Visit sore itu terasa lebih panjang dari biasanya.Tanpa konsultan, Vio muter bangsal sendirian. Berbagi laporan ke perawat, residen junior, dokter magang dan anak ko-as. Ia juga cek pasien, tulis order—semua dia lakukan cepat, rapi, nyaris tanpa jeda. Seolah kalau dia berhenti satu detik saja, pikirannya akan lari ke tempat yang tidak ingin dia hadapi.Begitu pintu bangsal terbuka, Adriel sudah berdiri di sana. Bersandar di dinding. Diam. Wajahnya datar tapi dingin. Langkah Vio otomatis melambat.“Dok—”“Ikut aku.”Vio langsung tahu: Qairo sudah bicara atau... Sarah sendiri yang bilang?Pintu evakuasi di ujung koridor tertutup pelan di belakang mereka. Area tangga darurat sunyi, hanya suara kipas ventilasi yang berputar.Mereka berdiri saling berhadapan jarak satu meter, tapi terasa seperti satu kilometer.Adriel menatap lurus ke mata Vio. “Atas dasar apa, seorang istri menawarkan suaminya ke perempuan lain?”Vio tidak kaget. Dia menelan ludah pelan. Ia menarik n
Mehr lesen