Sebelum Nuna mencurigainya, Liora langsung memegangi perut. Sambil meringis kesakitan, Liora berkata, “Aaaiissshhh! Bu Nuna, perutku sakit. Tolong bawain aku sarapan.” Liora melirik Nuna, berusaha membaca ekspresi wajahnya. Menurut Liora, pengawalnya itu tidak mencurigai dia sama sekali. Hanya terlihat kecemasan di wajahnya. “Baik, Nona. Kamu cuci muka dan sikat gigi aja dulu.”Nuna membungkuk hormat, lalu membalikkan badan. Diam-diam, Nuna melirik ke belakang dan tersenyum tipis. Sepertinya Nuna mengetahui sesuatu!Nuna tidak pergi, melainkan mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Kemudian, berjalan menjauh. “Halo, David. Bawain sarapan Nona sekarang,” kata Nuna di telepon. Liora menyipitkan mata. Hatinya kesal bukan main. ‘Ha? Apa-apaan ini? Kok Bu Nuna malah telepon Paman David, sih?’Ini tidaklah baik! Dia buru-buru mengambil ponselnya.Ketika tangan Liora sedang merogoh bawah bantal, dia menemukan benda berukuran kecil. Hatinya tersenyum. ‘Hem? Ini pasti flashdisk
Read more