Keesokan harinya, jarum jam di dinding lorong rumah sakit bergerak lambat. Operasi darurat Arsen berlangsung selama empat jam yang menegangkan, terasa seperti prosesi hukuman mati bagiku. Aku duduk sendirian di bangsal tunggu yang dingin, meremas jemariku hingga memutih. Pikiranku terus melayang pada kemungkinan terburuk. Hingga akhirnya, lampu merah di atas pintu ruang operasi padam. Pintu ganda terbuka, memunculkan sosok dokter spesialis senior yang dijanjikan oleh Devan. Begitu beliau melepas masker medisnya dan menyatakan dengan senyuman tipis bahwa operasi Arsen sukses besar, seluruh pertahananku runtuh. Aku langsung terduduk lemas, menutup wajahku, dan menangis sejadi-jadinya. Itu adalah tangis haru dan lega yang memuntahkan seluruh beban raksasa yang menyumbat di dadaku selama berminggu-minggu. Adik kecilku selamat melewati masa kritis yang paling mematikan. 'Gue bener-bener bersyukur kepada Tuhan. Nggak peduli seberapa berat 150 hari ke depan bersama Devan, gue b
Last Updated : 2026-07-05 Read more