ログイン"Kamu memang punya pesona yang mampu memikat para pria ya? Tadi ada banyak wanita telanjang di ruangan ini, tapi begitu kamu melangkah masuk, semua pria langsung kehilangan kendali. Mereka menginginkanmu. Mereka ingin memilikimu." Jarinya menyusuri rahangku, lalu mengangkat daguku perlahan. "Mereka nggak tahu kamu sudah menjadi milikku." Aku menelan ludah dengan susah payah. Napasku tercekat di tenggorokan. Dia menjauh, lalu duduk dengan santai di sebuah kursi. Kancing jasnya dibuka, tubuhnya disandarkan ke belakang, sementara kedua kakinya direnggangkan dengan wibawa seorang raja. Tiba-tiba, suaranya terdengar mematikan. "Mulai sekarang, Ariel Casyadi, kamu adalah milikku. Aku boleh menggunakanmu, memainkanmu, memperlakukanmu sesuka hatiku." Kata-kata itu menghantam hatiku. "Tubuhmu milikku. Pikiranmu milikku. Jiwamu juga milikku." Seringai tipis terukir di bibirnya, sementara mata gelapnya mengunci tatapanku. "Aku memiliki dirimu sepenuhnya."
もっと見るSatu jam yang terasa menyiksa kemudian, Lucas akhirnya menelepon."Aku ada di bawah jendelamu," katanya.Entah dari mana dia tahu jendela mana yang jendela kamarku, aku hanya berharap dia benar. Seumur hidup aku belum pernah menyelinap ke luar rumah seperti ini. Saat kubuka sedikit jendelanya dan mengintip ke bawah, perutku langsung terasa melilit.Tinggi sekali. Tinggi yang bisa membuat tulang patah kalau sampai jatuh.Aku sedikit menjulurkan tubuh untuk melihat ke bawah. Benar saja, Lucas ada di sana. Dia berdiri santai di bawah gedung rumahku dengan hoodie hitam, kedua tangan dimasukkan ke saku seolah dia tidak punya urusan lain. Tidak terlihat takut. Tidak gugup. Hanya berdiri tenang.Apa dia tidak khawatir orang tuaku melihatnya? Atau memang dia berbeda dari orang kebanyakan?Aku menatapnya ragu. Dia membalas tatapanku dengan wajah datar. Aku mengambil ponsel dan mengirim pesan.[ Aku: Gimana aku turun? ]Dia membacanya. Mendongak ke arahku. Lalu menggeleng.Aku menunggu balasan,
Begitu kembali ke kamarku, aku mulai mencari jejak Lucas. Apa dia sedang berpesta di suatu tempat? Apa ada yang melihatnya?Dengan sedikit bantuan, berkat hubunganku dengan Asher yang sudah diketahui banyak orang, akhirnya aku mendapatkan lokasi yang benar. Nah, ketemu. Rupanya dia sedang mengadakan pesta di rumah pantai milik ayahnya. Jarak tempat itu sekitar 45 menit jika lalu lintas lancar, atau satu jam kalau sedang padat.Aku memikirkannya. Apa aku harus memesan taksi online dan pergi ke sana?Aku tidak mungkin meminta izin kepada orang tuaku. Aku sudah tahu jawabannya. Mereka pasti tidak akan mengizinkanku. Aku harus menyelinap ke luar.Namun, masalahnya bukan sekadar menyelinap ke luar. Yang sulit adalah mencari kendaraan. Meski begitu, aku memutuskan untuk nekat. Aku menelepon Lucas lagi. Dia tidak mengangkat. Tidak apa-apa, memang sudah kuduga.Aku mengiriminya pesan.[ Kamu di mana? ]Dia tidak membalas. Aku menunggu lima menit sebelum mengirim pesan lagi.[ Aku sedang menuju
"Nggak, dia nggak begitu!" bentakku. Namun, seketika aku menyadari kesalahanku saat melihat tatapan di mata Ayah. "Maaf, Ayah. Tapi Asher nggak mungkin melakukan itu padaku ... dia mencintaiku."Ayah menatapku. Matanya dipenuhi rasa iba dan simpati. Dia mengabaikan luapan emosiku, lalu berkata, "Karena Asher nggak jemput kamu hari ini, bersiaplah. Ayah sudah terlambat. Ayah harus berangkat kerja dan sekalian antar kamu.""Ya," jawabku sambil hendak pergi, tetapi Ayah menggenggam tanganku dan berkata, "Setahuku, Asher ada di rumah. Dia baik-baik saja. Ponselnya juga ada padanya. Kalau kamu sudah berkali-kali menelepon dan dia tetap nggak mengangkatnya, anggap saja ini sebagai pertanda ... bahwa kamu harus merelakannya."Aku mengangguk lesu."Maaf ya," ucapnya sambil mengecup punggung tanganku, lalu diam-diam keluar dari kamarku.Begitu pintu tertutup di belakangnya, semuanya kembali menghantamku. Ternyata tidak terjadi apa-apa pada Asher. Dia baik-baik saja. Dia tidak kenapa-kenapa. Dia
Aku terbangun dengan tubuh tersentak, ponselku masih berada dalam genggaman. Hal pertama yang kulakukan adalah melihat layarnya.Tetap tidak ada panggilan. Tidak ada pesan. Tidak ada apa pun dari Asher.Aku langsung panik. Seharusnya dia sudah menelepon.Sekarang aku benar-benar mulai takut. Kami sama-sama tahu apa pekerjaannya. Memang dia tidak pernah menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya dia lakukan. Namun, kami sama-sama tahu kegiatan seperti apa yang dia jalani setiap hari.Pekerjaan itu sangat berbahaya. Dia bisa saja sudah mati. Bisa saja terluka. Bahkan bisa saja jatuh ke tangan musuh.Singkatnya ... aku benar-benar ketakutan. Aku takut terjadi sesuatu pada Asher. Takut dia tidak baik-baik saja. Karena hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dia tidak pernah menghilang tanpa kabar selama ini.Namun sebelum melakukan apa pun, aku langsung berlari menuju kamar orang tuaku dan mengetuk pintunya.Tidak ada jawaban.Aku membuka pintu. Kamarnya kosong."Jam berapa seka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.