Antara Cinta Dan Benci: Menjadi Tawanan Bos Mafia

Antara Cinta Dan Benci: Menjadi Tawanan Bos Mafia

作家:  JacqueAuthorたった今更新されました
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
評価が足りません
50チャプター
8ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Dark Romance

Drama

POV 1

Mafia

Mandiri

Obsesif

Cinta Bersemi Kembali

Tawanan

"Kamu memang punya pesona yang mampu memikat para pria ya? Tadi ada banyak wanita telanjang di ruangan ini, tapi begitu kamu melangkah masuk, semua pria langsung kehilangan kendali. Mereka menginginkanmu. Mereka ingin memilikimu." Jarinya menyusuri rahangku, lalu mengangkat daguku perlahan. "Mereka nggak tahu kamu sudah menjadi milikku." Aku menelan ludah dengan susah payah. Napasku tercekat di tenggorokan. Dia menjauh, lalu duduk dengan santai di sebuah kursi. Kancing jasnya dibuka, tubuhnya disandarkan ke belakang, sementara kedua kakinya direnggangkan dengan wibawa seorang raja. Tiba-tiba, suaranya terdengar mematikan. "Mulai sekarang, Ariel Casyadi, kamu adalah milikku. Aku boleh menggunakanmu, memainkanmu, memperlakukanmu sesuka hatiku." Kata-kata itu menghantam hatiku. "Tubuhmu milikku. Pikiranmu milikku. Jiwamu juga milikku." Seringai tipis terukir di bibirnya, sementara mata gelapnya mengunci tatapanku. "Aku memiliki dirimu sepenuhnya."

もっと見る

第1話

Bab 1

Hari ini aku terlambat masuk kerja lagi. Punya anak berusia empat tahun memang bukan hal yang mudah.

Pagi ini Leon bangun dalam keadaan sakit. Tubuhnya panas karena demam. Aku tidak mungkin membawanya ke tempat penitipan anak atau meninggalkannya sendirian di rumah, jadi aku terpaksa meminta bantuan tetanggaku, Tracy.

Dia setuju setelah aku berjanji akan membayarnya dari uang tip yang kudapat. Aku menyerahkan sejumlah uang kepadanya, menatap Leon sekali lagi dengan khawatir, mengecup dahinya, lalu bergegas keluar rumah.

Begitu aku melangkah masuk ke restoran, aku langsung tahu ada sesuatu yang berbeda hari ini. Suasana terasa tegang. Ada perasaan tidak nyaman yang tidak bisa kujelaskan. Aku baru saja masuk ke ruang belakang untuk berganti seragam ketika manajer muncul.

"Ke mana saja kamu, Ariel?" bentaknya.

Dia tidak pernah berteriak. Biasanya dia selalu tenang, bahkan saat berada di bawah tekanan. Namun hari ini, dia tampak gelisah, bahkan gugup.

Aku menelan ludah. Aku susah payah mendapatkan pekerjaan ini. Ini bukan restoran biasa, melainkan restoran eksklusif kelas atas, tempat yang hampir mustahil untuk bisa diterima bekerja.

Satu-satunya alasan aku bisa berada di sini adalah karena Damien. Aku tak sengaja bertemu dan menolongnya di jalan suatu hari. Saat dia bertanya apa yang bisa dia lakukan untuk membalas budi, aku meminta pekerjaan.

Aku hanya lulusan SMA. Aku tidak sempat menyelesaikan satu setengah tahun kuliahku dan sudah harus berhenti. Jadi, aku hanya bisa menerima pekerjaan apa pun yang bisa kudapat. Aku sampai punya dua atau tiga pekerjaan hanya demi menghidupi Leon.

Dari hidup bergelimang harta menjadi tidak punya apa-apa. Itulah gambaran hidupku. Karena itu, aku tidak boleh kehilangan pekerjaan ini.

"Cepat sedikit, Ariel. Hari ini penting. Kita nggak boleh melakukan kesalahan," kata Damien dengan nada tajam. "Ke ruanganku sekarang juga."

"Baik, Pak Damien. Aku ke sana sekarang."

"Penampilanmu harus rapi," tambahnya sebelum berbalik dan pergi.

Aku berganti pakaian secepat kilat, merapikan rambut dengan jemariku, lalu memakai riasan secukupnya agar terlihat segar. Setelah itu, aku bergegas menuju ruangannya dengan jantung berdebar kencang.

Saat masuk, kulihat dia sedang berbicara serius dengan dua pria yang belum pernah kulihat sebelumnya. Ekspresi mereka sulit ditebak. Mereka saling mengucapkan beberapa kata terakhir sebelum mengangguk kepada Damien, lalu pergi.

"Tutup pintunya," perintah Damien begitu mereka keluar.

Aku menurut. Dia langsung berbicara tanpa basa-basi, "Aku mau kamu layani ruang VIP di lantai atas."

Alisku langsung berkerut. Sudah cukup lama aku bekerja di sini, tetapi belum pernah sekali pun diizinkan naik ke sana. "Ruang VIP eksklusif itu?"

"Ya," jawabnya singkat. "Jangan banyak tanya lagi. Lakukan saja pekerjaanmu."

Ada yang aneh dari nada bicaranya. Gelisah, tergesa-gesa. "Semua orang kelihatannya tegang hari ini," kataku.

"Itu bukan urusanmu. Aku ingin kamu fokus. Kamu pandai dan sudah cukup lama di sini. Penampilanmu cantik dan kamu juga punya nyali. Tapi dengarkan baik-baik, Ariel." Suaranya merendah. "Begitu masuk ke sana, kamu harus jadi kayak patung, jangan menarik perhatian."

Alisku langsung berkerut.

