Usai menceritakannya, aku menatapnya dengan cemas, menunggu vonis darinya.Aku merasa diriku seperti selembar kemeja putih yang terkena noda, yang tidak akan pernah bisa dicuci bersih lagi.Jefri tidak berbicara, dia hanya memelukku dan mendengarkan dalam diam.Rasa syok, marah, perih di wajahnya… semuanya bercampur menjadi satu, hingga akhirnya melebur menjadi sebuah helaan napas yang panjang.“Dasar bodoh,” ucapnya sambil menangkup wajahku, lalu dengan lembut mengusap air mataku menggunakan ujung jarinya. “Kok nggak bilang padaku dari awal?”Aku terdiam.Kupikir dia akan menginterogasiku, merasa muak padaku atau bahkan meminta cerai.Namun, aku sama sekali tak menyangka kalau kalimat pertama yang keluar dari mulutnya malah kata-kata itu.“Aku… aku takut kamu menganggapku kotor, menganggapku bukan wanita baik-baik….” ucapku tersedu-sedu.“Sembarangan.” Alis Jefri berkerut. Dia menunduk, lalu mendaratkan kecupan hangat di keningku, “Kamu itu istriku, satu-satunya wanita yang kupilih da
Ler mais