Melihatnya mulai membuka celana, aku begitu terkejut hingga efek mabukku seakan lenyap separuhnya. Aku ingin melarikan diri, namun tubuhku lemas tidak bertenaga. “Paman Edy, kumohon … aku sudah punya pacar, jangan lakukan ini ….”Aku menangis tersedu-sedu sambil memohon padanya. Siapa sangka Paman Edy yang selalu terlihat hangat dan perhatian itu ternyata adalah manusia berhati binatang. Namun tangisanku sama sekali tidak membuat Paman Edy merasa iba. Wajahnya malah menjadi suram, lalu berkata dingin, “Nina, hari ini kita jelasin semuanya dengan jelas. Dari dulu hingga sekarang, dari masih remaja sampai menjadi gadis dewasa, berapa banyak uang yang sudah Paman habiskan untukmu? Biaya hidup, berbagai macam hadiah, apa pernah kurang? Setelah semua kebaikanku, apa kamu sama sekali tidak merasa berterima kasih?”“Paman sudah lajang selama bertahun-tahun hingga sekarang. Jika benar-benar memiliki hati nurani, kamu harus memuaskanku malam ini, mengerti?”Kata-katanya membuatku tercengang.
Read more