Seolah tidak mendengarnya, dia merangkul pinggangku dengan satu tangan, lalu dengan sedikit paksaan, menarik seluruh tubuhku ke dalam pelukannya.Seluruh tubuhku menempel pada dadanya yang kokoh dan panas. Melalui kain jasnya, aku bahkan bisa merasakan detak jantungnya yang tenang dan kuat, detak demi detak, menghantam dadaku yang sama lembutnya."Reva," bisiknya di telingaku, nafasnya yang hangat menyapu daun telingaku, menimbulkan getaran-getaran menggigil yang menggairahkan. "Kamu sudah dewasa, sudah jadi wanita sejati."Tangannya menyusuri pinggangku, perlahan meluncur ke bawah. Telapak tangannya yang panas menyentuh lekuk sempurna di antara pinggang dan pantatku, lalu berhenti di pantatku yang montok, mencubitnya perlahan.Itu bukan sekadar sentuhan biasa, tapi posesif dan seperti sedang menilai. Jari-jarinya terbuka lebar, menguasai satu sisi pantatku yang bulat sepenuhnya, lalu perlahan menutup kembali. Tekanan itu tidak terlalu kuat, tapi membuatku sangat malu hingga jari-jari
Ler mais