เข้าสู่ระบบRiana, sang jenius metafisika, bertransmigrasi ke dalam novel Aibmu Bakal Terbongkar sebagai putri palsu yang terkenal bodoh di kalangan sosialita Ibu Kota. Agar bisa tetap hidup, Malaikat Maut memberinya dua misi utama: menjadi penyelamat Tuan Muda Haris, pewaris yandere (posesif dan gila) dalam waktu dua tahun, serta mengumpulkan 10.000 poin pahala melalui keahlian meramal, menangkap hantu, dan membongkar rahasia orang. Awalnya, para haters mencibir keras dan menganggap mustahil Riana bisa menaklukkan Haris. Namun, mereka dibuat terkejut saat melihat pewaris kaya raya itu justru setia menemani Riana membuka lapak ramalan di Jembatan Penyeberangan Orang (JPO). Setiap haters yang mencoba menjatuhkannya langsung kena mental oleh ucapan siaga satu Riana. Ketika dituduh dukun palsu, Riana mengungkap bahwa hater itu akan dihantui akibat memakai sambungan rambut orang mati. Saat disumpahi cepat mati, ia meramal hater tersebut akan masuk ke dalam keranda mayat gaib malam itu juga. Bahkan saat diejek lebih pantas bekerja di kelab malam, Riana membongkar fakta bahwa ibu tiri si pengejek adalah mantan pemandu lagu yang diam-diam sedang meracuni keluarganya hingga lumpuh. Semua ramalan Riana terbukti akurat! Ketakutan, para haters kompak berbalik arah menjadi penggemar garis keras. Puncaknya, saat misi Riana selesai dan ia bersiap pergi, para mantan haters ini justru bersatu membantu Haris mengepungnya di bandara. Mereka memohon agar Riana tidak pergi sambil menyodorkan dana crowdfunding seratus miliar, menegaskan bahwa mereka dan Haris tidak bisa hidup tanpanya!
ดูเพิ่มเติม'Krucuk...'
Suara itu terdengar nyaring, memecah keheningan malam yang dingin. Riana menghentikan langkahnya, menunduk menatap perutnya yang berbunyi tanpa bisa diajak kompromi. Tangannya yang mungil dan pucat menggenggam erat gagang koper kecil yang rodanya sudah mulai aus karena diseret sejauh lima kilometer. Angin malam berembus, membuat Riana meringis saat udara dingin menyentuh ujung dahinya yang terluka. Darah kering masih menempel di pelipisnya, kontras dengan kulit wajahnya yang seputih pualam. Gaun sutra mewah yang membalut tubuhnya kini kotor oleh debu jalanan, membuatnya tampak seperti seorang putri kerajaan yang baru saja kehilangan negaranya. Kenyataannya, ia memang baru saja diusir. Malaikat Maut telah memberinya kesempatan kedua untuk hidup, memasukannya ke dalam tubuh putri palsu dari keluarga konglomerat Adhitama di dunia ini. Namanya kebetulan sama: RIANA. Beberapa jam yang lalu, identitas aslinya terbongkar. Putri kandung keluarga Adhitama kembali dengan derai air mata, dan tanpa belas kasihan, Riana yang telah dibesarkan selama dua puluh tahun diusir malam itu juga. Tidak ada uang tunai, ponsel disita, dan kartu debit diblokir. Luka di dahinya adalah hasil dari dorongan kasar "kakak laki-laki" yang selama ini memanjakannya, namun mendadak berubah menjadi monster hanya karena status darah. Namun, Riana yang sekarang bukanlah gadis manja yang akan menangis meratapi nasib. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah pewaris tunggal klan ahli metafisika kuno. Ia mati karena kelelahan menyegel energi jahat. Kini, ia harus bertahan hidup demi dua tugas mutlak dari Malaikat Maut yang terukir di benaknya: 1. Menyelamatkan Tuan Muda Haris, seorang pria yang ditakdirkan menjadi villain terbesar dan menghancurkan dunia, lalu menariknya kembali ke jalan yang benar. 2. Mengumpulkan 10.000 poin pahala melalui keahliannya: membaca wajah, meramal nasib, menangkap roh jahat, dan membongkar kebenaran tersembunyi. Jika gagal, jiwanya akan musnah, mati untuk kedua kalinya tanpa reinkarnasi. Aroma gurih mentega yang dipanaskan, bercampur dengan wangi daun bawang dan daging sapi, tiba-tiba menusuk indra penciuman Riana. Ia mendongak. Sepuluh meter di depannya, sebuah gerobak penjual martabak telur yang diterangi lampu kuning temaram tampak seperti oase di tengah gurun pasir. Riana menelan ludah. Ia berjalan tertatih menghampiri gerobak itu. "Bang," panggil Riana dengan suara serak. "Boleh nggak aku meramal nasib Abang sebagai ganti satu porsi martabak?" Pria penjual itu menoleh. Pria bernama Wahyu itu tertegun sejenak melihat gadis di depannya. Wajah Riana begitu cantik namun menyedihkan. Matanya yang bulat tampak memelas menahan lapar, sangat tidak cocok dengan luka di dahi dan koper usang yang dibawanya. Hati Wahyu tergerak oleh rasa iba. Ia tersenyum ramah dan tulus. "Neng bisa meramal ya? Wah, hebat. Tapi nggak usah diramal, Abang kasih gratis deh buat Neng. Duduk dulu di kursi plastik itu." Riana tersenyum tipis, rasa hangat mengalir di dadanya. "Terima kasih, Bang." Wahyu dengan cekatan menyiapkan adonan. Riana memperhatikan setiap gerakannya. Ia memasukkan irisan daging yang melimpah, daun bawang segar, dan dua butir telur bebek ekstra. Tak butuh waktu lama, satu porsi martabak telur super komplit yang masih mengepulkan asap disajikan di atas piring plastik di hadapan Riana. Tanpa mempedulikan citranya, Riana langsung memakannya. Begitu gigitan pertama menyentuh lidahnya, kebahagiaan yang meluap-luap meledak di dalam mulutnya. Setelah seharian menahan lapar, diusir, dan berjalan tanpa arah, makanan ini terasa seperti hidangan dari surga. Setelah potongan terakhir habis tak bersisa, Riana menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan. Energi spiritual di tubuhnya perlahan mulai pulih karena perutnya sudah terisi. Kini, saatnya ia membayar utang budinya. Ia menatap lekat-lekat wajah Wahyu. Mata Riana sedikit menyipit. Di matanya, wajah Wahyu tidak lagi sekadar wajah biasa, melainkan peta takdir yang terukir jelas. "Bang," Riana membuka suara, nadanya kini berubah menjadi tenang namun berwibawa, sangat berbeda dengan gadis kelaparan beberapa menit lalu. "Dari raut wajah Abang, dahi Abang menyempit di bagian atas, pelipisnya sedikit tidak rata. Itu pertanda Abang lahir dari keluarga yang sangat kurang mampu." Wahyu yang sedang mengelap meja gerobaknya menghentikan gerakannya. "Abang merantau sendirian, garis persaudaraan di wajah Abang tipis, artinya tidak punya sanak saudara yang bisa diandalkan. Garis kasih sayang orang tua juga terputus. Tahun ini umur Abang tepat tiga puluh tiga tahun. Dari titik di bawah mata, terlihat Abang telat menikah. Dan... aura di istana pernikahan menunjukkan Abang baru-baru ini menikahi seorang janda yang baik hati." Wahyu membelalakkan matanya lebar-lebar. Mulutnya sedikit terbuka. *Hebat bener,* batinnya. Gadis kecil ini menebak semuanya dengan akurasi seratus persen, seolah-olah ia sudah membaca buku harian Wahyu! "Dari garis senyum dan rahangmu, meski kamu telat menikah dan menikahi janda, kamu memiliki garis takdir yang damai. Kamu sebenarnya ditakdirkan hidup rukun dan bahagia sampai tua," lanjut Riana. Matanya kini terpaku pada satu titik gelap yang berputar di area pelipis yang melambangkan pasangan. Riana mengerutkan kening. Aura hitam pekat berbentuk seperti tengkorak kecil membayangi area itu. "Sayangnya, area 'istri' di wajahmu tiba-tiba berubah cekung dan diselimuti kabut gelap kematian. Istrimu akan tertimpa musibah besar hari ini. Tepat malam ini. Kalau dia tidak bisa melewati rintangan ini, kalian akan terpisah oleh maut." Wajah Wahyu yang tadinya kagum, seketika berubah kaku. Senyumnya