“Jangan, om… cepat lepaskan aku. Misel sudah pulang, gawat kalau dia sampai melihat kita begini… aku… kamu itu ayahnya.”Usai bicara, aku mengerahkan sedikit tenaga untuk berontak.Menyadari usahaku untuk lepas, gurat kecewa tampak di wajahnya, tapi akhirnya dia pun melepaskanku juga.“Maaf ya, Lusi. Om bukan sengaja, semuanya hanya kebetulan saja.”Begitu Benny melepaskanku, aku langsung berdiri dengan kedua kakiku yang masih terasa lemas.Tanpa memedulikan tatapannya yang tertuju pada kulit putih di balik punggungku, aku segera menurunkan rok.Rasa malu dan canggung memuncak di kepala. Aku mendorong pintu kamar mandi dan saat melihat sahabatku baru saja membuka pintu rumah, tapi belum menyalakan lampu, aku langsung lari terbirit-birit ke dalam kamar.Setelah menyalakan lampu, aku melihat pantulan diriku di cermin. Wajahku tampak memerah dan penuh keringat. Aku pun bergegas merapikan diri.Tak lama kemudian, sahabatku masuk.Melihat ekspresi wajahku, dia sempat curiga, lalu tertawa te
Read more