Short
Kembaran Terlupakan: Satu Dicintai, Satu Diabaikan

Kembaran Terlupakan: Satu Dicintai, Satu Diabaikan

By:  CocojamCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
4.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Di Keluarga Paladin, setiap anak lahir dengan sebuah cip. Cip itu menyatu dengan bio-arloji di pergelangan tangan mereka, layarnya terus menghitung mundur setiap detik dari sisa hidup yang mereka miliki. Semua orang bisa melihat angka di arloji saudara kembarku terus berkurang. Begitu juga di arlojiku. Mereka semua tahu dia akan meninggal tepat di hari ulang tahun kami yang ke-18. Karena itu, Vivian menjadi putri yang tidak tersentuh di dunia kami yang kejam. Semua gaun bertabur berlian menjadi miliknya. Semua perhiasan paling langka juga menjadi miliknya. Bahkan sisa rasa kemanusiaan ayahku yang terakhir juga hanya diberikan untuknya. Sedikit kehangatan yang hanya terlihat saat pistol ayahku sudah disarungkan kembali. Dulu, aku merasa kasihan padanya. Waktunya terus berkurang. Namun, ya Tuhan ... aku juga iri padanya. Dia punya semua yang tidak pernah kumiliki, kasih sayang orang tua kami. Lalu, pada malam pesta ulang tahun kami yang ke-18 .... Orang tuaku khawatir aku akan membuat keributan. Mereka takut aku akan menyinggung bos mafia dari keluarga sekutu kami. Jadi, mereka mengunciku di ruang bawah tanah. Lembap. Dingin. Sementara demam parah membakar seluruh tubuhku. Aku terus menggedor-gedor pintu kayu ek yang berat itu sampai suaraku serak. "Mama, tolong! Keluarkan aku! Tubuhku panas sekali. Kepalaku sakit banget ...." Dari luar, suara ibuku terdengar dingin dan tak tergoyahkan. "Cukup, Lilian! Hari ini ulang tahun adikmu yang ke-18. Hari terakhirnya hidup! Berhenti cari perhatian! Apa kamu nggak bisa menahan diri demi kehormatan keluarga kita?" "Tapi aku benar-benar sakit ...." Suara langkah kakinya makin lama makin menjauh, sampai akhirnya lenyap. Lalu, kegelapan menelanku sepenuhnya. Di pergelangan tanganku, bio-arloji itu terus berkedip dan menunjukkan peringatan darurat. [ PERINGATAN KRITIS: Tanda vital tidak cocok. Data cip yang terhubung tidak kompatibel. Harap verifikasi pengguna. ]

View More

Chapter 1

Bab 1

Di Keluarga Paladin, setiap anak lahir dengan sebuah cip. Cip itu menyatu dengan bio-arloji di pergelangan tangan mereka, layarnya terus menghitung mundur setiap detik dari sisa hidup yang mereka miliki.

Semua orang bisa melihat angka di arloji saudara kembarku terus berkurang. Begitu juga di arlojiku.

Mereka semua tahu dia akan meninggal tepat di hari ulang tahun kami yang ke-18.

Karena itu, Vivian menjadi putri yang tidak tersentuh di dunia kami yang kejam. Semua gaun bertabur berlian menjadi miliknya. Semua perhiasan paling langka juga menjadi miliknya.

Bahkan sisa rasa kemanusiaan ayahku yang terakhir juga hanya diberikan untuknya. Sedikit kehangatan yang hanya terlihat saat pistol ayahku sudah disarungkan kembali.

Dulu, aku merasa kasihan padanya. Waktunya terus berkurang.

Namun, ya Tuhan ... aku juga iri padanya. Dia punya semua yang tidak pernah kumiliki, kasih sayang orang tua kami.

Lalu, pada malam pesta ulang tahun kami yang ke-18 ....

Orang tuaku khawatir aku akan membuat keributan. Mereka takut aku akan menyinggung bos mafia dari keluarga sekutu kami. Jadi, mereka mengunciku di ruang bawah tanah. Lembap. Dingin. Sementara demam parah membakar seluruh tubuhku.

Aku terus menggedor-gedor pintu kayu ek yang berat itu sampai suaraku serak.

"Mama, tolong! Keluarkan aku! Tubuhku panas sekali. Kepalaku sakit banget ...."

Dari luar, suara ibuku terdengar dingin dan tak tergoyahkan.

