LOGINSpin-Off "Pernikahan Kontrak Dokter Muda" Bagi Viola, Adriel adalah dokter yang halusinasi. Bagaimana tidak? Lelaki itu mengaku sebagai suaminya, padahal Vio yakin betul kalau dia belum menikah. Tapi anehnya, Adriel bisa tahu persis letak tahi lalat di area paling rahasia tubuhnya! - Pasca kecelakaan tunggal, Viola menderita Amnesia Parsial. Anehnya, dia ingat segalanya—keluarga, sahabat, kecuali fakta bahwa dia sudah menikah dengan konsultan obgyn yang jadi musuhnya selama bertahun-tahun. Celakanya, ingatan terakhir Vio adalah dia masih pacaran sama mantannya. Di tengah perjuangan Vio memenangkan kembali ingatannya yang "amnesia pilih-pilih" ini, mantan kekasih Adriel juga datang menawarkan kenangan lama. Apakah Vio bisa memulai kembali cintanya dengan Adriel, atau justru terjebak kenangan dengan cinta lamanya?
View MoreViola menekan tombol lift dengan siku. Tangannya sibuk membawa ratusan map laporan operasi dan rekam medis pasien. Dia sempat melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 18.05 wib. Jam pulang manusia normal, tapi jadi jam kekacauan bagi residen Obgyn tahun ke dua.
Drrrrt~ "Halo, sayang?" "Kamu udah siap-siap pulang?" Vio tidak langsung menjawab. Dia menekan kedua sudut matanya yang lelah. "Sebentar lagi." "Aku masih di tempat seminar, bentar lagi ke resto. Kamu gak lupa 'kan malam ini ada acara apa?" Pintu lift terbuka. "Dok, ada tiga pasien baru. Dua Inpartu, satu Emboli air ketuban." dokter magang melapor hati-hati. Vio membuang napas pelan. "Sayang, udah dulu, ya. Love you." Begitu sampai poli, mereka berlari. Vio menaruh setumpuk map di meja jaga perawat dan langsung ke bangsal perawatan. "Dok, pasien bed 108 pasca SC minta yang ganti perbannya dokter Vio. Katanya kalo sama anak ko-as takut gak rapi." Vio melirik. "Iya, sus. Nanti saya ganti." Perawat lain mendekati Vio. “Dok, ada pasien tambahan, tapi ruangan penuh.” Vio menoleh pelan seperti robot kehabisan baterai. “Tambahan berapa?” Perawat tersenyum merasa bersalah. “Empat. Semuanya pindahan dari rumah sakit lain. Ada yang kehamilan Mola, Tuba, Intra-Abdominal sama Eklampsia.” Vio menutup mata. Menghela napas panjang. "Saya tanya dokter konsultan dulu." Jari tangan Vio bergerak lebih cepat dari otaknya. Dia menatap layar ponsel membaca balasan. "Semua boleh diterima. Pasien yang tanda vitalnya mendekati stabil boleh dipulangkan." Poli Obgyn tidak pernah sepi. Pasien ke dua ratus sepuluh hari itu baru saja masuk ruang perawatan, ketika Vio menyandarkan punggung ke kursi. Lehernya sangat kaku. Bahunya terasa berat seperti digantung batu bata. Vio mengusap wajah dengan kedua tangan. Dengan gerakan perlahan dia melirik jam dinding. Sudah pukul 20.37 wib. Ucapan suaminya ditelpon tadi membuatnya bergegas pulang tanpa makan apapun. "Gak papa, cuma dua puluh menit di jalan." Langit sudah gelap total ketika Vio keluar dari gedung rumah sakit. Dia berdiri sebentar di samping mobilnya, memijat pelipis pelan. "Kayaknya Gula Darah gue turun deh. Gak papa, habis ini gue bakal makan kue." Mesin mobil menyala dengan dengung pelan. Jalanan tidak terlalu ramai. Lampu jalan berjajar seperti garis tak berujung. Pikirannya kosong. Tubuhnya bekerja otomatis memegang stir, kaki menekan gas, mata menatap lurus. Dia harus sampai cepat di resto untuk merayakan Anniversarry pernikahannya. Tapi otaknya sudah menyerah. Kelopak matanya terasa sangat mengantuk, membuat Vio berkedip lebih lambat. Terdengar suara klakson panjang memekakkan telinga, dibarengi cahaya putih yang mendadak memenuhi