LOGIN"Jangan gerak! Jangan gerak sembarangan lagi." Di hari ulang tahun ke-20 ini, aku sengaja mengenakan celana dalam tali hitam dengan kain yang sangat minim, lalu berterus terang kepada waliku yang dingin, Garry Adnan, di tepi kolam renang pribadi. Dia membungkusku rapat dengan handuk mandi, sementara di sisi lain dia berganti celana renang dan mengajariku cara mengapung secara langsung di dalam air. Di balik baju renang ketat yang kolot itu tidak ada kawat yang menahan, sehingga di tengah riak air yang bergelombang, dadaku yang padat bergesekan tanpa celah dengan otot perut miliknya yang kokoh. Di tengah kepanikan yang membuat kami saling membelit, aku layaknya gurita yang ketakutan lalu memeluk pinggangnya erat dengan kedua kaki. Terhalang oleh dua lapis kain yang basah kuyup, bagian bawah perutnya yang sangat panas terbangun dengan cepat, lalu menekan kasar di antara pangkal pahaku dan tertanam dalam di sela-sela bagian tubuhku yang paling lembut.
View MoreDia mengulurkan tangan, menggunakan ujung jarinya untuk menyapu air mata di wajahku dengan sangat lembut."Bodoh." Suaranya terdengar luar biasa lembut, jauh lebih lembut dari yang pernah kudengar sebelumnya. "Aku cuma pergi belikan kamu sarapan."Dia merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya, mendekapku dengan sangat erat."Tiara, maaf." Dia berbisik lirih tepat di dekat telingaku.Maaf?Minta maaf untuk apa?Minta maaf karena sudah memperlakukanku seperti itu semalam? Atau minta maaf karena mendadak berhenti di detik-detik terakhir?"Semalam ... Om kehilangan kendali." Dia mengambil jeda sejenak sebelum kembali melanjutkan untaian kalimatnya, "Om ngaku, Om memang sudah lama simpan perasaan yang nggak semestinya ke kamu. Tapi, Om selalu ingatin diri Om sendiri kalau kamu itu tanggung jawab Om, Om nggak boleh rusak kamu.""Tapi Tiara, kamu terlalu indah, begitu indah sampai ... Om sama sekali nggak sanggup menahan diri Om sendiri.""Semalam Om berhenti, bukan karena Om menyesal, juga bukan
Hanya naik turun dadanya yang kencang serta embusan napasnya yang memburu, yang menunjukkan betapa hebat pergolakan batin yang sedang dia lalui saat ini."Om?" Aku memanggilnya lirih dengan nada mencoba memastikan.Dia tidak memberikan sahutan.Waktu kembali berlalu cukup lama.Saking lamanya, sampai aku mengira apa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya.Dia akhirnya bergerak juga.Perlahan-lahan, dia menggeser badannya lalu mundur menjauh dari tubuhku.Setelah itu, dia menarik selimut untuk membungkus rapat tubuh polosku, sekaligus menutupi hatiku yang sedang didera kebimbangan karuan."Tidurlah."Dia meninggalkan satu kata itu, lalu berbalik melangkah keluar dari kamar.Seiring terdengarnya bunyi klik pelan, pintu kamar pun tertutup rapat.Seluruh dunia seketika kembali tenggelam dalam kesunyian pekat.Kini hanya tersisa aku seorang diri, berbaring di atas ranjang besarnya yang empuk, menghirup sisa keharuman tubuhnya, sembari merasakan sisa gairah yang belum sepenuhnya surut dari d
Garry akhirnya menghentikan sepasang tangannya yang sedari tadi berbuat nakal.Dia bertumpu pada kedua tangannya, menegakkan tubuh, lalu menatapku dalam keheningan.Di tengah kegelapan, sepasang manik matanya berkilat terang secara menakjubkan, bagai dua pilar kobaran api yang menyala-nyala.Aku bisa merasakan, binatang buas dalam tubuhnya yang sudah bersiap menerkam itu, sama sekali tidak mereda hanya karena pertahananku yang sudah porak-poranda baru saja, melainkan ... justru makin tidak tenang dan kian lapar.Alat miliknya yang sudah sekeras baja di bawah sana menekan kuat paha dalamku bagai besi panas, terhalang oleh jubah tidur sutra yang tipis.Ukuran dan hawa panasnya yang mencengangkan sukses membuat nyaliku menciut saking takutnya."Tiara ...." Dia membungkuk, menempelkan bibirnya yang membara tepat di dekat telingaku, suaranya membawa jenis nada serak yang sudah ditekan hingga ke batas maksimal. "Sudah cukup?"Aku tidak memberikan jawaban.Bukannya tidak mau, melainkan karena
Dia tidak membawaku kembali ke kamarku, melainkan berjalan lurus menuju ranjang besarnya sendiri.Jantungku rasanya sudah melompat sampai ke tenggorokan.Dia merebahkan tubuhku ke ranjang dengan sangat perlahan, membuat kasur yang empuk langsung membungkusku seketika.Setelah itu, dia membungkuk, menumpu kedua tangannya di sisi kanan dan kiri tubuhku hingga bayangannya mengurungku sepenuhnya.Di tengah kegelapan, aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Aku hanya bisa merasakan embusan napasnya yang panas menyapu wajahku perlahan demi perlahan."Tiara," ucapnya, terdengar rendah dan begitu memikat. "Kasih tahu Om, apa yang kamu mau?"Itu adalah sebuah pertanyaan yang penuh godaan sekaligus berbahaya.Aku menggigit bibir dan memilih tidak menjawab.Apa yang kumau?Aku mau kamu.Sejak hari pertama aku mulai mengenal cinta, aku sudah mau kamu.Tapi, kalimat itu tidak berani kuucapkan.Melihatku yang tetap bungkam, dia tidak lagi mendesak.Dia menundukkan kepala, menggunakan bibirnya untu






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.