MasukKeyna muncul dari kamar, sengaja pakai daster tipis, perut 4 bulan sengaja ditonjolkan. Dia duduk di pangkuan Bara, meluk leher Bara manja. “Sudah, Mas... jangan emosi. Kasihan bayinya... denger Papanya marah-marah terus. Gak baik juga untuk kesehatan kita semua kalau marah sama orang seperti itu.”
Bara langsung melunak. Dia mengelus perut Keyna. Tapi matanya tetap ke iPad. “Lihat ini, Key! Perempuan mandul itu sekarang dielukan! Dia dibilang ‘wanita kuat’! Gila! Padahal dia cuma tukan
Entah sudah berapa hari Bara berada di Semarang. Proyek hotel besar itu menyita seluruh waktu dan pikirannya. Telepon ke Keyna hanya sebentar setiap sore, sebelum Bara kembali rapat.“Gimana, Sayang? Mama ngatur kamu tidak? Jaga anak kita ya. Dengar kata Mama. Mama lebih pengalaman.”Kalimat itu diulang setiap hari. Persis. Seperti rekaman. Keyna hafal sampai intonasinya.“Dengar kata Mama.”Bu Ratna sekarang duduk di ruang tengah, memegang remote TV. Drama Korea bersuara kencang dari layar. Bu Ratna menyetel volume tinggi, sambil mengupas kuaci. Matanya sesekali melirik ke arah Keyna yang duduk di sofa. “Keyna, kamu ngapain bengong? Sana ambilin Mama teh. Yang anget. Terus duduk di sini, temenin Mama nonton. Ibu hamil tidak boleh sendirian. Nanti overthinking.”Keyna meremas bantal sofa. Sejak Bara pergi, Bu Ratna makin menjadi. Tidak ada lagi “malaikat”. Yang ada mandor yang hobi nonton drakor. Bangun harus sebelum matahari tinggi. “Ibu hamil itu
Keyna terkejut, lalu segera memasang wajah memelas. “Ma... Mbak Ijah menumpahkan teh ke seprai aku yang baru beli.”“Aku mendengarnya.” Bu Ratna menatap Keyna dengan tajam. “Sejak kapan kamu berbicara seperti itu kepada orang yang lebih tua? Sejak kapan kamu memanggil orang dengan sebutan ‘pembantu’, ‘bodoh’, ‘kotor’?”Keyna menggigit bibir. “Aku... aku kelepasan, Ma. Aku sedang hamil, emosiku tidak stabil...”Keyna berusaha memberikan penjelasan dan tak mau membuat Bu Ratna marah kepadanya.“Hamil bukan alasan untuk berperilaku buruk, Key.” Suara Bu Ratna pelan tetapi tegas."Ma-maaf, Ma." Keyna menunduk. Ia tak berani menatap ke arah Bu Ratna.“Mama mengira kamu anak yang baik. Ternyata di belakang Bara, ucapan kamu menyakitkan. Asisten rumah tangga juga manusia. Mereka bekerja keras agar kamu dapat beristirahat. Kamu menghina mereka seolah mereka tidak berharga?”Keyna hendak menjawab, tetapi Bu Ratna mengangkat tangan.
