Di ruang tamu kontrakan Bu Yanti, Farel yang melihat Riana keluar dari kamar Haris dengan selamat, langsung menyambutnya bak melihat malaikat agung turun dari surga. "Riana! Bos Riana!" panggil Farel heboh, menyeka keringat dingin di dahinya. "Waktu itu di telepon lo janji, kalau gue berhasil nyegah Bos Haris lewat flyover itu, lo bakal bantuin nyelesaiin masalah ketindihan hantu gue, kan?! Lo nggak bohong, kan?!" Riana mengatur napasnya sejenak, mengembalikan wibawa dan ketenangannya. Ia melirik sekilas wajah Farel yang layu dan dipenuhi aura kematian. Mata rusanya sedikit menyipit. "Farel," ucap Riana dengan nada profesional ala dokter spesialis. "Kondisi fisik dan mentalmu ini udah lumayan parah lho. Auramu bocor di mana-mana. Kalau mau diobati sampai tuntas, aku harus narik tarif konsultasi yang nggak murah." Farel yang tidak peduli pada uang sama sekali, buru-buru merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel keluaran terbaru, dan meminta nomor rekening Riana. Dalam hitungan det
Última actualización : 2026-07-24 Leer más