Baru setelah kami berdua benar-benar kembali tenang, aku menyadari betapa basahnya tubuhku, dan betapa basahnya tempat tidur itu. Kamar itu gelap, hanya diterangi cahaya redup bulan yang masuk melalui jendela, tetapi bahkan dalam remang-remang itu, aku bisa merasakannya. Darah. Sangat banyak darah, lengket dan hangat di dadaku, juga di kedua tanganku.Asher berguling menjauh dariku, membuatku mengerang pelan.Dia bertanya, "Kamu baik-baik saja? Apa aku melukaimu?""Aku baik-baik saja," jawabku sambil meringis, berusaha menahan rasa pegal dan nyeri tajam yang menyertainya.Dia merebahkan diri di sampingku. Saat aku menoleh menatapnya, aku melihat tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan wajahnya semakin pucat. Lalu aku melihat darah itu lagi dan menyadari darah itu berasal dari lengannya.Saat itulah semuanya tersadar. Selama dia berada di atasku tadi, menciumku, menggenggam rambutku, memegang leherku, mendekapku erat, dia terus menggunakan lengannya yang terluka. Lengan yang tertembak it
Leer más