Lavinia menatap mereka bertiga satu per satu dengan pandangan mata seorang Countess penguasa mutlak. "Sekarang, kalian bertiga akan menggendongku kembali ke kastel. Aku tidak punya energi lagi untuk berjalan. Dan setelah kita sampai... kita akan mendiskusikan jadwal kalian. Tidak ada lagi keributan, tidak ada lagi perdebatan di luar kastel. Jika kalian ingin membuktikan siapa yang paling layak, lakukan itu di dalam kamar, sesuai gilirannya." Ketiga pria itu terdiam, terpaku pada ketegasan Lavinia. Sesuatu di dalam diri mereka entah itu rasa bersalah, kegilaan obsesif untuk memiliki, atau sekadar ketundukan pada otoritas sang Countess membuat mereka patuh tanpa syarat. Adrian, sang Putra Mahkota, maju terlebih dahulu dengan arogansinya. "Biar aku yang menggendongnya. Tubuhnya masih dingin akibat energi bayanganmu, Vincent. Dia butuh kestabilan api naga untuk menetralkannya." "Jangan bermimpi," balas Vincent dingin, menolak melepaskan g
閱讀更多