pandangan. Refleks Vio menarik rem—terlambat. "Ini gimana?" Monolognya panik. Ban berdecit keras. Tubuhnya terguncang hebat. Airbag berfungsi baik tapi tak begitu membantu. Mobil berputar beberapa saat, lalu semuanya gelap. *** Empat hari kemudian... Beep-Beep-Beep. Suara mesin yang memenuhi ruang ICU berubah nada dalam hitungan detik. Jari telunjuk Vio bergerak. Hanya satu milimeter, tapi cukup membuat lelaki di balik kaca yang sedang menatap kosong langsung berdiri tegak. “Dokter! Istri saya!” Langkah kaki berlarian. Pintu dibuka. Semua alat penunjang diperiksa. Nama Viola dipanggil berulang. Empat hari menunggu berakhir dengan kabar baik. Empat hari tanpa suara Vio rasanya terbayarkan dengan kabar siumannya. Perawat akhirnya membuka pintu. “Keluarga boleh masuk.” Semua orang bergerak hampir bersamaan, tapi lelaki itu tetap masuk paling terakhir. Seolah takut terlalu berharap. Vio masih terbaring di ranjang. Neck collar melingkari lehernya, beberapa plester menempel di dahi. Matanya cerah untuk seseorang yang baru saja sadar dari koma. Mama memeluknya pertama. Tangis pecah. Papa menyusul. Eyang Kakung ikut memeluk dari samping. “Ya ampun, lebay banget sih. Orang aku nggak papa, cuma disenggol Fuso dikit.” Tawa lega memenuhi ruangan. Vio berhenti tertawa lebih dulu. Matanya bergerak pelan, menghitung mesin di sekelilingnya. Monitor Jantung, beberapa labu infus, kabel disana-sini, Ventilator di sudut ruangan. "Ini... ICU?" Semua orang saling pandang. “Vio, kamu kecelakaan.” mama menjawab hati-hati. "Iya aku tahu. Maksudnya, aku pikir gak sampe masuk ICU." “Gak papa, yang penting kamu selamat.” kata papa cepat. Vio mengangguk santai. Matanya kembali menyapu ruangan, seolah memastikan. Lalu matanya berhenti pada seseorang yang berdiri paling belakang. Seorang lelaki berjas dokter kusut. Matanya merah. Ia berdiri terlalu kaku seperti patung yang lupa cara bergerak. Dia menunggu Vio menyapanya. Vio menatapnya cukup lama. "Maaf, dok, saya masih ada pemeriksaan lagi, ya?" Ruangan membeku. Lelaki itu melotot. Air mata keluar begitu saja sebelum sempat ditahan. Ia melangkah mendekat, pelan sekali. Tangannya terangkat refleks ingin menyentuh pipi Vio. Kepala Vio mundur satu inci. “Maaf, dok, kita saling kenal?” Tenggorokan lelaki itu bergerak sebelum suaranya keluar serak. “Tentu.” Sepi beberapa detik. “Kita suami istri.” Dunia Vio berhenti. “Suami?” Vio bertanya tidak peracaya, dia melirik Mama-Papa-Eyang kakung yang menatapnya waspada. "Aku belum nikah 'kan? Dokter pasti halusinasi.” Tangan lelaki itu jatuh perlahan di sisi tubuhnya. Tidak ada satu pun orang di ruangan yang berani bicara. Pintu kembali terbuka. Seorang dokter lelaki senior di ikuti perawat berdiri disamping ranjang Vio. “Secara umum kondisi Viola bagus. Hasil CT Scan, MRI, EEG semuanya tidak menunjukkan kerusakan serius.” “Tapi,” dokter melirik Vio, "Apa ada hal-hal yang tidak di ingat?" Vio tak menjawab. Dia sibuk dengan pikirannya yang sangat rumit. "Ada, dok. Vio gak inget sama suaminya." kata mama panik. Dokter melirik Adriel yang seolah tahu arah pembicaraan akan kemana. “Dari hasil CT scan, kami menemukan adanya gangguan pada fungsi memori Viola, tepatnya di bagian Hipokampus dan Amigdala.” Dahi Vio mengerut serius. “Gangguan gimana, dok? Aku inget semuanya kok. Keluarga, kerjaan, bahkan kejadian waktu kecelakaan.” Dokter tersenyum kecil. "Memori jangka panjangmu secara umum baik. Kamu bisa mengingat identitas, pendidikan, kebiasaan, bahkan detail kecil. Tapi ada satu jenis memori yang