Compartir

Bab 2

Autor: Star Harvest
“Jangan, om… cepat lepaskan aku. Misel sudah pulang, gawat kalau dia sampai melihat kita begini… aku… kamu itu ayahnya.”

Usai bicara, aku mengerahkan sedikit tenaga untuk berontak.

Menyadari usahaku untuk lepas, gurat kecewa tampak di wajahnya, tapi akhirnya dia pun melepaskanku juga.

“Maaf ya, Lusi. Om bukan sengaja, semuanya hanya kebetulan saja.”

Begitu Benny melepaskanku, aku langsung berdiri dengan kedua kakiku yang masih terasa lemas.

Tanpa memedulikan tatapannya yang tertuju pada kulit putih di balik punggungku, aku segera menurunkan rok.

Rasa malu dan canggung memuncak di kepala. Aku mendorong pintu kamar mandi dan saat melihat sahabatku baru saja membuka pintu rumah, tapi belum menyalakan lampu, aku langsung lari terbirit-birit ke dalam kamar.

Setelah menyalakan lampu, aku melihat pantulan diriku di cermin. Wajahku tampak memerah dan penuh keringat. Aku pun bergegas merapikan diri.

Tak lama kemudian, sahabatku masuk.

Melihat ekspresi wajahku, dia sempat curiga, lalu tertawa terbahak-bahak.

“Lusi, jangan-jangan mumpung aku nggak ada di rumah, kamu diam-diam bermain sendirian, ya?”

Mengingat kejadian dengan Benny tadi, hatiku diliputi kegelisahan dan rasa bersalah.

Jangan sampai sahabatku tahu kejadian tadi.

Aku pun segera pura-pura marah.

“Misel, apa yang kamu bilang, sih? Sudah kubilang, aku habis kerja paruh waktu tadi dan lanjut minum-minum dengan rekan kerja dalam rangka malam tahun baru.”

Melihat reaksiku, dia menjulurkan lidahnya.

“Iya, iya, maaf… aku tahu primadona kampus kita ini memang pemalu. Oh iya, aku harus keluar sebentar lagi. Lusi, tolong bantu aku kasih hadiah ini ke ayahku, ya.”

Usai bicara, Misel langsung berlari keluar dan kembali membawa sebuah kotak besar.

Dia menatapku dengan tatapan penuh makna, lalu tersenyum misterius.

“Ingat Lusi, ini hadiah untuk ayahku. Isinya baju yang cantik, kamu jangan coba-coba pakai… pokoknya, kamu harus turuti kata-kataku.”

Setelah berpesan, dia bilang pacarnya sudah menunggu, lalu pergi begitu saja.

Setelah dia pergi, kakiku terasa lemas dan terduduk di kursi.

Kebetulan ada boneka anjing di sana yang mengganjal tepat di bawah rokku.

Sentuhan di titik itu membuat tubuhku tersentak.

Wajahku semakin memerah. Aku merasa benar-benar ada yang tidak beres dengan diriku hari ini.

Teringat kejadian di kamar mandi tadi, aku tidak tahan dan perlahan mengulurkan tanganku ke bawah.

Namun saat itu juga, aku melihat kotak kardus di samping kursi.

Rasa penasaran memang berbahaya.

Aku menahan diri, menarik kembali tanganku dan membuka kotak itu.

Ternyata isinya adalah sebuah lapisan kulit tiruan untuk boneka stimulasi.

Di sampingnya ada buku petunjuk yang menjelaskan bahwa kulit tiruan ini bisa dipasangkan pada boneka atau mainan besar.

Jika tombolnya ditekan, dia akan berubah menjadi stimulasi wanita yang memberikan sensasi luar biasa.

Melihat itu, wajahku semakin panas.

Aku bahkan merasa cemburu pada boneka stimulasi ini.

Setidaknya, ia bisa dipuaskan oleh Benny sesuka hati.

Tak lama kemudian, gairahku pun menyerang lagi. Tanpa sadar, aku malah memakai kulit tiruan itu dan menarik ritsletingnya.

Entah apa yang merasukiku, teringat soal mode getar di buku petunjuk, aku pun menekan tombolnya.

Seketika, meski terhalang pakaian, aku merasakan rangsangan getaran yang luar biasa.

Kejadian di kamar mandi tadi sudah membuatku merasa tanggung dan sangat menginginkannya.

Begitu rangsangan ini datang, tubuhku langsung lemas dan terjatuh ke atas ranjang.

Namun, alat itu terus bergetar.

Jika terus begini, aku tidak akan sanggup menahannya.

Karena tidak kuat, aku berusaha mematikan tombolnya dan ingin melepas kulit tiruan itu.

Namun, belum sempat ritsleting terbuka, tiba-tiba pintu kamar didorong dari luar.

Itu Benny.

Aku merasa tubuhku seperti dehidrasi, tenggorokanku kering dan tak berani bergerak sedikitpun.

“Eh, di mana Lusi? Kok nggak ada….”

