“Untuk apa kamu bawa-bawa nama orang itu, Ta?” ketik Keyna cepat. “Aku sudah menikah. Suamiku Bara Adhitama. Jangan aneh-aneh.”Ranita membalas, “Lah, aku cuma menyampaikan. Dia juga tidak minta balikan. Cuma mau minta maaf. Katanya sebentar saja. Di Kafe Kamu, tempat kalian jadian dulu. Sudah, aku tidur. Pikir saja. Daripada kamu stres, kasihan bayinya. Mertuamu cerewet begitu, bisa-bisa kamu kontraksi.”Keyna menutup laptop. Dia mengelus perutnya. “Nak... kamu dengar tidak? Tante Ranita jahat, ya? Ngadu-ngadu masalah mama.”Tapi nama Raka terngiang. Raka yang dulu selalu bilang, “Kamu itu ratu, Key. Jangan menunduk.” Berbeda dengan Bara yang sekarang cuma bilang, “Dengar kata Mama.”Berbeda dengan Bu Ratna yang setiap hari bilang, “Keyna, itu kerupuk jangan dimakan! Di drakor, ibu hamil makan kerupuk, tensi langsung naik!”Esoknya, pesan masuk. Nomor tidak dikenal. Foto profil: siluet laki-laki di atas gedung. No Name : Key, ini
Leer más