Semakin banyak bicara, semakin dia merasa dirinya benar. Dia bahkan menunjuk hidungku sambil memaki,"Livia, bisa nggak sih kamu jangan cari ribut terus? Reyna itu sahabat terbaikku. Dia sudah stres sampai nggak ingin hidup lagi, sementara yang kamu pedulikan cuma gaun pengantin?"Saat itu juga, Reyna yang duduk di sofa langsung menciut ketakutan. Air matanya pun langsung mengalir begitu saja.Dengan takut-takut, dia menarik ujung baju Marvin dan berkata dengan suara bergetar, "Marvin, jangan salahin Kak Livia. Semua ini salahku …. Aku memang nggak pantas hidup .... Seharusnya aku nggak berharap terlalu banyak ...." "Kak Livia, aku lepas sekarang juga … jangan marah, ya. Aku pergi saja sekarang ...."Sambil berkata begitu, dia berpura-pura hendak membuka tali gaun pengantin di punggungnya. Namun, tangannya terus gemetar, membuatnya tampak begitu lemah dan menyedihkan.Merasa sangat kasihan padanya, Marvin langsung menahan tangan Reyna, lalu menoleh dan menatapku dengan garang."Nggak
Baca selengkapnya