Dia mengulurkan tangan, menggunakan ujung jarinya untuk menyapu air mata di wajahku dengan sangat lembut."Bodoh." Suaranya terdengar luar biasa lembut, jauh lebih lembut dari yang pernah kudengar sebelumnya. "Aku cuma pergi belikan kamu sarapan."Dia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya, mendekapku dengan sangat erat."Tiara, maaf." Dia berbisik lirih tepat di dekat telingaku.Maaf?Minta maaf untuk apa?Minta maaf karena sudah memperlakukanku seperti itu semalam? Atau minta maaf karena mendadak berhenti di detik-detik terakhir?"Semalam ... Om kehilangan kendali." Dia mengambil jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan untaian kalimatnya, "Om ngaku, Om memang sudah lama simpan perasaan yang nggak semestinya ke kamu. Tapi, Om selalu ingatin diri Om sendiri kalau kamu itu tanggung jawab Om, Om nggak boleh rusak kamu.""Tapi Tiara, kamu terlalu indah, begitu indah sampai ... Om sama sekali nggak sanggup menahan diri Om sendiri.""Semalam Om berhenti, bukan karena Om menyesal, juga bukan
Baca selengkapnya