Share

Bab 4

Author: Ungu
Rumah Paman Edy berada di daerah kota tua, sebuah rumah lama. Tidak besar, tetapi cukup bersih.

Ketika aku tiba, pintunya terbuka, makanan sudah disiapkan, dan ada sebotol alkohol. Di sofa sebelahnya terdapat sekotak kue.

“Kamu sudah datang!” Paman Edy menyambutku, matanya memindaiku beberapa kali, tatapannya membuat seluruh tubuhku terbakar.

Dia tampak cukup puas dengan pakaianku, pasti terlihat cukup bagus.

“Paman Edy, selamat malam Natal.”

Aku merasa sangat canggung dan refleks menarik sedikit ujung rokku.

Namun rok itu terlalu pendek … ditarik pun tidak banyak membantu, malah membuat siluet bagian intimku semakin terlihat samar. Tatapannya terasa begitu panas, seperti mampu menelanjangiku hanya lewat pandangan.

“Sudahlah, ayo masuk dan duduk. Aku sudah menunggumu selama setengah jam.”

Paman Edy melingkarkan lengannya di bahuku, tangannya yang besar hangat membawa kekuatan yang tidak terbantahkan.

Dia menekanku di kursi dan mencubit bahuku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengerang dan wajahku langsung memerah.

“Persiapan yang mewah ….”

“Ah, tidak perlu terlalu sungkan, itu wajar.”

Paman Edy duduk di sebelahku, tangan kasarnya bertumpu tepat di pahaku. “Ayo, Paman akan menuangkan minum untukmu.”

“Paman, aku tidak bisa minum banyak .…” bisikku.

“Nina sekarang sudah besar, pasti sudah bisa minum alkohol. Paman akan mengajarimu caranya.”

Dia membawa segelas alkohol, menempelkan gelasnya di bibirku, dan perlahan menyuapiku.

Cairan alkohol yang belum sempat kutelan mengalir turun dari sudut bibirku dan perlahan meninggalkan jejak basah dari bibir ke dagu, dan leher hingga ke dada. Lekuk tubuh di depan dadaku tergambar jelas oleh jejak-jejak anggur itu, terlihat tanpa tersisa.

Dia mendekat, lalu dengan tangan dan ujung lidahnya, perlahan menghapus jejak alkohol itu mengikuti lengkungan tubuhku sedikit demi sedikit. Sebagai gantinya, tertinggal bekas merah muda samar di kulitku.

Aku mengeluarkan erangan pelan dan seluruh tubuhku terasa panas saat dia menjilat hingga ke dadaku dan menggigit pelan sisa kain yang masih menempel di tubuhku ….

Efek alkohol bekerja begitu cepat, tidak lama kemudian kepalaku sudah terasa melayang dan pusing.

“Panas, ya? Paman akan membantumu.” Tangannya mulai mengaitkan pakaianku, seolah mencoba meraih ke dalam.

“Jangan ….” Aku tersipu dan meraih tangannya.

“Nina, bukankah gaunmu terlalu ketat?” Dia tiba-tiba menarikku duduk ke pangkuannya. “Nina, Paman tidak punya anak dan seorang bujangan tua. Di dunia ini, orang yang paling dekat denganku adalah dirimu. Hari ini, kamu duduk saja di pangkuanku dan aku akan menyuapimu.”

Tubuhku diselimuti suhu panas yang membara. Seluruh tenagaku seakan hilang, dan aku hanya bisa terkulai lemas di pelukannya sambil sedikit gemetar.

Alkohol perlahan mengaburkan kesadaranku … aku bahkan tidak bisa lagi membedakan apakah rasa panas ini berasal dari pelukannya … atau dari hasratku sendiri.

Sebelum sempat memahami semua ini dengan jelas, hasrat yang meluap itu sudah lebih dulu mengambil alih kesadaranku. Di bawah belaian tangannya yang begitu terampil, kain tipis di bagian bawah tubuhku perlahan mulai basah ….

“Paman Edy, jangan seperti ini ….” Suaraku bergetar seperti ingin menangis. “Aku masih punya janji lain, tidak bisa minum terlalu banyak ….”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tipu Muslihat sang Paman   Bab 10

    Aku mengertakkan gigi, berguling dari ranjang dan memeluk Via yang terisak lalu keluar dengan sempoyongan.Aku berlari tanpa alas kaki dan menggendong anakku sambil menangis.Ketika sampai di persimpangan, terlihat sebuah taksi. Aku berhenti dan menyuruh pengemudinya untuk segera memanggil polisi.Aku pun berjongkok di tangga pinggir jalan sambil memeluk Via, seluruh tubuhku gemetaran.Via menangis di pelukanku, dan aku menepuk punggungnya. Berulang kali berusaha menenangkannya.Sekitar 20 menit kemudian, mobil polisi pun tiba.Ketika mengikutinya kembali, aku melihat kamar itu benar-benar berantakan.Ayah dan ibu mertua tergeletak di tanah, berlumuran darah dan sudah tidak bernyawa.Tangan ayah mertuaku masih berpegangan erat pada lengan Paman Edy, tidak pernah melepaskannya sampai mati.Paman Edy dibawa pergi oleh polisi.Ketika melewatiku, dia melirikku dengan tatapan dingin.Kemudian, terdengar kabar bahwa dia dijatuhi hukuman mati.Percobaan pemerkosaan, ditambah pembunuhan dua ny

  • Tipu Muslihat sang Paman   Bab 9

    “Lepaskan aku!” Aku berjuang mati-matian, menendangkan kakiku dengan liar, dan akhirnya berhasil mendorongnya menjauh.Dia terhuyung sejenak. Setelah berhasil berdiri tegak, dirinya tidak lagi menerjangku, melainkan menoleh menatap Via.“Anak ini sangat cantik.” Dia mengulurkan tangannya untuk menyentuh rambut Via. “Sama seperti ketika kamu masih kecil ….”“Jangan sentuh dia!” Aku berteriak kencang.“Oh, sekarang kamu sudah bisa takut?” Dia menarik kembali tangannya, dan senyumnya semakin menjijikkan. “Jika tidak ingin disentuh, beri aku uang.”Seluruh tubuhku gemetar dan memeluk Via erat-erat. “Aku … aku akan membayarmu kembali. Tunggu di sini, aku akan mengambilnya.”Aku membawa Via ke kamar, membaringkannya di ranjang, dan membujuknya dengan berkata bahwa diriku segera kembali. Kemudian aku berbalik dan mengobrak-abrik lemari lalu menemukan kartu bank di laci terdalam.Aku baru membuka laci tetapi dia sudah masuk ke dalam.“Apa yang kamu lakukan di sini? Keluar!”Dia mengabaikan dan

  • Tipu Muslihat sang Paman   Bab 8

    Dia terlihat jauh lebih tua dari tiga tahun yang lalu, rambutnya setengah memutih dan pakaiannya compang-camping, tampak seperti pengemis.Tidak ada yang menyangka bahwa dia akan berakhir seperti ini.Yang lebih tidak terduga, setelah beberapa tahun berlalu, Paman Edy dapat menemukan tempat ini.“Kamu ….” Aku refleks ingin menutup pintu, tetapi dia sudah memasukkan satu kaki ke dalam, dan tangannya menahan pintu, bersikeras keras untuk masuk.“Nina, lama tidak bertemu.” Dia berdiri di ruang tamu dan melihat sekeliling. “Tempat ini bagus dan sangat lebar. Kamu hidup dengan baik sekarang ….”“Apa yang kamu lakukan di sini?” Suaraku bergetar dan mundur beberapa langkah.Dia tidak menjawab, matanya tertuju pada sofa.Via sedang bermain di sana. Kemudian dia mendongak, dan ketika melihat orang asing dia segera berlari ke arahku dengan ketakutan.“Mama ….” Dia mengulurkan tangan kecilnya ke arahku, suaranya sangat imut.Paman Edy menatap Via dan tatapannya begitu lekat, persis seperti ketika