Benny menoleh ke sekeliling dengan bingung.

Melalui sudut mata, aku bisa melihat dia menatap tajam ke arahku.

“Ternyata Lusi nggak ada di rumah. Oh, jadi ini boneka yang dibilang Misel? Nggak kusangka mainannya sebesar ini. Tapi kalau dilihat-lihat, tubuhnya mirip sekali dengan Lusi… menarik juga.”

Benny mendekat ke tepi ranjang, tangannya mendarat ke atas kulit yang kupakai.

Ah… jangan di sana… itu bagian….

Sensasi aneh itu membuatku membeku, sampai-sampai dia benar-benar mengira diriku adalah boneka stimulasi.

Benny mulai meraba-raba tanpa henti.

Tak lama kemudian, satu tangan saja tak puas baginya, tangannya yang lain pun ikut menjelajah.

Padahal diriku sendiri sudah hampir tidak kuat karena mode getar tadi.

Rasa geli dan nikmat itu membuatku hampir membuka mulut.

Kemudian, Benny mengambil buku petunjuk, membacanya sebentar, lalu malah menekan tombolnya lagi.

Bonekanya pun mulai bergetar lagi.

Kali ini, posisinya tepat di antara kedua kaki.

Tepat saat aku sudah tak tahan lagi dan ingin berteriak….

Benny kembali meraba dengan kedua tangan besarnya.

“Bahannya bagus sekali, terasa nyata saat dipasang di boneka. Tsk tsk, entah bagaimana rasanya kalau dipakai orang sungguhan? Enak sekali saat dipegang, bahkan terasa hangat.”

Benny bergumam sendiri. Dia tidak lagi puas hanya meraba bagian belakang, tapi mulai menjelajahi seluruh permukaan kulit tiruan itu.

Entah bagaimana kulit tiruan ini dibuat, tapi rasanya saraf-sarafku seolah menyatu dengannya.

Tubuhku benar-benar sudah bereaksi.

Tiba-tiba, Benny merenggangkan kedua kakiku, memaksaku berlutut di atas ranjang dengan posisi menungging.

Lalu, dia terkekeh, “Wah, ternyata model yang selangkangannya terbuka. Baguslah, jadi lebih memudahkanku.”

“Tadi nggak berhasil dengan Lusi, aku sudah hampir meledak menahannya. Sekarang kebetulan bisa dilampiaskan di sini.”

Sambil bicara, Benny menurunkan ritsleting celananya dan merapat semakin dekat ke arahku….
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 7

    Dia membawa beberapa pria kekar dan langsung menerobos masuk ke rumahku.Begitu melihatnya, wajahku langsung pucat. Aku reflek mengambil sapu di samping dan memasang posisi waspada.“Apain… apain kamu ke sini?”Tatapan Benny menyapu tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil terkekeh nakal.“Lusi masih saja tetap menggoda, ya. Om benar-benar nggak bisa melupakanmu. Jangan takut, aku hanya bawa beberapa orang biar kamu bisa menikmatinya.”Usai bicara, dia melambaikan tangan pada pria-pria kekar itu.Para pria kekar itu langsung mengepungku. Mana mungkin aku tidak tahu apa maksudnya?“Pergi! Kalian mau pergi atau aku lapor polisi?!”Jika sampai dikeroyok oleh pria-pria kekar ini… aku pasti akan hancur.Aku mengeluarkan ponsel untuk menakut-nakuti mereka, tapi salah satu dari mereka langsung merampas ponselku dan membantingnya ke lantai.Mereka semakin mendekat ke arahku dan menatapku dengan liar.Seolah sekawanan serigala yang mengincar mangsanya.Aku sangat ketakutan dan mencob

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 6

    Tindakan Misel barusan semakin membuktikan dugaanku. Dia pasti terlibat dalam semua ini.Karena aku sedang tidak waspada, ponsel Benny pun berhasil direbut.“Lusi! Indra! Cepat lepaskan ayahku! Kalau nggak, aku akan lapor polisi! Kalian sedang melakukan penganiayaan sekarang!”Setelah berhasil merebut ponsel itu, Misel menjadi semakin sombong dan langsung mencoba mendorong Indra menjauh.Indra melirikku sesaat, lalu berkata, “Lusi, lapor polisi.”Jelas sekali dia ingin mengambil langkah sebelum didahului.Mendengar ucapan Indra, Misel langsung panik.Ternyata, gertakannya tadi hanya untuk menakut-nakuti kami. Sebenarnya dia tak berani melapor polisi.Melihat dia ketakutan seperti itu, aku segera mengeluarkan ponsel dan melapor polisi.Polisi pun segera datang dan membawa kami semua ke kantor polisi.Setelah mendengar penjelasan kronologi dari kami, polisi pun menginterogasi Misel.Mungkin karena gemetar melihat kewibawaan polisi, akhirnya Misel mengakui semuanya.Ternyata, hari itu dia

