Semua orang segera mendorong brankarku menuju bandara. Di bandara, kami kebetulan bertemu dengan Chellyn dan Timmy yang hendak berangkat.Joyce berlari menghampiri mereka, lalu mencengkeram lengan Chellyn dan berteriak dengan cemas, "Cepat! Biarkan Zarend naik dulu! Kondisinya sangat kritis. Kalau dia nggak segera pulang ke tanah air, dia akan mati!"Namun, Chellyn menolak tanpa berpikir panjang. "Nggak bisa. Helikopter hanya muat dua orang. Aku harus antar Timmy pulang sekarang. Tempat ini terlalu berbahaya."Nada suaranya tegas, tanpa sedikit pun keraguan.Joyce membentak dengan marah, "Zarend sudah sekarat! Dia suamimu! Masa lebih penting antar Timmy pulang?"Timmy segera memasang ekspresi lemah dan tak berdaya, lalu berkata dengan suara lirih, "Kak Chellyn, nggak apa-apa. Mungkin Kak Zarend cuma cemburu. Temani dia pulang saja. Aku sendirian di sini juga nggak masalah."Chellyn yang tadinya masih ragu sejenak, kembali menguatkan tekadnya setelah mendengar ucapan Timmy."Zarend ngga
Read more