  • Tipu Muslihat sang Paman   Bab 7

    Ternyata itu adalah Micky.Ketika melihat wajahnya, kakiku melemah, dan segera berlutut.Micky membawaku ke dalam mobil dan membungkusku dengan mantelnya. Aku gemetar di pelukannya dan tidak bisa berbicara.“Ada apa? Apa yang terjadi?” Suaranya bergetar.Aku menangis cukup lama sebelum akhirnya berbicara dengan terbata-bata, “Paman Edy mengundangku makan untuk merayakan ulang tahunku, tetapi dia mengambil kesempatan itu untuk membuatku mabuk dan kemudian … kemudian mengatakan bahwa dirinya ingin merebut kesucianku karena selama bertahun-tahun dia telah menghabiskan banyak uang untukku dan telah menunggu hari ini ….”Setelah mendengar ini, wajah Micky menjadi pucat pasi, dan tinjunya mengepal keras.“Dasar binatang buas!” Dia membanting tinjunya ke setir dan membuat mobil bergetar. “Akan kubunuh orang tua yang tidak tahu malu ini!”“Jangan pergi!” Aku meraih lengannya dengan erat. “Tolong jangan pergi .… Dia sangat kuat dan cukup mabuk. Jika dirinya melakukan hal gila, kamu akan dirugik

  • Tipu Muslihat sang Paman   Bab 6

    Melihatnya mulai membuka celana, aku begitu terkejut hingga efek mabukku seakan lenyap separuhnya. Aku ingin melarikan diri, namun tubuhku lemas tidak bertenaga. “Paman Edy, kumohon … aku sudah punya pacar, jangan lakukan ini ….”Aku menangis tersedu-sedu sambil memohon padanya. Siapa sangka Paman Edy yang selalu terlihat hangat dan perhatian itu ternyata adalah manusia berhati binatang. Namun tangisanku sama sekali tidak membuat Paman Edy merasa iba. Wajahnya malah menjadi suram, lalu berkata dingin, “Nina, hari ini kita jelasin semuanya dengan jelas. Dari dulu hingga sekarang, dari masih remaja sampai menjadi gadis dewasa, berapa banyak uang yang sudah Paman habiskan untukmu? Biaya hidup, berbagai macam hadiah, apa pernah kurang? Setelah semua kebaikanku, apa kamu sama sekali tidak merasa berterima kasih?”“Paman sudah lajang selama bertahun-tahun hingga sekarang. Jika benar-benar memiliki hati nurani, kamu harus memuaskanku malam ini, mengerti?”Kata-katanya membuatku tercengang.

  • Tipu Muslihat sang Paman   Bab 5

    “Janji? Apa Nina sudah punya pacar?”Pria di belakangku menghentikan apa yang dilakukannya, suaranya serak tetapi dingin.“Tidak …” Aku sangat takut hingga tidak bisa berbicara.Pria itu sampai tertawa karena kesal, lalu sentuhannya semakin kuat. Aku diremas hingga hampir kehilangan kendali, air mataku tanpa sadar mengalir keluar. “Kamu tidak patuh. Apa yang pernah Paman katakan padamu? Aku akan mengajarimu segalanya ….”Suaranya perlahan melembut, namun justru terasa berbahaya seperti pertanda badai.“Apa yang sudah kalian lakukan diam-diam?” Dia meremas dadaku dengan satu tangan, sementara yang lain menyentuh bagian basah tubuhku di balik kain. “Apa kamu tidur dengannya?”Di bawah rangsangan ganda itu, aku bahkan tidak sempat berpikir. Aku hanya bisa mengandalkan naluri dan memaksakan jawaban di sela-sela napasku yang terengah. “Tidak! Aku tidak melakukannya!” Aku menggelengkan kepalaku dengan putus asa.“Nina, sudah berapa kali Paman memberitahumu?” Dia meremasku lebih keras, dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status