Sinar matahari siang menembus jendela kaca patri, memantulkan bayangan warna-warni di lantai.Kediaman itu terasa sunyi dengan cara yang tidak wajar.Pemanas ruangan dinyalakan sampai maksimal. Gelombang udara panas terus keluar dari ventilasi. Namun, aku tahu. Panas sebanyak apa pun tidak akan bisa menghangatkan tubuh itu lagi.Pintu kamar Vivian terbuka keras.Dia berlari keluar tanpa alas kaki sambil melepaskan diri dari Mama yang matanya bengkak dan merah. Dia langsung berlari menuju ruang tamu."Minggir! Aku harus ketemu Lilian!"Dia tersandung menuruni tangga spiral, langkah kakinya bergema di aula yang kosong. Lalu, dia berhenti.Di tengah ruangan, Bos Marselino Paladin, pria yang dulu membuat dunia mafia di kota Neorka gemetar ketakutan, sedang duduk di lantai yang dingin.Dia sedang memelukku. Jasnya terbuka dan membungkus tubuhku dengan hati-hati.Tubuhku bersandar lemas di dadanya, kepalaku terkulai dengan rambut panjang yang menjuntai berantakan.Tangannya yang kapalan kare
Read more