LOGINGu Qingran tidak pernah menyangka hidupnya berubah drastis setelah jatuh pingsan di ruang operasi. Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di dalam novel kuno yang pernah dibacanya—menjadi tokoh ibu tiri paling dibenci, bertubuh gemuk, buruk rupa, dan berakhir mati mengenaskan di tangan suaminya sendiri. Sebagai Nyonya muda keluarga Gu, hidup Gu Qingran dipenuhi hinaan. Suaminya, Gu Jixuan, membencinya. Ibu mertuanya menganggapnya pembawa sial. Bahkan putra tirinya, Gu Jinyi, takut padanya. Dan lebih buruk lagi…wanita putih teratai bernama Lu Anxi selalu menjadi favorit semua orang. Mengetahui akhir tragis yang menantinya, Gu Qingran memutuskan satu hal, ia akan mengubah takdirnya sendiri. Mulai dari menyelamatkan Gu Jinyi dari kematian, mengubah tubuhnya yang gemuk , hingga membuat seluruh keluarga Gu menyesali cara mereka memperlakukannya. Namun semakin Gu Qingran berubah, semakin Gu Jixuan mulai memperhatikannya. Wanita yang dulu ia benci… perlahan menjadi sosok yang tak bisa ia abaikan lagi. "Bukankah dulu kau sangat ingin mendapatkan perhatianku?" tanya Gu Jixuan dingin. Gu Qingran hanya tersenyum santai. "Maaf, Tuan Gu. Sekarang aku sudah tidak tertarik lagi."
View MoreSudah cukup, alur novel sialan ini membuatnya muak. Dia sudah membacanya sampai akhir kisah. Gu Qingran si ibu tiri harus mati mengenaskan di tangan suaminya sendiri, dan Gu Jixuan berakhir menikah dengan Lu Anxi, sang tokoh utama, putri keluarga Lu yang ayahnya diangkat menjadi pejabat istana.
Sedangkan ayahnya sendiri—Gu Wei, diasingkan, dan dicopot jabatannya dari kursi menteri istana karena aib yang dilakukan oleh Gu Qingran di cerita asli. "Dia jatuh sendiri, aku sama sekali tidak mendorongnya, kenapa kau menuduhku sembarangan." Gu Jixuan memejamkan matanya, jarinya yang dia gunakan untuk menunjuk wajah istrinya perlahan turun, lalu menatap tubuh Lu Anxi yang menggigil hebat. Dia menghampiri wanita itu, lalu mengambil selimut tebal yang dibawa pelayan dengan tergesa-gesa. "Kau tidak apa-apa, Anxi?" tanyanya lembut pada Lu Anxi. Gu Qingran hanya bisa mendecih kesal. Apa-apaan pemandangan di hadapannya itu, bahkan selama tiga tahun ini Gu Jixuan memperlakukannya dengan dingin, bahkan sekalipun tak pernah menyentuhnya. Jangankan menyentuhnya, tersenyum padanya pun suaminya itu enggan. Setiap hari hanya tatapan jijik yang dilayangkan padanya. "Dia jatuh sendiri, aku benar-benar tidak mendorongnya!" ucap Gu Qingran sekali lagi. Gu Jixuan memejamkan mata sejenak, berusaha menahan emosinya. Setelah itu, ia menoleh pada Lu Anxi yang tubuhnya masih menggigil kedinginan karena barusaja tercebur ke dalam danau. "Kau masih bisa membela diri, sementara bukti sudah ada. Anxi jatuh ke kolam, ada banyak saksi yang mengatakan jika kau mendorongnya. Itu kau lakukan karena Anxi akan melaporkan hilangnya Jinyi padaku, dan itu adalah perbuatanmu!" Jinyi adalah nama anak laki-laki Gu Jixuan yang masih kecil—anak tiri Gu Qingran. Gu Qingran tak mengerti, sejak dia masuk ke dalam tubuh ini, dia bahkan tak berinteraksi dengan bocah itu, bocah yang di dalam novel sangat membenci ibu tirinya yang gemuk, dan buruk rupa. Bahkan Gu Jinyi lebih memihak pada Lu Anxi. "Gu Jinyi, hilang?" Ia heran, tapi tak dipungkiri sedikit khawatir. "Apa? Kau mau mengelak? Katakan padaku sekarang, di mana kau sembunyikan Jinyi, huh!" teriak Gu Jixuan. Wajah tampan pria itu memerah karena kesal. Setiap hari dia mendapatkan laporan tentang sosok istrinya yang kejam itu. "Aku tidak tahu." Tatapan Gu Jixuan langsung berubah makin dingin. "Katakan di mana Jinyi!" Suaranya meninggi. "Atau aku akan memerintahkan pengawal memukulmu sampai kau mau bicara!" Gu Qingran mengepalkan