Kata-kata itu lebih sakit dari tamparan. Keyna mengambil kain pel, dia membersihkan semua muntahan suaminya sambil nangis diam-diam. Di kepalanya terngiang kalimat Azalea kemarin tentang kebiasaan bara yang mabuk dan tukang selingkuh dengan para LC. Keyna awalnya tak percaya dan sekarang malah jadi kenyataan.Satu bulan Bara hidup seperti itu. Ke kantor marah-marah ke staf. Ke rumah diam, main HP, tidur, atau mabuk. Keyna didiamkan. Diajak bicara jawabnya “Hmm” atau “Berisik”.Bu Ratna cuma bisa bilang ke Keyna, “Sabar ya, Nak. Laki-laki kalau stress emang gitu. Nanti kalau proyek datang, dia baik lagi.”Keyna benci kalimat itu. Tapi dia butuh Bara. Butuh uangnya. Butuh statusnya. Jadi dia telan semua kekesalannya. Berharap kalau proyek akan segera datang dan membuat dirinya nyaman kembali.*KRING!Ponsel Bara berdering. Nomor tidak dikenal. Bara malas-malasan saat hendak menjawabnya. “Halo, Adhitama Group.”“Selamat sian
Azalea mencoba tetap tenang. Ia merasa nada bicara orang yang di telepon itu ... mirip Bara sewaktu marah atau mengintimidasi orang. “Maaf, Pak. SOP kami begitu. Karena bahan baku mahal, tenaga banyak. Kalau Bapak tidak berkenan, tidak apa-apa.”“Ya sudah. Batal. Dasar UKM mental kere. Pantes cuma laku di kantin.”Tut.Telepon dimatikan.Azalea lemas. 25 juta. Hilang. Tapi...Arsen langsung rebut ponsel. “Nomor private. Gaya bicara nuntut, ngatain ‘UKM mental kere’, nyindir ‘laku di kantin’. Zel... ini jebakan. Jangan-jangan Bara atau kroninya yang mau menyusahkan kamu.”“Gila sih. Mereka sampai segininya mau nyusahin aku?” Azalea kesal."Ya sudah diamkan saja."Ya sudah, mereka sibuk bekerja lagi saja tanpa peduli dengan telepon tidak jelas. Order fiktif tidak penting.Azalea menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak mau kena scam yang akhirnya malah menghancurkan bisnisnya.*Sejak video CCTV sid
Keyna muncul dari kamar, sengaja pakai daster tipis, perut 4 bulan sengaja ditonjolkan. Dia duduk di pangkuan Bara, meluk leher Bara manja. “Sudah, Mas... jangan emosi. Kasihan bayinya... denger Papanya marah-marah terus. Gak baik juga untuk kesehatan kita semua kalau marah sama orang seperti itu.”Bara langsung melunak. Dia mengelus perut Keyna. Tapi matanya tetap ke iPad. “Lihat ini, Key! Perempuan mandul itu sekarang dielukan! Dia dibilang ‘wanita kuat’! Gila! Padahal dia cuma tukang sambal! Jualan di kantin rumah sakit saja!”Keyna pura-pura sedih, lalu berbisik penuh racun: “Iya, Mas... padahal dia yang salah. Dia yang mandul. Dia yang gak bisa kasih Mas anak. Sekarang dia jualan cerita sedih biar orang kasihan. Biar Mas jatuh. Dia iri, Mas... iri karena Keyna bisa hamil. Iri karena Mas sekarang sayang sama Keyna, bukan sama dia. Dia mau hancurin kita, Mas. Mau bikin anak kita stres. Dia memang buat sambal yang bikin orang sakit perut. Sambal isi sampah!”J
"Iya," jawab Azalea enteng. "Biar Mas bebas nikahi Keyna. Biar sah anak di perutnya. Biar Mas tidak zina. Aku yang urus. Gratis. Sebagai hadiah perpisahan."Bu Ratna melotot. "Kurang ajar! Kamu permalukan anakku! Cerai itu aib!""Aib?" Azalea menoleh ke Bu Ratna. "Yang aib itu selingkuh, Bu. Yang aib itu hamil di luar nikah. Yang aib itu mertua yang nutupin. Cerai karena diselingkuhi itu bukan aib. Itu pembebasan."Dr. Lestari berdeham. "Sudah jelas ya, Pak Bara. Ibu Azalea tidak menerima permintaan maaf Bapak. Dan perihal hukum, RS Kasih Bunda tetap lanjut. Karena yang Bapak serang adalah institusi kami. Silakan Bapak urus dengan legal kami."Bara lemas. Lututnya gemetar. Dia kalah. Di depan Keyna. Di depan ibunya. Di depan perempuan yang dia sebut "mandul".Dia menatap Azalea terakhir kali. Berharap ada sisa cinta. Yang dia lihat hanya kosong. Dan kosong itu lebih menyakitkan dari tamparan."Pak Junaidi," panggil Dr. Lestari. "Bapak ikut s
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







