Baru saja bibir Alaric maju beberapa sentimeter dan hampir menyentuh permukaan bibirku lagi... PRAANGGG! Sebuah lilin suci berukuran besar di dekat patung malaikat itu mendadak jatuh dan pecah berantakan di atas lantai marmer, seolah-olah ada ‘tangan gaib’ yang sengaja menjatuhkannya untuk merusak momen manis kami agar gagal total untuk kedua kalinya. Dari balik kegelapan patung marmer itu, sepasang mata ungu yang dingin dan tajam menatap ke arah kami tanpa rasa bersalah. Vincent menggeser sedikit posisi berdirinya dengan santai, mengabaikan fakta bahwa dia baru saja tertangkap basah. Ekspresi wajahnya sedatar papan, memancarkan aura manipulatif yang pekat. "Udara katedral ini agak pengap, sampai-sampai lilinnya jatuh sendiri," ucap Vincent dengan nada suara yang teramat tenang, dingin, dan tanpa riak emosi sedikit pun, namun kata-katanya jelas diniatkan untuk memprovokasi Alaric. Meliha
Baca selengkapnya