Compartir

Bab 7

Autor: Star Harvest
Dia membawa beberapa pria kekar dan langsung menerobos masuk ke rumahku.

Begitu melihatnya, wajahku langsung pucat. Aku reflek mengambil sapu di samping dan memasang posisi waspada.

“Apain… apain kamu ke sini?”

Tatapan Benny menyapu tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil terkekeh nakal.

“Lusi masih saja tetap menggoda, ya. Om benar-benar nggak bisa melupakanmu. Jangan takut, aku hanya bawa beberapa orang biar kamu bisa menikmatinya.”

Usai bicara, dia melambaikan tangan pada pria-pria
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 7

    Dia membawa beberapa pria kekar dan langsung menerobos masuk ke rumahku.Begitu melihatnya, wajahku langsung pucat. Aku reflek mengambil sapu di samping dan memasang posisi waspada.“Apain… apain kamu ke sini?”Tatapan Benny menyapu tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki sambil terkekeh nakal.“Lusi masih saja tetap menggoda, ya. Om benar-benar nggak bisa melupakanmu. Jangan takut, aku hanya bawa beberapa orang biar kamu bisa menikmatinya.”Usai bicara, dia melambaikan tangan pada pria-pria kekar itu.Para pria kekar itu langsung mengepungku. Mana mungkin aku tidak tahu apa maksudnya?“Pergi! Kalian mau pergi atau aku lapor polisi?!”Jika sampai dikeroyok oleh pria-pria kekar ini… aku pasti akan hancur.Aku mengeluarkan ponsel untuk menakut-nakuti mereka, tapi salah satu dari mereka langsung merampas ponselku dan membantingnya ke lantai.Mereka semakin mendekat ke arahku dan menatapku dengan liar.Seolah sekawanan serigala yang mengincar mangsanya.Aku sangat ketakutan dan mencob

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 6

    Tindakan Misel barusan semakin membuktikan dugaanku. Dia pasti terlibat dalam semua ini.Karena aku sedang tidak waspada, ponsel Benny pun berhasil direbut.“Lusi! Indra! Cepat lepaskan ayahku! Kalau nggak, aku akan lapor polisi! Kalian sedang melakukan penganiayaan sekarang!”Setelah berhasil merebut ponsel itu, Misel menjadi semakin sombong dan langsung mencoba mendorong Indra menjauh.Indra melirikku sesaat, lalu berkata, “Lusi, lapor polisi.”Jelas sekali dia ingin mengambil langkah sebelum didahului.Mendengar ucapan Indra, Misel langsung panik.Ternyata, gertakannya tadi hanya untuk menakut-nakuti kami. Sebenarnya dia tak berani melapor polisi.Melihat dia ketakutan seperti itu, aku segera mengeluarkan ponsel dan melapor polisi.Polisi pun segera datang dan membawa kami semua ke kantor polisi.Setelah mendengar penjelasan kronologi dari kami, polisi pun menginterogasi Misel.Mungkin karena gemetar melihat kewibawaan polisi, akhirnya Misel mengakui semuanya.Ternyata, hari itu dia

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 5

    Aku reflek melihat ke sekeliling, untungnya tidak ada yang memperhatikan.“Apain… apain kamu ke sini?”Bentakku dengan wajah yang muram.Benny terkekeh, lalu menunjuk ke arah kamar mandi di pojok.“Ikut kau ke kamar mandi, ada yang mau kubicarakan.”Karena masalah sebelumnya sudah dianggap selesai, aku tak ingin lagi berurusan dengannya. Jadi, aku langsung menolak permintaannya.“Bicarakan di sini saja kalau ada perlu.”Melihat aku menolak, raut wajah Benny pun berubah. Kemudian, dia mengeluarkan ponsel dan menggoyangkannya di depanku.Begitu melihat layarnya, mataku langsung terbelalak.Ternyata itu video rekaman dari kamera di kamar!Di sana terlihat sangat jelas saat aku diam-diam memakai kulit tiruan itu, serta semua hal yang dia lakukan padaku.Bukannya Misel bilang videonya sudah dihapus? Lalu ini apa?Wajahku pucat. Aku sadar kalau diriku mungkin sudah dibohongi olehnya.“Ikut aku ke kamar mandi atau video ini akan kuputar sekarang juga, biar semua orang bisa dengar suaranya.”A