tangan. Dalam hati ia mengumpati nasib buruknya sendiri. Jika terus seperti ini, alur novel tidak akan berubah… dan dia akan mati seperti Gu Qingran asli. "Aku benar-benar tidak tahu," ucapnya pelan namun tegas. Gu Jixuan tetap tidak mau percaya, hingga.... "Tuan Gu, Tuan muda sudah ketemu!" teriak salah satu pelayan di kediaman Gu. Wanita itu berlari tergopoh, sementara seorang pengawal pria berjalan cepat sambil menggendong Jinyi yang nyaris pingsan. "Jinyi, kau kenapa?" tanyanya. Bocah itu langsung memeluk ayahnya, badannya menggigil hebat. "Tuan muda kami temukan di paviliun belakang, tadi hamba sempat melihat ada ular besar di sana sepertinya—" "Ular!" teriak Gu Qingran panik. Kedua tangannya yang tadi dicekal oleh para pelayan, lalu dia hentakkan, setelah itu dia berlari ke arah Gu Jinyi yang wajahnya sudah memucat. Gu Qingran pikir, Gu Jinyi pasti digigit ular. "Apa yang kau lakukan!" teriak Gu Jixuan, ketika Gu Qingran ingin mengecek kondisi tubuh Gu Jinyi dalam gendongan Gu Jixuan. Ia mendorong tubuh istrinya, dan nyaris jatuh ke atas tumpukan salju. Namun, wanita itu sungguh bebal. Dia kembali menghampiri Gu Jinyi. "Dia pasti digigit ular, biarkan aku menyelamatkannya." Gu Jixuan langsung menepis tangan Gu Qingran dengan kasar, tatapannya penuh amarah dan kecurigaan. "Menjauh darinya!" bentaknya dingin. "Apa kau belum puas menyakitinya?" Namun Gu Qingran tidak mundur. Matanya menajam, berbeda dari biasanya—tidak ada lagi kepanikan seorang wanita lemah, melainkan ketegasan seorang dokter yang terbiasa menghadapi hidup dan mati. Di kehidupan sebelum ia masuk novel ini, ia adalah seorang dokter. "Kalau memang digigit ular, setiap detik itu adalah hal berharga!" Suaranya tegas, nyaris memotong udara. "Kalau kau terus menghalangiku, dia bisa mati!" Ucapan itu membuat semua orang terdiam sejenak. Gu Jixuan mengerutkan kening. Ada sesuatu yang berbeda… cara bicara wanita ini, sorot matanya—tidak seperti Gu Qingran yang ia kenal. Gu Qingran sendiri tahu, ia harus mengubah alur novel ini. Ia harus menyelamatkan Jinyi. Dan yang paling penting—menyelamatkan dirinya sendiri dari akhir tragis seperti di cerita asli.Gu Qingran terduduk dengan lemas, sudah jelas ini adalah hal yang belum pernah dia ketahui. Novel ini ternyata lebih rumit dari yang dia bayangkan. Coba saja dia pikir, orang yang dipanggil pangeran ternyata adalah Xiao Jinghe, lalu Putra Mahkota pasti tidak lain adalah Xiao Yinfe. Lalu, apakah selama ini ada kudeta di istana, hingga Xiao Yinfe dan ibunya diasingkan ke Istana Dingin. "Astaga, tidak bisa dibiarkan. Berarti selama ini gelar Putra Mahkota memang milik Xiao Yinfe. Semuanya menjadi masuk akal, orang mengatakan rumor buruk tentang Gu Qingran yang mengejar Putra Mahkota. Padahal dia sama sekali tidak dekat dengan Xiao Jinghe sebelumnya." Gu Qingran dewasa mengetukkan jarinya di atas dagu. Dia berjalan mondar-mandir ke kanan dan ke kiri, memikirkan alur cerita ini. "Sepertinya bagian ini memang lembaran-lembaran yang hilang dari novel yang kubaca. Jadi, seharusnya aku mulai dari sini saja. Lantas, ucapan Lu Anxi saat itu, jika si pemilik tubuh asli ada hubungan dengan Is
Gu Qingran masih berada di istana, di suasana yang sama. Namun setelah kabut putih membawanya, dia kembali terdampar, mungkin hanya beda beberapa hari saja dari saat kemarin ia bertemu dengan Gu Jixuan, dan Gu Qingran muda. Kali ini dia diperlihatkan dengan pemandangan anak-anak bangsawan yang berbaris memakai hanfu berwarna putih. Mungkin itu adalah seragam Akademi Kekaisaran. "Aku masih berada di sini? Wajah-wajah muda itu, mereka sangat serius belajar, dan tata krama masih sangat kental," ujar Gu Qingran. Wanita itu melangkah dengan hanfunya yang terseret, namun masih sama, semua orang tak mampu melihatnya karena dia hanya jiwa yang terdampar di distorsi ruang dan waktu. Sampai tiba-tiba matanya melihat sosok Gu Qingran yang bersembunyi di balik pilar, di saat yang lain sibuk berbaris dan mendengarkan ceramah sifu di pagi hari. Tetapi, Gu Qingran malah berkeliaran sendiri. "Apa dia sudah sebandel itu saat remaja." Gu Qingran dewasa menggeleng-gelengkan kepala. Niatnya melihat
