Adriel tidak langsung menjawab.“Keputusan apa, Adriel? Hari itu aku ngapain?”Adriel menurunkan pandangannya sebentar, lalu kembali menatap Vio. “Kamu bilang kamu butuh waktu sendiri.”“Itu bukan keputusan besar. Aku cuma bilang begitu?” tanyanya.Adriel tidak menjawab.Vio menatap wajah suaminya lama. “Aku sempat buka satu hal dari hape lama. Riwayat panggilan terakhir.” Vio menelan ludah. “Banyak panggilan masuk sama keluar dari kamu. Jamnya deketan, durasinya pendek-pendek.”Rocky yang sejak tadi berdiri beberapa langkah dari mereka menggeser berat badan, jelas ikut menegang. Elsa melirik ke arah Adriel, lalu kembali ke Vio.“Aku tanya sekarang,” kata Vio, matanya tak lepas dari Adriel. “Kita waktu itu sering teleponan kenapa?”Adriel menjawab cepat, seolah sudah menyiapkan jawaban itu sejak tadi. “Kerjaan.”Vio mengangkat alis. “Kerjaan?”“Iya.”“Kerjaan sampai puluhan kali? Dengan durasi satu menit, dua menit, tiga menit?” Vio tertawa kecil, “Kita dokter, Adriel. Kala
Baca selengkapnya