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 5

    Aku reflek melihat ke sekeliling, untungnya tidak ada yang memperhatikan.“Apain… apain kamu ke sini?”Bentakku dengan wajah yang muram.Benny terkekeh, lalu menunjuk ke arah kamar mandi di pojok.“Ikut kau ke kamar mandi, ada yang mau kubicarakan.”Karena masalah sebelumnya sudah dianggap selesai, aku tak ingin lagi berurusan dengannya. Jadi, aku langsung menolak permintaannya.“Bicarakan di sini saja kalau ada perlu.”Melihat aku menolak, raut wajah Benny pun berubah. Kemudian, dia mengeluarkan ponsel dan menggoyangkannya di depanku.Begitu melihat layarnya, mataku langsung terbelalak.Ternyata itu video rekaman dari kamera di kamar!Di sana terlihat sangat jelas saat aku diam-diam memakai kulit tiruan itu, serta semua hal yang dia lakukan padaku.Bukannya Misel bilang videonya sudah dihapus? Lalu ini apa?Wajahku pucat. Aku sadar kalau diriku mungkin sudah dibohongi olehnya.“Ikut aku ke kamar mandi atau video ini akan kuputar sekarang juga, biar semua orang bisa dengar suaranya.”A

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 4

    Benny tampak ragu.Aku segera mengeluarkan ponsel dari saku, bersiap seolah-olah akan menelepon polisi.Benny takut dan melepaskan cengkeramannya.“Jangan lapor polisi, aku… aku nggak akan melakukannya lagi.”Aku duduk tegak di sofa dan berkata, “Biarkan aku lihat isi rekaman kamera itu. Aku harus memastikan wajahku terekam atau nggak.”Karena Benny berani memasang kamera di kamar tidur, ada kemungkinan dia akan menggunakan video itu untuk mengancamku ke depannya.Aku harus melenyapkan kemungkinan itu.“Nggak boleh!”Benny langsung reflek menolak. Reaksinya yang seperti ini justru membuatku semakin curiga dan semakin ingin melihat isinya.“Kalau kamu nggak menunjukkannya, aku akan lapor polisi sekarang juga.”Mungkin karena takut aku benar-benar lapor polisi, Benny pun menggelengkan kepalanya berkali-kali.“Ada video pribadiku yang lain di dalam sana, nggak bisa kuperlihatkan padamu….”Saat kami sedang berdebat, tiba-tiba Misel pulang dengan terburu-buru.Begitu melihat Benny, dia lan

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 3

    Suhu tubuh dan badan pria yang kekar mengingatkanku pada semua yang terjadi antara diriku dan Benny di kamar mandi tadi.Mendapat rangsangan darinya seperti ini, aku semakin tak bisa menahannya lagi.Dalam hati, aku sangat berharap dia segera merapat.Namun, tepat di detik terakhir, tiba-tiba terdengar suara ‘tak’, kamar yang tadinya terang benderang menjadi gelap gulita.Seluruh rumah tenggelam dalam kegelapan.Aku tersadar kembali dan diam-diam merasa beruntung. Untung saja listriknya padam, kalau tidak aku dan Benny sudah….Benny juga tersentak kaget. Dia melepaskanku dan segera berlari keluar.“Sial, sepertinya tekonya konslet. Aku harus keluar untuk menaikkan meteran listriknya.”Mumpung Benny sedang keluar, aku bergegas melepas kulit tiruan itu dari tubuhku.Aku meraba-raba mencari ponsel di tengah kegelapan, lalu menyalakan lampu senter, berniat pura-pura seolah diriku juga baru saja sampai di rumah.Saat itulah, tiba-tiba aku menyadari ada sebuah titik merah yang berkedip di da

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 2

    “Jangan, om… cepat lepaskan aku. Misel sudah pulang, gawat kalau dia sampai melihat kita begini… aku… kamu itu ayahnya.”Usai bicara, aku mengerahkan sedikit tenaga untuk berontak.Menyadari usahaku untuk lepas, gurat kecewa tampak di wajahnya, tapi akhirnya dia pun melepaskanku juga.“Maaf ya, Lusi. Om bukan sengaja, semuanya hanya kebetulan saja.”Begitu Benny melepaskanku, aku langsung berdiri dengan kedua kakiku yang masih terasa lemas.Tanpa memedulikan tatapannya yang tertuju pada kulit putih di balik punggungku, aku segera menurunkan rok.Rasa malu dan canggung memuncak di kepala. Aku mendorong pintu kamar mandi dan saat melihat sahabatku baru saja membuka pintu rumah, tapi belum menyalakan lampu, aku langsung lari terbirit-birit ke dalam kamar.Setelah menyalakan lampu, aku melihat pantulan diriku di cermin. Wajahku tampak memerah dan penuh keringat. Aku pun bergegas merapikan diri.Tak lama kemudian, sahabatku masuk.Melihat ekspresi wajahku, dia sempat curiga, lalu tertawa te

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status