Lucien tidak membalas lagi. Pria itu hanya menoleh sedikit, menyuguhkan sebuah senyum tipis, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.Meira mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tanpa sadar ia tahan. "Abaikan dia, Zayn," gumam Meira. "Dia memang selalu berlebihan.""Tidak perlu minta maaf. Aku bisa memahaminya," jawab Zayn lembut. "Dia bersikap seenaknya dan mengintimidasi orang di tempat kerjaku," gerutu Meira sambil memutar tubuh, mulai melangkah menuju gedung fakultas. "Oh ya, Mei.""Ada apa?" Zayn menghentikan langkahnya di koridor. Ia melirik sekitar, memastikan tidak ada mahasiswa yang berada dalam jarak dengar."Ini tentang rapat kita nanti," ucap Zayn pelan.Meira mengerutkan kening. "Kenapa? Ada yang harus aku siapkan? Itu kan cuma rapat formalitas.""Sebenarnya..." Zayn mengusap tengkuknya. "Semalam, rektorat mendapat email dari yayasan penyandang dana. Ada perombakan dewan direksi besar-besaran secara mendadak. Pimpinan yang baru menuntut evaluasi ulang secara menyel
Huling Na-update : 2026-07-11 Magbasa pa