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 4

    Benny tampak ragu.Aku segera mengeluarkan ponsel dari saku, bersiap seolah-olah akan menelepon polisi.Benny takut dan melepaskan cengkeramannya.“Jangan lapor polisi, aku… aku nggak akan melakukannya lagi.”Aku duduk tegak di sofa dan berkata, “Biarkan aku lihat isi rekaman kamera itu. Aku harus memastikan wajahku terekam atau nggak.”Karena Benny berani memasang kamera di kamar tidur, ada kemungkinan dia akan menggunakan video itu untuk mengancamku ke depannya.Aku harus melenyapkan kemungkinan itu.“Nggak boleh!”Benny langsung reflek menolak. Reaksinya yang seperti ini justru membuatku semakin curiga dan semakin ingin melihat isinya.“Kalau kamu nggak menunjukkannya, aku akan lapor polisi sekarang juga.”Mungkin karena takut aku benar-benar lapor polisi, Benny pun menggelengkan kepalanya berkali-kali.“Ada video pribadiku yang lain di dalam sana, nggak bisa kuperlihatkan padamu….”Saat kami sedang berdebat, tiba-tiba Misel pulang dengan terburu-buru.Begitu melihat Benny, dia lan

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 3

    Suhu tubuh dan badan pria yang kekar mengingatkanku pada semua yang terjadi antara diriku dan Benny di kamar mandi tadi.Mendapat rangsangan darinya seperti ini, aku semakin tak bisa menahannya lagi.Dalam hati, aku sangat berharap dia segera merapat.Namun, tepat di detik terakhir, tiba-tiba terdengar suara ‘tak’, kamar yang tadinya terang benderang menjadi gelap gulita.Seluruh rumah tenggelam dalam kegelapan.Aku tersadar kembali dan diam-diam merasa beruntung. Untung saja listriknya padam, kalau tidak aku dan Benny sudah….Benny juga tersentak kaget. Dia melepaskanku dan segera berlari keluar.“Sial, sepertinya tekonya konslet. Aku harus keluar untuk menaikkan meteran listriknya.”Mumpung Benny sedang keluar, aku bergegas melepas kulit tiruan itu dari tubuhku.Aku meraba-raba mencari ponsel di tengah kegelapan, lalu menyalakan lampu senter, berniat pura-pura seolah diriku juga baru saja sampai di rumah.Saat itulah, tiba-tiba aku menyadari ada sebuah titik merah yang berkedip di da

  • Terjebak Asmara Ayah Sahabatku   Bab 2

    “Jangan, om… cepat lepaskan aku. Misel sudah pulang, gawat kalau dia sampai melihat kita begini… aku… kamu itu ayahnya.”Usai bicara, aku mengerahkan sedikit tenaga untuk berontak.Menyadari usahaku untuk lepas, gurat kecewa tampak di wajahnya, tapi akhirnya dia pun melepaskanku juga.“Maaf ya, Lusi. Om bukan sengaja, semuanya hanya kebetulan saja.”Begitu Benny melepaskanku, aku langsung berdiri dengan kedua kakiku yang masih terasa lemas.Tanpa memedulikan tatapannya yang tertuju pada kulit putih di balik punggungku, aku segera menurunkan rok.Rasa malu dan canggung memuncak di kepala. Aku mendorong pintu kamar mandi dan saat melihat sahabatku baru saja membuka pintu rumah, tapi belum menyalakan lampu, aku langsung lari terbirit-birit ke dalam kamar.Setelah menyalakan lampu, aku melihat pantulan diriku di cermin. Wajahku tampak memerah dan penuh keringat. Aku pun bergegas merapikan diri.Tak lama kemudian, sahabatku masuk.Melihat ekspresi wajahku, dia sempat curiga, lalu tertawa te

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status