LOGIN"Kamu memang punya pesona yang mampu memikat para pria ya? Tadi ada banyak wanita telanjang di ruangan ini, tapi begitu kamu melangkah masuk, semua pria langsung kehilangan kendali. Mereka menginginkanmu. Mereka ingin memilikimu." Jarinya menyusuri rahangku, lalu mengangkat daguku perlahan. "Mereka nggak tahu kamu sudah menjadi milikku." Aku menelan ludah dengan susah payah. Napasku tercekat di tenggorokan. Dia menjauh, lalu duduk dengan santai di sebuah kursi. Kancing jasnya dibuka, tubuhnya disandarkan ke belakang, sementara kedua kakinya direnggangkan dengan wibawa seorang raja. Tiba-tiba, suaranya terdengar mematikan. "Mulai sekarang, Ariel Casyadi, kamu adalah milikku. Aku boleh menggunakanmu, memainkanmu, memperlakukanmu sesuka hatiku." Kata-kata itu menghantam hatiku. "Tubuhmu milikku. Pikiranmu milikku. Jiwamu juga milikku." Seringai tipis terukir di bibirnya, sementara mata gelapnya mengunci tatapanku. "Aku memiliki dirimu sepenuhnya."
View MoreAku menyipitkan mata menatap ibuku, terpaku oleh apa yang baru saja dia katakan."Ibu serius?" tanyaku dengan suara tajam karena tidak percaya."Tentu saja," jawabnya dengan nada yang terlalu santai untuk percakapan seperti ini. "Maksud Ibu, dari yang Ibu dengar, pelurunya nggak mengenai bagian tubuh yang vital. Ibu yakin dia akan baik-baik saja. Tapi kalau pelurunya mengenai bagian yang lebih penting ... mungkin sekarang ceritanya sudah berbeda. Kita bahkan nggak perlu lagi mengkhawatirkan dia."Aku menatapnya dengan ngeri. Dia tidak mungkin baru saja mengatakan itu. Dia tidak mungkin benar-benar bermaksud seperti itu."Jadi maksud Ibu ... Ibu sebenarnya berharap peluru itu mengenai jantungnya? Atau kepalanya? Ibu berharap dia mati?" Suaraku bergetar saat mengucapkan kata-kata itu."Nggak, nggak, nggak," katanya buru-buru sambil mengangkat kedua tangannya, seolah-olah bisa menarik kembali ucapannya. "Ibu nggak pernah bilang begitu. Kenapa Ibu harus bilang begitu... Ibu nggak bilang it
Begitu melihatku, mata ibu langsung dipenuhi kekhawatiran."Ariel, gimana keadaanmu?" tanyanya cepat sambil bergegas menghampiriku dan memelukku.Aku mematung. Ini hal yang baru. Aku menatapnya, bingung sekaligus diam-diam merasa hatiku hancur. "Aku baik-baik saja," jawabku pelan. "Memangnya kenapa?""Karena Asher," katanya lembut.Jantungku mulai berdetak lebih cepat, tetapi aku memaksakan raut wajah bingung. Ibuku tidak mengenalku sedalam itu. Dia tidak tahu bahwa aku sudah mengetahui semuanya. Dia menatapku penuh simpati dengan nada bicara yang hati-hati."Kamu belum tahu apa yang terjadi?""Apa yang terjadi?" tanyaku dengan berpura-pura kesal, berusaha terdengar terkejut sekaligus bingung."Oh, Sayang, mungkin kita sebaiknya duduk dulu," katanya sambil meletakkan kantong belanja di dekat pintu. Dia menggenggam tanganku dengan lembut dan menuntunku ke ruang tamu, menyuruhku duduk di sofa sebelum duduk di hadapanku."Sesuatu terjadi pada Asher, Sayang."Dadaku terasa sesak, tetapi ak
"Ariel, dengarkan aku," kata Lucas dengan nada ringan tetapi tulus. "Sungguh, aku sama sekali nggak marah sama kamu. Maksudku, oke, mungkin aku sedikit kesal karena kalian berdua memutuskan melakukannya saat aku ada di kamar sebelah."Aku mengerang pelan. Rasa malu kembali menyelimutiku. Dia tertawa, jelas berusaha mencairkan suasana. Namun, kemudian dia kembali serius."Ariel," katanya sambil menyenggol lenganku pelan. "Dengar, aku justru suka kalau kamu punya keberanian. Kamu berjuang demi pria yang kamu cintai. Aku tahu kamu mencintai Asher. Dan Asher juga mencintaimu.""Sejujurnya, aku malah suka kamu mengancamku. Itu menunjukkan kalau kamu punya keberanian. Suatu hari nanti kamu akan menjadi seorang ratu. Kamu pasti akan membutuhkan sifat itu, 'kan?"Aku berhasil tersenyum tipis, lalu mengangguk."Tapi serius," lanjutnya sambil terkekeh, "Kasihanilah pria malang itu. Dia sedang terluka, demi Tuhan!"Dia kembali tertawa. Meskipun rasa maluku belum hilang, aku ikut tertawa juga. Can
Rasanya aku hampir mati karena malu.Di satu sisi, ada rasa malu karena apa yang baru saja kami lakukan, karena Lucas tahu apa yang telah kulakukan, apa yang telah kami lakukan. Namun di sisi lain, ada nyawa Asher. Nyawa yang telah kutaruh dalam bahaya. Hanya karena aku ingin tidur dengannya. Karena aku ingin hamil.Namun, kalau dia mati ... maka semua ini akan sia-sia.Belum tentu juga aku akan hamil. Ada orang yang mencoba bertahun-tahun untuk hamil tetapi tidak berhasil. Sedangkan aku ... apa yang telah kulakukan? Aku mempertaruhkan nyawanya demi sesuatu yang belum pasti.Air mataku mulai mengalir. Aku bahkan tidak berusaha menghentikannya."Aku nggak ...." Suaraku pecah. "Maafkan aku."Aku menoleh menatap lengan Asher yang sedang kupegang, karena aku tidak sanggup menatap wajah Lucas saat ini.Dia tidak bilang bahwa lukanya parah .... Dia bilang pelurunya hanya menggores dagingnya. Aku tidak tahu ternyata separah ini."Nggak apa-apa," Lucas menyelaku dengan lembut. "Mungkin dia ngg












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews