“Maaf, tadi aku kehilangan kendali, nggak sadar kalau ini di tempat umum.”Aku memotong ucapannya, berbalik dengan mata dan wajah memerah, air mata pun mengalir.“Tapi, aku nggak bisa menahan amarahku. Tadi dia diam-diam membalas pesan mantan pacarnya saat menonton, aku memergokinya, lalu dia menggendong untuk menenangkanku.”“Menurutmu, pantaskah dia begitu?!”Aku pura-pura meronta hendak mendorong kakak ipar, membuatnya panik dan buru-buru menahanku, takut kejanggalan di balik rokku terlihat oleh pria itu.“Jangan ribut lagi!” ujarnya dengan suara tertahan, antara kesal dan takut. Lengannya memelukku erat, benar-benar seperti pacar yang sedang menenangkan kekasihnya.Ditambah lagi tangisanku yang terlihat sangat nyata, ekspresi pria itu perlahan berubah dari curiga menjadi simpati.Akhirnya, dia sempat menasihati kakak iparku, lalu kemudian pergi.Orang-orang di barisan depan pun kembali mengalihkan pandangan ke layar.Aku memukul pelan bahu kakak ipar untuk melanjutkan sandiwara.“D
Read more