Bab 179Dentuman musik menggema keras, memenuhi seluruh klub malam eksklusif di pusat kota. Namun, kebisingan itu sama sekali tak mampu mengusir kesepian yang mencengkeram jiwa Juna. Di tangannya, segelas wiski digenggam begitu erat. Dalam sekali teguk, pria itu menghabiskan isinya, membiarkan cairan pekat yang membakar mengalir melewati tenggorokannya.Juna benar-benar tertekan. Bayang-bayang hasil pemeriksaan medis Ziyi sore tadi terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Mandul. Kerusakan permanen. Kata-kata itu terus bergema, berkejaran dengan wajah penuh harap Ziyi yang begitu mendambakan seorang anak. Demi menghindari istrinya malam ini, Juna terpaksa berbohong dengan alasan ada rapat bisnis mendadak.Gelas kedua, gelas ketiga, hingga botol berikutnya pun berpindah tangan. Juna sudah tak peduli lagi. Ia hanya ingin otaknya berhenti berpikir, meski hanya untuk satu malam. Pengaruh alkohol mulai bekerja dengan kejam, mengaburkan kesadarannya dan membuat kepalanya terasa sema
Read more