mengalami gangguan. Kamu mengalami Amnesia Parsial Retrograde.” Eyang Kakung mengerutkan kening. “Maksudnya gimana?" “Amnesia Retrograde berarti Viola kehilangan sebagian ingatan tentang kejadian di masa lalu, terutama yang terjadi sebelum kecelakaan. Disebut Parsial karena tidak semua ingatan hilang, hanya sebagian.” Vio menelan ludah. Tangannya tanpa sadar meremas selimut. “Benturan saat kecelakaan kemungkinan mengganggu jalur memori tertentu. Akibatnya, otak ‘kehilangan akses’ ke sebagian kenangan—terutama kenangan yang paling dekat dengan masa sebelum kecelakaan atau yang memiliki muatan emosi tinggi.” "Jadi ada orang dan kejadian yang aku lupain?" Vio bertanya ragu. Dokter mengangguk. “Apa ingetannya bisa kembali, dok?” tanya Vio lirih. Dokter melirik semua orang silih berganti sebelum menatap Vio. “Banyak pasien mendapatkan kembali ingatannya. Tapi… tidak ada jaminan semuanya kembali.” Kini Vio yang menatap semua orang silih berganti dengan wajah khawatir. “Kalau ingetanku nggak balik, gimana, dok?” “Kita fokus ke pemulihan dulu.” Tatapan Vio berhenti di Adriel yang menunduk lesu. "Katanya aku udah nikah sama dokter itu. Tapi aku gak kenal dia siapa." Adriel tidak memperhatikan, tapi ia mendengar jelas ucapan Vio. "Saya tahu dokter Adriel memang suami kamu, Viola." Vio menekan kedua ibu jarinya sampai memutih mendengar penjelasan dokter. Masalahnya ia tidak mengingat lelaki itu sama sekali. "Kalo aku masih ragu dia suamiku?" "Gak perlu di paksakan untuk di ingat." Sambung dokter. Vio melirik benda yang tersemat di jari manis Adriel. "Itu apa?" Adriel melepaskan cincin kawinnya dengan Vio. Dia memberikannya, berharap dengan ini Vio bisa yakin kalau mereka sudah menikah. Vio menerima cincin itu. Dia membaca ukiran inisial A & V dibaliknya. Dahinya merengut serius. Ada perasaan aneh yang menjalari hatinya. Terasa familiar tapi kosong. "Kamu inget sesuatu?" tanya Adriel hati-hati.Sekarang sudah malam. Mama, ayah sambung, papa dan mama sambung sudah pulang. Dan sejak itu Vio jadi tidak banyak bicara. Ia masih memikirkan pertanyaan kapan ia akan mencoba hamil. Bukan tidak mau, tapi rasanya hanya ia yang berjuang sendiri untuk hamil.Perawat baru saja selesai mengecek tanda vital Rocky. Kondisinya membaik, tetapi dokter tetap meminta observasi satu malam lagi."Pulang gih." Usir Rocky.Vio masih duduk di samping ranjang. "Rumah gue disini sekarang. Gue 'kan wali pasien lo.""Elah, gak perlu di temenin. Banyak sahabat gue disini. Semua perawat dan dokter yang urus gue, itu anggota geng gue selama kita ko-as dulu."Vio mengendikkan bahu. "Gue bakal tetep disini."Rocky menyandarkan punggung ke bantal. "Gue ditinggal semalam nggak bakal mati, Vi."Mata Vio langsung memerah. "Lo tuh ya? Jangan ngomong kayak gitu.""Gue cuma--"Vio melirik Rocky. "Seumur-umur lo nggak pernah pingsan."Rocky terdiam."Lo selalu sehat, selalu kuat. Bahkan kalau sakit pun pali
Di IGD, tim sudah bekerja cepat."Pasang infus! Cek gula darah. Ambil darah lengkap."Rocky masih belum membuka mata. Vio menerobos masuk. "Abang!" Dia berlutut di samping brankar melihat wajah kakaknya yang sama sekali tidak bereaksi. Tangannya gemetar saat menggenggam tangan Rocky."Bangun."Tidak ada jawaban. Air mata Vio langsung pecah. "Rocky, bangun."Seorang dokter mendekat. "Dok Vio, tolong kasih kita ruang buat periksa dok Rocky."Vio menggeleng. "Bang, bangun, gue mohon.""Dok—"Vio menoleh ke semua orang yang sedang menangani Rocky. "Tolong selamatin kakakku, dok. Aku mohon." Suara Vio benar-benar hancur.Semua staf tahu Vio selalu terlihat benci pada Rocky. Dia selalu berusaha untuk tidak berurusan dengan kakaknya kalau bisa. Hari ini Vio hanya seorang adik yang ketakutan."Iya, tapi dok Vio tunggu diluar ya?"Vio terpaksa menurut. Dokter jaga selesai memeriksa hasil awal. Beliau menatap Vio yang duduk tidak tenang di kursi tunggu. "Dok?"Vio langsung be
