Sementara itu, tubuh kecil Gu Jinyi mulai melemah dalam pelukannya. Bibirnya memucat, napasnya pendek-pendek. "Dingin…" gumam bocah itu lirih. Gu Qingran tidak menunggu izin lagi. Dengan gerakan cepat, ia menarik lengan Gu Jinyi dan menggulung lengan bajunya. Matanya langsung tertuju pada dua bekas luka kecil yang menghitam di pergelangan tangan. Sial. Gigitan ular berbisa. "Dia memang digigit ular," katanya cepat. "Kalau terlambat, racunnya akan menyebar ke jantung." Tanpa ragu, ia merobek kain di ujung bajunya, lalu mengikat kuat bagian atas luka untuk memperlambat aliran racun. "Air panas! Dan pisau kecil—cepat!" perintahnya tajam. Para pelayan saling pandang, dan terlihat ragu. "Kau, apa yang ingin kau lakukan. Kau ini wanita tidak berpendidikan. Jangan berlagak menjadi tabib. Kau bisa membunuh Jinyi! Apa itu tujuanmu?" "Kakak, kau jangan gegabah. Kau tidak memiliki ilmu medis. Biar aku panggil tabib secepatnya," ujar Lu Anxi yang ikut kelihatan khawatir. Nam
Terakhir Diperbarui : 2026-04-28 Baca selengkapnya