"Cukup, Lilian! Hari ini ulang tahun adikmu yang ke-18. Hari terakhirnya hidup! Berhenti cari perhatian! Apa kamu nggak bisa menahan diri demi kehormatan keluarga kita?"

"Tapi aku benar-benar sakit ...."

Suara langkah kakinya makin lama makin menjauh, sampai akhirnya lenyap.

Lalu, kegelapan menelanku sepenuhnya.

Di pergelangan tanganku, bio-arloji itu terus berkedip dan menunjukkan peringatan darurat.

[ PERINGATAN KRITIS: Tanda vital tidak cocok. Data cip yang terhubung tidak kompatibel. Harap verifikasi pengguna. ]

....

Tubuhku terasa ringan. Aku melayang.

Aku menembus pintu kayu ek itu dan masuk ke aula megah yang diterangi cahaya gemerlap lampu kristal.

Sekutu-sekutu berpengaruh. Para bos keluarga rival. Semua mata tertuju pada bio-arloji di pergelangan tangan Vivian yang terus menghitung mundur.

[ Sisa Waktu: 03:15:22 ]

Mereka semua percaya saudara kembarku, Vivian, akan mati sebelum malam ini berakhir.

Ayahku, Marselino, dan Ibuku, Valeria, memeluknya erat. Vivian mengenakan gaun bertabur berlian itu. Ujung gaunnya berkilau di bawah sinar lampu. Dia batuk dua kali. Sengaja dibuat-buat agar terdengar lemah. Wajahnya pucat.

"Mama, Papa, apa Kakak benar-benar nggak apa-apa?"

Suara Vivian terdengar lembut, dengan nada manja yang pas. "Sepertinya aku dengar dia menangis karena sakit kepala .... Ruang bawah tanah itu dingin sekali. Dia bakal baik-baik saja, 'kan?"

"Nggak usah pikirkan dia."

Mama Valeria mengusap wajah Vivian sambil menyibakkan rambut pirang lembut dari dahinya.

"Benar. Dia nggak sakit," tambah Papa Marselino dengan suara kasar. "Dia cuma haus perhatian."

"Waktumu hanya tinggal beberapa jam lagi ...."

Dia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Suaranya tercekat. Matanya memerah.

"Fokus saja sama pesta ulang tahunmu. Jangan biarkan dia merusaknya."

Vivian menggigit bibir dan tidak berkata apa-apa. Kerutan di dahinya justru makin dalam. Aku tahu. Dia sedang berpura-pura lagi. Berlagak jadi saudari yang paling terluka.

Ekspresi itu lagi. Tampak lemah dan menyedihkan, tetapi penuh rasa iba kepadaku. Seolah-olah dia merasa berutang sesuatu padaku.

Seingatku, seluruh kasih sayang keluarga kami memang selalu jadi miliknya. Aku bahkan tidak cukup berharga untuk dilindungi.

Waktu keluarga musuh pernah mencoba menculikku di jalan, Vivian "menghadiahkan" dua pengawalnya untukku. Dia sengaja memamerkan "kemurahan hatinya" kepada semua orang.

Perhiasan dan barang-barang mewah? Lupakan saja.

Namun, Vivian selalu pandai mencari perhatian. Dia akan diam-diam memberikan makanan penutupnya untukku di depan banyak orang. Dia pura-pura menawarkan gaun mahal yang baru sekali dia pakai kepadaku. Saat Papa Marselino marah padaku, dia juga selalu jadi orang pertama yang maju untuk membelaku.

Dia selalu menatapku dengan mata merah berkaca-kaca. "Lilian, aku minta maaf banget. Semua ini gara-gara aku. Kamu sudah terlalu banyak menderita."

Namun, orang tua kami tidak pernah melihatnya seperti itu.

Mama Valeria menghela napas, matanya menatap Vivian dengan penuh rasa iba.

"Nggak usah bela dia terus. Anak itu memang sudah iri padamu sejak kecil. Dia nggak tahan melihat kamu bahagia."

"Kamu ingat ulang tahun kalian yang ke-16?"

Ulang tahun Vivian yang ke-16. Itu pertama dan terakhir kalinya aku mencoba melawan takdir sial ini.

Hari itu hari ulang tahun kami. Namun, aku bahkan tidak pernah diizinkan menyentuh kuenya.

Hari itu, Papa membuat pengecualian dan memberikan hadiah pistol khusus untuk Vivian. Itu adalah simbol yang menunjukkan bahwa dia adalah pewaris sah keluarga kami. Dia juga memesan kue setinggi tiga meter untuknya.