Senin pagi Vio sedikit santai. Ia bisa berangkat agak siang naik taksi karena Adriel ada panggilan darurat jam tiga pagi tadi.Vio memencet tombol lift. Isinya penuh. Perawat, koas, pasien, keluarga pasien—semuanya berdiri rapat seperti ikan pindang. Ia pun terpaksa masuk karena tidak mau menunggu lebih lama.Di antara belasan orang, diantaranya ada Rocky sedang makan roti sobek yang Vio tahu betul itu punya siapa.“Bang?”“Hm?”“Itu roti dari ruangan Adriel?”Rocky langsung menggigit roti lebih besar. “Bukti dulu.”"Tanggal expirednya dua hari lagi."Rocky mengangguk bijak. “Iya. Dan gue jaga-jaga supaya lo gak makan gula berlebihan.”Vio menoleh pelan. “Jadi bener itu punya gue?”Seorang bapak di pojok lift refleks menekan tombol open door padahal lift belum sampai lantai mana pun.“Sebagai dokter, gue melindungi pasien dari diabetes.”"Gue bukan pasien lo!"“Semua manusia pasien potensial.”Vio langsung mencoba meraih roti itu. Rocky mengangkat tangannya tinggi-tinggi
Setelah puas bermain ala suami istri di kamar, mereka berdiri di depan jendela besar ruang keluarga, kerja sama membersihkan kaca. Vio bagian lap kaca, Adriel bagian semprot cairan pembersih. Setiap semprotan selalu terlalu dekat ke wajah Vio.“Adriel!”“Oops.”Tawa kecil terus muncul di sela-sela kerjaan.“Kalau robotnya rajin, weekend kita ngapain?” tanya Vio.Adriel menjawab santai. “Cari kerjaan lain.”“Contohnya?”Adriel menatap sebentar. Senyum pelan muncul. “Kayak beberapa menit lalu.”Vio langsung salah fokus, kain lapnya berhenti di kaca.Di belakang mereka, dari arah pintu dapur, seseorang sudah berdiri sekitar lima menit. Bibir atasnya terangkat pelan dengan ekspresi muak.Belinda berdeham keras.Keduanya langsung kaget dan menoleh bersamaan.Vio refleks hampir menjatuhkan botol pembersih. “Kamu dari kapan di situ?!”Belinda bersandar santai di pintu. “Dari kalimat kalo robotnya rajin, weekend kita ngapain.” Tatapannya pindah ke dua robot yang lagi muter di lan
Pulang dari rumah sakit ternyata tidak membuat keadaan menjadi lebih mudah. Justru lebih sulit. Adriel memaksa Vio untuk pulang, harapannya agar istrinya bisa punya waktu menenangkan diri. Vio tidak menolak. Bahkan ia langsung setuju begitu perintah itu keluar. Tapi yang terjadi ternyata lebih para
Elsa langsung sadar suasana berubah. Matanya bergantian melihat Vio dan Adriel."Ada yang mau kamu jelasin?" Suara Vio pelan ketika bertanya kedua kali. Ia duduk tegak di ranjang yang terpisah oleh tirai dengan ranjang lain.Adriel kesulitan menjawab.Monitor USG masih menyala. Detak jantung
Vio memainkan jari jemarinya tegang. "Mereka kayaknya masih saling nyimpen perasaan."Qairo tertawa kecil, membuat Vio menoleh karena merasa teorinya di ledek."Kok ketawa?""Adriel cinta banget sama kamu, Vi. Gak mungkin dia masih nyimpen perasaan buat Sarah.""Sok tahu. Kamu gak liat tadi
Vio belum bicara lagi dengan Adriel sejak kejadian tadi. Ia merasa Adriel dan Sarah menyembunyikan sesuatu darinya.Jadwal jaga Vio baru selesai. Ia sudah berganti baju dan berjalan pelan di koridor. Mengacuhkan panggilan Rocky yang memanggilnya seperti preman pasar pada temannya."Eh, harusnya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.