Jalan Biru merupakan urat nadi utama yang membelah pusat Kota Awan Biru, sebuah kawasan yang selalu dipadati oleh kereta kuda mewah para bangsawan, kios-kios pedagang kain sutra, hingga para praktisi yang hilir mudik dengan senjata di pinggang mereka. Namun pagi ini, ketenangan fajar di sepanjang jalan berbatu itu terusik oleh kehadiran sesosok pemuda yang berjalan dengan langkah konstan.Long Tian berjalan dengan tenang, mengabaikan tatapan meremehkan dari orang-orang di sekitarnya. Jubah abu-abunya kumal, robek di bagian bahu kiri akibat tebasan angin dari pertempuran malam tadi, dan tubuhnya terlihat kurus jika dibandingkan dengan standar para kultivator kota. Namun, jika ada seorang ahli sejati yang mengamati dengan jeli, mereka akan menyadari bahwa setiap kali tumit Long Tian menyentuh permukaan batu Jalan Biru, tidak ada satu pun suara ketukan yang terdengar. Bobot tubuhnya terdistribusi dengan efisiensi spasial yang mutlak sebuah tanda dari kontro
Baca selengkapnya