"Jangan dengarkan apa yang mereka bicarakan. Jangan melakukan kontak mata. Kamu hanya perlu ambil pesanan, sajikan, lalu pergi. Paham?"

Aku kembali menelan ludah. "Baik, aku mengerti."

"Bagus. Gina yang biasanya melayani mereka, tapi dia lagi berhalangan. Jadi sekarang kamu yang menggantikannya." Tatapan Damien tegas. "Semangat, Ariel."

Aku mengangguk, lalu keluar. Setiap langkah menuju ruang VIP membuat rasa gugupku makin menjadi.

Saat pintunya kubuka, napasku langsung tertahan. Ruangan itu penuh. Para pria duduk santai di sofa-sofa mewah, sementara para wanita bersandar di tubuh mereka dan tangan-tangan mereka menjelajah tanpa sungkan.

Ada yang berbicara dengan suara pelan. Ada yang sedang berciuman. Udara dipenuhi sesuatu yang tak bisa kujelaskan, tetapi aku mengenali dunia ini.

Aku pernah menjadi bagian darinya dan aku sudah bersumpah tak akan pernah kembali.

Aku mengingat instruksi Damien. Jangan lihat apa pun. Jangan dengar apa pun. Layani mereka, lalu pergi.

Aku berjalan mengelilingi ruangan, mengumpulkan botol dan gelas kosong, lalu menggantinya dengan yang baru. Aku tidak melakukan kontak mata. Aku tidak berhenti lebih lama dari yang diperlukan.

Namun, aku tahu siapa mereka. Sekilas aku melihat tato dan jas mahal, juga memperhatikan pembawaan mereka. Semuanya menunjukkan dengan jelas bahwa mereka adalah mafia.

Aku mencatat pesanan dengan kepala tertunduk, berpura-pura tidak mendengar bisikan maupun transaksi yang mereka bicarakan dengan suara pelan.

Namun, aku tiba-tiba merasakan sesuatu. Seseorang meremas bokongku. Refleksku mengambil alih. Tanpa berpikir, aku langsung menepis tangan itu.

Gelak tawa pun pecah. Aku tetap memasang wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa. Semua pesanan sudah kuambil, jadi aku berbalik hendak pergi. Namun, sebelum sempat melangkah, seseorang mencengkeram pergelangan tanganku.

"Mau lari ke mana, Cantik?" bisiknya dengan suara rendah penuh godaan. "Nggak mau bersenang-senang dulu?"

Aku tidak menatapnya. Suaraku tetap datar. "Aku akan mengambil pesanan Anda."

Aku mencoba melepaskan diri, tetapi cengkeramannya justru makin erat.

Pria itu mengeluarkan setumpuk uang tunai, mengambil beberapa lembar, lalu melemparkannya ke dadaku.

"Uang sebanyak ini bisa menghidupimu selama setahun," katanya sambil menyeringai. "Jadi gimana? Kita ke kamar mandi saja dan selesaikan semuanya dengan cepat?"

Perutku terasa mual, tetapi aku memaksa wajahku tetap tanpa ekspresi. Aku butuh pekerjaan ini. Aku hanya harus bertahan selama beberapa jam.

"Terima kasih, tapi aku sedang bekerja," jawabku setenang mungkin.

Pria lain meraih lenganku dan berusaha menarikku duduk di pangkuannya. Aku melawan sekuat tenaga, sementara detak jantungku melonjak. Tawa mereka memenuhi telingaku. Mereka menikmati penghinaan yang sedang kualami.

Tiba-tiba ....

"Berhenti!" Seseorang membelah keributan dengan suara yang dalam, penuh wibawa, dan tegas.

Seluruh ruangan langsung terdiam. Tawa pun lenyap seketika.

Untuk pertama kalinya, aku mengangkat pandangan. Tatapanku tertuju pada pria yang duduk di ujung meja.

Ya Tuhan. Aku membeku. Tak pernah sekali pun terlintas di benakku bahwa masa laluku akan kembali mengejarku, bahwa aku akan bertemu dengannya lagi. Secepat ini. Di tempat seperti ini.

Namun, dia benar-benar ada di sini. Aku berdiri terpaku. Pikiranku kosong. Aku tidak tahu harus berbuat atau berkata apa.

Pria yang masih mencengkeram pergelangan tanganku terkekeh, sama sekali tidak menyadari gejolak dalam diriku.

"Ada apa, Bos? Aku cuma senang-senang sedikit. Aku nggak memaksanya. Dia juga mau."

Pria lain ikut menyela dengan nada mengejek, "Ya, memangnya kenapa? Dia salah satu pacarmu atau gimana?"

Aku tersentak mendengar kata itu. Kemudian ....

"Ya, benar," kata pria itu dengan suara tenang dan dingin. "Dia memang milikku."

Napasku tercekat. Aku masih terpaku karena syok, tetapi dia belum selesai. Dia membungkukkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap lurus ke mataku.

"Dia adalah mainan kecilku," lanjutnya. "Aku nggak suka orang lain bermain dengan mainanku."

Cengkeraman di pergelangan tanganku langsung terlepas. Pria itu mundur dengan tangan terangkat. Wajahnya memucat.

"A ... Aku minta maaf, Bos. Maaf. Hal seperti ini nggak akan terjadi lagi. Aku nggak tahu ...."

Bos? Jantungku berdetak begitu keras hingga seolah menghantam tulang rusukku. Dia ... bos di sini?

Detak jantungku bergemuruh di telinga. Bagaimana bisa? Apa yang terjadi pada ayahnya? Bagaimana dia bisa menjadi bos mafia?

Sebuah tawa pelan memotong pikiranku yang kacau.

"Istrimu yang cantik itu pasti bakal marah."

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

コメントはありません
50 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status