Dunia ini terasa aneh pada Gu Qingran. Dia berjalan ke arah istana, tetapi para pengawal seperti tidak melihatnya. Dia berpikir, apakah dia semacam jiwa transparan yang terlempar ke distorsi ruang dan waktu. Sungguh sialan, kehidupan macam apa ini. Dia yang jatuh pingsan di ruang operasi, lalu jiwanya masuk ke dalam tubuh Gu Qingran, istri Gu Jixuan, mengungkap misteri sialan yang membuat hidupnya berantakan. Namun, di balik semua itu dia senang karena menemukan kehangatan sebuah keluarga. Tetapi, tidak sampai di sana, kini dia terjebak di distorsi ruang dan waktu menyaksikan kehidupan lampau si pemilik tubuh asli. "Mungkin aku akan mendapatkan petunjuk di sini." Dia melangkah mendekat, pada sosok anak remaja sekitar berusia dua belas tahun duduk sendiri di bawah pohon magnolia yang tengah mekar. Anak itu adalah Gu Jixuan di waktu muda. "Gu Jixuan, dia memang sudah tampan sejak kecil." Gu Jixuan tampak duduk tenang sembari membaca gulungan, mungkin itu adalah gulunga
Malam merangkak di Kediaman Gu. Lu Anxi kini ditahan di ruang tahanan bawah tanah keluarga Gu. Meskipun keluarga Lu sempat mendesak Gu Jixuan untuk melepaskan nona muda mereka, tetapi sesuai aturan, wanita itu harus ditahan, sembari menunggu keputusan dari Kaisar. Gu Qingran duduk di tepi ranjang, napasnya terhela pasrah beberapa kali. Dia berpikir jika Lu Anxi mulai mencurigainya. "Apa aku terlalu mencolok? Ah, mana mungkin. Tetapi Nona Lu mulai curiga padaku, padahal alur sialan ini belum kupecahkan." Dia lalu mengacak rambutnya karena frustrasi. "Arghh, entahlah. Kepalaku pusing." "Kau sakit?" Gu Qingran langsung menoleh, ketika menatap ke arah pintu, sosok Gu Jixuan tampak melangkah mendekat. Dadanya berdebar, dia takut suaminya mendengar apa yang ia ucapkan. "Qingran, kenapa diam?" Wajah lelaki itu berkilau di bawah temaram lentera kamar. Sungguh tampan sekali, membuat rona samar di wajah Gu Qingran menjalar di pipi seputih pualamnya, dan membuat bibirnya kelu. "Tidak,
"Kenapa kau mendorongku ke danau hari itu?" Mata Lu Anxi membelalak, wanita itu nyaris kehilangan kata-kata. Bahkan untuk mengerang merasakan sakit di kepalanya akibat jambakan Gu Qingran pun tidak mampu ia lakukan. Sebenarnya, siapa Gu Qingran ini? Wanita bodoh yang hanya tahu mencintai pria d
Xiao Jinghe sudah beberapa kali mengirim surat ke kediaman Jenderal Gu untuk mengundang Gu Qingran. Bukan apa-apa, dia ingin menjamu wanita itu, sekaligus menanyakan penyakitnya. Tetapi bukan hanya alasan itu saja, dia hanya ingin melihat wajah Gu Qingran karena jujur, dia rindu dengan wanita a
Gu Qingran berpura-pura tidak tahu apa-apa ketika ayahnya dan suaminya keluar dari paviliun timur. Gu Qingran masih duduk dengan tenang, secangkir teh herbal masih mengepul, dan pura-pura dia tiup agar keduanya tidak curiga kalau dia baru saja menguping pembicaraan mereka. "Ayah, kenapa kalia
Wajah Gu Wei langsung memucat. Pria itu terbatuk beberapa kali ketika pertanyaan itu terlontar dari mulut putrinya. Bukan apa-apa, bagaimana bisa Gu Qingran melupakan semuanya? Dia tidak mengerti. Memang akhir-akhir ini sikap putrinya berubah, tapi tidak mungkin wanita itu melupakan segalanya. "Q






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore