Darius hanya menatapku, tanpa sedikit pun rasa malu, seolah semua ucapanku nggak mampu sentuh dia.Tiba-tiba aku sadar bahwa berdebat dengan pria ini hanyalah pemborosan waktu yang sia-sia.Aku pejamkan mata, sandarkan kursi, lalu palingkan wajah ke arah jendela, putuskan untuk abaikan dia.Pesawat melaju mulus di atas lapisan awan.Aku pura-pura tidur, mundurkan kursiku, tetapi aku bisa rasakan tatapannya tertuju ke aku.Pandangan itu terasa tajam, susuri sisi wajahku, berhenti lama di dahi, hidung, hingga bibirku.Aku kesal bukan main, tapi tetap nggak buka mata.Setelah waktu yang terasa lama, aku dengar suaranya yang pelan.“Anita.”“Boleh nggak aku tanya?”“Apa kamu putuskan untuk ceraikan aku karena tahu aku kirim pengawal untuk lindungi Angelina?”Aku buka mata dan noleh ke arahnya.“Itu hanya pemicu terakhir.”Setelah semua ini, akhirnya aku bisa katakan itu dengan tenang.“Darius, keinginan untuk ceraikan kamu itu sudah ada sejak lama, sangat lama.”“Anita .…” Suaranya serak.
Read more