Papa dan Mama memeluk Vivian erat-erat sambil menyalakan lilin untuknya dengan hati-hati.

Sementara itu, aku bersembunyi di balik pilar. Aku melihat cahaya lilin menerangi wajahnya. Aku melihat pistol yang selalu kuimpikan berada di tangannya. Aku melihat dia memejamkan mata untuk mengucapkan harapan dalam hati. Aku melihat air mata mulai menggenang di mata orang tuaku.

Aku langsung berlari keluar.

Mungkin karena iri. Mungkin aku tidak tahan melihat tatapan puas yang dia lemparkan padaku saat dia berada dalam pelukan orang tua kami.

Aku mendorongnya. Pistol berharga itu jatuh ke kolam air mancur di halaman.

Kuenya ikut roboh. Para pelayan langsung bergegas menangkapku.

Aku hanya menjerit. Menjerit seperti binatang yang terpojok.

"Aku nggak mau lihat kalian terus memberikan segalanya untuk dia!"

Aku masih ingat tatapan di mata Papa waktu itu. Dia mengambil cambuk untuk hukuman keluarga. Aku bahkan tidak bergerak.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali ....

Mama hanya berdiri di sana sambil menyaksikan dengan tatapan dingin. Dia tidak menghentikannya. Justru Vivian yang langsung melindungiku dengan tubuhnya yang "rapuh".

"Berhenti, Pa! Berhenti!"

Suaranya gemetar. Dia memelukku dengan erat, tetapi jari-jarinya mencengkeram bahuku kuat-kuat.

"Ini salahku. Semua salahku ...."

Aku mendorongnya menjauh agar dia tidak ikut terkena cambuk. Namun, itu justru membuat Papa makin marah.

Dia sangat kecewa sampai memerintahkan agar aku dikurung di kamar. Tanpa makan malam.

Malam itu, Vivian diam-diam masuk ke kamarku. Topeng penuh perhatiannya sudah hilang. Yang tersisa hanya senyum penuh kemenangan yang kejam di bibirnya.

Dia mendekat, lalu berbisik dengan suara beracun yang hanya ditujukan untukku.

"Oh, Lilian. Aku benar-benar minta maaf."

Jari-jarinya yang dingin menekan bekas cambukan di punggungku yang masih bengkak dan perih.

"Cip itu membaca waktuku. Itu artinya mereka cuma akan menyayangiku. Kamu itu bayanganku, Lilian. Terlahir untuk hidup dan mati di bawah bayang-bayangku."

....

Sekarang, di aula megah itu, Mama kembali mengusap wajah Vivian.

"Lilian .... Abaikan saja dia."

Mama berkata dengan suara lelah, "Kamu tahu anak itu sudah iri padamu sejak dia masih kecil."

Aku tertegun.

Ya, aku memang iri pada Vivian.

Aku iri karena dia mendapatkan seluruh kasih sayang keluarga. Iri karena dia mendapatkan momen-momen langka saat Papa menunjukkan kelembutannya.

Aku iri karena bahkan saat hidupnya tinggal hitungan jam, dia tetap menjadi permata paling berharga di mata orang tua kami.

Aku melayang mendekati Vivian. Aku ingin merobek topeng palsu itu dari wajahnya. Aku ingin mengatakan yang sebenarnya kepada semua orang.

Namun, tanganku menembus tubuhnya begitu saja. Seolah-olah melewati kabut dingin.

Aku terpaku di udara sambil menatap jari-jariku yang tembus pandang.

Aku menoleh kembali ke pintu ruang bawah tanah yang tertutup rapat. Sedikit kegelapan pekat terlihat dari celah bawah pintu.

Aku melayang mendekat, menembus kayu itu. Aku melihat tubuhku sendiri tergeletak meringkuk di lantai batu yang dingin.

Aku sudah mati.

Waktuku habis bahkan sebelum hitungan milik Vivian mencapai angka nol.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Yenita Siregar
Yenita Siregar
Lilian, perjalanan hidupmu sungguh tragis
2026-06-23 10:19:25
2
0
Yenita Siregar
Yenita Siregar
kasih sayang yang sia-sia seharusnya tidak ada perbedaan memperlakukan anak kita walaupun mereka memiliki masa hidup yg berbeda, karena umur hanya Tuhan yang tahu
2026-06-23 09:56:27
2
0
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status