“Bu—bukan begitu.” Sebastian berdeham, berusaha menguasai kembali suaranya yang sempat tercekat. Ia berdiri, merapikan setelan jasnya dengan gerakan formal yang sengaja dibuat kaku untuk mengembalikan jarak.“Bibi Martha sudah melayani Ibu sejak aku masih kecil,” ujar Sebastian dengan nada suara yang diatur sedatar mungkin, meski kilatan panik sempat melintas di matanya. “Dia sudah seperti bagian dari rumah ini. Refleks saja aku tidak ingin ada pelayan yang terluka di depan mataku saat sedang ada tamu, Itu akan terlihat buruk bagi citra keluarga kami, Clarissa.”Sebastian melirik Audrey yang sejak tadi diam, mencoba membaca ekspresi wanita itu, lalu kembali menatap Clarissa dengan tatapan memperingatkan. “Lagi pula, pertanyaanmu tadi cukup mengejutkan. Wajar jika Bibi Martha terkejut hingga menjatuhkan nampan. Jangan memikirkan yang tidak-tidak.”Martha, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, mengangguk cepat sambil menunduk dalam-dalam. “Mohon maaf sebesar-besarnya, Nona Clari
Read more