"Sekarang, sudah bisa cerita kenapa kamu marah?" Dia meletakkan mangkuknya, menatapku, dan bertanya dengan serius.Aku menatap matanya yang dalam, lalu meluapkan semua rasa kesal yang ada di hatiku."Kamu menganggapku apa? Alat pelampiasan? Kamu sudah punya banyak wanita, kenapa harus mendekatiku?""Kapan aku pernah bilang aku punya banyak wanita?" Dia mengerutkan kening, balik bertanya."Iya, 'kan? Mana mungkin pria sepertimu, yang kaya, berkuasa, dan tampan nggak dikelilingi banyak wanita?" ejekku."Aku akui, banyak wanita yang mendekatiku," katanya terus terang. "Tapi aku nggak pernah menyentuh satu pun dari mereka.""Kamu pikir aku mudah dibohongi?" Aku jelas tidak percaya."Aku nggak punya alasan untuk membohongimu." Dia menatapku dengan tatapan yang sangat tulus. "Reva, sejak pertama aku bertemu denganmu, aku tahu kamu beda dari mereka.""Beda bagaimana?""Mereka mengincar uangku, kekuasaanku, dan statusku. Sedangkan kamu ...." Dia berhenti sejenak, mengulurkan tangan, menyisipka
Read more