” kata Priska lagi. “I–iya, Kak.” Setelah Priska berjalan lebih dulu, aku langsung bangkit dan mengikutinya. Ketika keluar dari ruang kesehatan dan menuju kantin, kami melewati salah satu ruangan yang ada di pojok. Ruangan itu tertutup rapat, pintunya tampak agak usang. Aku melirik pintu itu sejenak karena penasaran. Tiba-tiba hembusan angin menerpa wajahku. Lalu... “Tolong aku ganteng …” Aku langsung terbelalak panik mendengar suara seorang wanita berbisik di telingaku. Namun, ketika aku menoleh ke seg






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.