pudar, digantikan oleh raut masam. Logikanya menolak keras. Siapa pun pasti marah kalau istrinya disumpahi mati, apalagi oleh orang asing. "Neng, apa kamu masih lapar? Omongan Neng mulai ngelantur. Abang buatin satu porsi lagi aja ya, jangan ngomong yang aneh-aneh," Wahyu berusaha menahan amarahnya, menganggap gadis ini mungkin agak terganggu kejiwaannya karena kelaparan. Ia tidak percaya hal gaib, ia hanya percaya keringat dan kerja keras. Melihat Wahyu yang keras kepala, Riana tidak menyerah. Ia menyentuh meja gerobak, memusatkan sedikit energi spiritualnya untuk melihat rentetan benang karma yang terikat pada Wahyu. "Bang, dengarkan aku," potong Riana cepat, suaranya tajam seperti pedang yang ditarik dari sarungnya. "Dua tahun lalu di kompleks kontrakanmu pernah ada kasus orang gila yang memperkosa siswi SMA, kan?" Tubuh Wahyu menegang seketika. "Siswi itu akhirnya bunuh diri dengan melompat dari lantai empat gedung. Tapi si pelaku tidak dihukum penjara karena punya surat keterangan gangguan jiwa dari dokter. Dia cuma dimasukkan ke Rumah Sakit Jiwa. Bang, dengar aku baik-baik... dua hari lalu, orang itu kabur dari RSJ, dan sekarang benang karmanya berpotongan dengan istrimu. Dia sedang mengincar istrimu yang kebetulan sedang sakit sendirian di rumah. Sebaiknya Abang pulang sekarang, atau Abang akan menyesal seumur hidup!" Penjelasan Riana begitu mendetail, menyebutkan fakta rahasia yang bahkan belum masuk berita nasional tentang kaburnya pelaku. Mata Riana yang tajam dan tak berkedip menembus pertahanan logika Wahyu. Kepanikan tiba-tiba melanda hati pria itu seperti ombak pasang. Kontrakannya memang berada di permukiman padat penduduk yang kumuh dan gelap. Dua tahun lalu, kasus tragis itu memang benar-benar terjadi tepat dua rumah dari kontrakannya. Istrinya hari ini sedang flu berat dan minta izin untuk istirahat. Wahyu tidak berani bertaruh dengan nyawa wanita yang paling dicintainya. Ia membuang lap mejanya, langsung mengunci kotak uangnya, dan menyambar kunci motor. "Neng, kalau omongan Neng benar, Abang utang nyawa sama Neng!" teriaknya sambil menyalakan mesin motor dan melaju kesetanan menembus jalanan malam. Riana berdiri di sana, menatap kepergian Wahyu. Ia memejamkan matanya, mengaktifkan penglihatan spiritualnya untuk memantau dari jauh. Dalam benaknya, ia bisa melihat pantulan kejadian secara real-time seperti layar proyektor. Ia melihat Wahyu yang tiba di rumah, mendobrak pintu, dan menemukan guling yang dipakaikan rambut palsu di bawah selimut. Ia merasakan kepanikan Wahyu yang berlari ke ujung gang gelap menuju rumah reyot milik si orang gila. Melalui mata batinnya, Riana menyaksikan adegan brutal itu. Istri Wahyu yang terikat dan pakaiannya terkoyak, nyaris dinodai dan dibekap bantal. Lalu, Wahyu datang seperti pahlawan yang murka, menendang pelaku, dan menusukkan belati berkarat tepat ke alat vital si orang gila. Jeritan melengking pelaku bergema di alam spiritual. Namun, takdir memiliki jalannya sendiri. Riana melihat bagaimana roda karma berputar malam ini. Saat polisi tiba dan orang gila itu berteriak bahwa hukum tidak berlaku baginya, seorang wanita berpenampilan acak-acakan muncul dari kegelapan. Ibu dari siswi SMA yang bunuh diri dua tahun lalu. Sang ibu yang juga telah kehilangan akal sehatnya, menusukkan pisau daging menembus jantung pria itu, membalaskan dendam putrinya yang tertunda. Hukum dunia mungkin bisa diakali, tapi hukum karma tidak pernah salah sasaran.Di sebuah kamar rusun sederhana yang jauh dari hiruk-pikuk pusat bisnis Ibu Kota, Riana duduk bersila di atas lantai beralaskan tikar. Aroma dupa herbal yang menenangkan menguar di udara. Di depannya, terdapat kuas kecil dan tinta merah yang ia gunakan untuk menggambar segel-segel perlindungan tingkat tinggi. Gadis berwajah murni itu menghentikan goresan kuasnya sejenak. Ia mengangkat kepalanya, menatap ke arah jendela yang menyuguhkan pemandangan kerlap-kerlip lampu gedung pencakar langit di kejauhan. "Manusia," gumam Riana dengan senyum tipis yang sarat akan ironi, "selalu saja mudah dibutakan oleh nafsu dan ilusi kasih sayang palsu. Mereka lebih suka memeluk iblis berwajah malaikat daripada mendengar kebenaran yang menyakitkan." Mata batin Riana berkedip pelan. Sebagai seorang Master Metafisika tingkat dewa, ia bisa merasakan benang energi spiritual yang terhubung dengan Jimat Pelindung yang baru saja ia berikan kep
Doni membenamkan wajahnya ke leher wanita itu, dan bertanya dengan napas memburu dan nada sangat merendahkan, "Si tua bangka penyakitan itu... dia beneran udah setuju nikah resmi sama kamu?" Ningsih mengelus dada pemuda itu sambil terkekeh genit dan licik. "Tentu aja. Si tolol itu udah sepenuhnya tunduk dan bucin buta sama aku. Jumat minggu depan dia bakal ngajak ngurus surat ke KUA. Habis resmi nikah sebulan dua bulan, aku bakal nyewa pelacur buat dikirim diam-diam ke ranjangnya waktu dia tepar, terus ngejebak dia seolah-olah dia yang selingkuh dan KDRT. Habis itu aku bisa langsung gugat cerai ke pengadilan agama dan nuntut setengah harta gono-gini dari aset ruko sama apartemen ini! Kita bakal kaya raya, Sayang!" Remaja berandal itu mencengkeram dagu si wanita dan mencium bibirnya dengan buas. "Bagus. Dua tahun ini aku bener-bener muak! Harus pura-pura jadi anakmu yang penurut, terus manggil kamu 'Ibu' di depan si bangka itu bikin aku mau muntah. Kal
Riana mengambil ponsel itu. Begitu mata batinnya fokus pada layar digital yang menampilkan wajah pasangan ibu dan anak tersebut, keraguan di benak Riana seketika terjawab. Seringai dingin mengembang di bibirnya. Ternyata begitu faktanya, batin Riana sinis. Pantas saja aku melihat aura malapetaka besar yang mengancam nyawa merayap di seluruh Istana Nasib bapak ini! Ini bukan pernikahan, ini penyembelihan berencana. Di mata batin Riana, wajah Ningsih dan bocah laki-laki di foto itu memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat, beracun, dan licik. Aura hitam itu menjulur layaknya tentakel lintah, melilit erat leher dan dompet Pak Darmawan di dalam foto tersebut. Riana meletakkan ponsel itu kembali ke atas kardus. Ia menatap tajam langsung ke mata Pak Darmawan. "Pak," ucap Riana dengan nada perintah mutlak yang tak bisa diganggu gugat. "Saya sarankan Bapak pulang sekarang, kemasi barang mereka, lalu secepatnya usir dan putu
Di bawah terik matahari siang yang menembus atap polikarbonat JPO Pusat Bisnis di jantung Ibu Kota, Riana duduk dengan postur santai layaknya seorang ratu yang tengah mengamati rakyat jelata. Mata rusanya yang jernih dan tajam menatap pria paruh baya yang kini berdiri ragu di depan lapak kardusnya. Pria itu bernama Pak Darmawan. Dari energi yang menguar di sekitarnya, Riana bisa membaca sekilas profil pria ini: seorang pekerja keras, cerdas, dan menempati posisi strategis. Setidaknya, setingkat pemimpin redaksi di sebuah surat kabar ternama di kota metropolitan ini. Meski tidak memancarkan aura 'Bohir' atau triliuner, guratan nasib di wajah Pak Darmawan menunjukkan bahwa berkat kerja kerasnya dari titik nol, pria ini telah berhasil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan yang sangat solid; memiliki apartemen mewah yang luas dan beberapa unit ruko di kawasan bisnis yang nilainya fantastis.






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.