LOGINDemi biaya operasi darurat adiknya, Aletta terpaksa menjual kebebasannya selama 150 hari kepada Devan Raditya—seorang miliarder playboy paling arogan dan red flag di Jakarta. Aturan kontrak mereka sangat sederhana: dilarang melibatkan perasaan, dilarang ikut campur urusan pribadi, dan Aletta harus siap menjadi tameng Devan untuk menghindari perjodohan keluarga. Namun, sandiwara yang semula mereka kira mudah, berubah menjadi neraka yang sesungguhnya. Mantan tunangan Devan yang manipulatif, Selena Radenka, mulai melancarkan teror kejam untuk menyingkirkan Aletta. Di tengah badai tersebut, Devan yang semula dingin justru berubah menjadi sangat protektif dan posesif, membuat batasan kontrak di antara mereka perlahan-lahan mulai kabur. Keadaan semakin rumit ketika sebuah rahasia besar dari masa lalu terbongkar. Kasus kebangkrutan tragis yang menewaskan ayah Aletta lima tahun lalu ternyata didalangi oleh keluarga Selena—dan Devan telah mengetahuinya sejak awal. Di saat Aletta mulai goyah antara dendam dan rasa cintanya pada Devan, sebuah teror misterius dari seorang penguntit posesif tiba-tiba muncul di ponselnya, mengirimkan peringatan berdarah: "Jauhi Devan Raditya. Kamu hanya milikku." Siapakah pria misterius tersebut? Dan mampukah Aletta bertahan di samping sang miliarder saat kontrak mereka berubah menjadi pertaruhan nyawa?
View More"Hei, Pelayan! Bawa anggur ini ke meja nomor empat!"
Suara melengking berfrekuensi tinggi itu seketika memecah sisa-sisa fokus yang kupertahankan mati-matian. Aku, Aletta, hanya bisa menghela napas lelah yang tertahan di kerongkongan. Seragam pelayan hotel bintang lima ini terasa begitu mencekik leherku. Kain satin murah ini bergesek kasar pada kulitku yang mulai berkeringat dingin karena kelelahan yang ekstrem. Malam ini, sebuah pesta kaum jetset sedang berlangsung di ballroom utama salah satu hotel termewah di pusat Jakarta. Ini adalah tempat di mana orang-orang kaya membuang uang mereka seolah itu hanyalah potongan kertas tanpa harga. Mereka tertawa, berdansa, di atas penderitaan orang-orang kecil sepertiku yang merangkak di bawah kaki mereka. Aku benci berada di sini. Aku benci setiap jengkal atmosfer yang dipenuhi aroma parfum mahal yang memuakkan ini. Namun, aku tidak ada pilihan lain. Aku sangat butuh uang ini. Ego dan harga diriku sudah lama kukubur dalam-dalam demi selembar rupiah. Biaya cuci darah adikku di rumah sakit sudah menunggak selama dua minggu. Jika besok pagi aku tidak menyetor uang sebesar sepuluh juta rupiah ke bagian administrasi, mereka mengancam akan menghentikan seluruh perawatan intensifnya. Membayangkan tubuh ringkih adikku tanpa bantuan mesin itu membuat dadaku dihantam rasa sesak yang luar biasa. Ketakutan akan kehilangan satu-satunya keluarga yang kupunya mencengkeram jantungku hingga rasanya aku hampir tidak bisa bernapas. Dengan tangan yang gemetar, aku membawa nampan perak itu dengan bertenggernya sebuah botol wine merah berumur puluhan tahun yang harganya setara dengan biaya hidupku selama satu tahun penuh. Langkahku lambat, berhati-hati meraba lantai marmer yang licin. Braakk! "Aw!" Baru saja aku berbalik dari konter bar, sebuah hantaman keras di bahu kananku meruntuhkan seluruh pertahananku. Keseimbangan tubuhku goyah seketika. Gravitasi seolah menarikku jatuh ke dasar jurang. Nampan di tanganku melayang bebas di udara. Suara pecahan kaca yang nyaring terdengar memekakkan telinga, disusul oleh sebuah jeritan histeris seorang wanita yang mengguncang seisi ruangan. Waktu seolah melambat. Cairan merah pekat sewarna darah itu mengalir deras, memercik liar, dan mengotori gaun malam sutra putih salju milik seorang wanita anggun yang berdiri tepat di depanku. Gaun yang semula tampak begitu suci tanpa noda, kini tampak mengerikan seperti medan pembantaian. "Gaun limited edition gue! Kurang ajar! Lo punya mata nggak, sih?!" Wanita itu berteriak murka. Wajah cantiknya yang semula dipenuhi riasan sempurna kini berubah menjadi sangat mengerikan karena amarah yang meluap-luap. Jantungku melompat ke tenggorokan. Rasa panik yang luar biasa seketika melumpuhkan logikaku. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berlutut di lantai yang dingin. Rasa dingin marmer itu menembus kulit lututku, mengirimkan sensasi ngilu yang menjalar hingga ke tulang. Aku mengabaikan serpihan pecahan kaca tajam yang langsung menggores telapak tanganku saat aku mencoba bertumpu. Rasa perih merayap, disusul cairan hangat berbau besi yang mulai merembes dari kulitku, namun rasa takut di dalam dadaku jauh lebih mengintimidasi daripada rasa sakit fisik ini. "Maaf, Nona. Saya benar-benar tidak sengaja. Saya mohon maaf..." ucapku berulang kali dengan suara yang bergetar hebat. Aku menundukkan kepala sedalam mungkin, menatap darahku sendiri yang bercampur dengan tumpahan wine di atas lantai. "Maaf? Lo tahu berapa harga gaun ini?! Lima puluh juta rupiah! Gaji pelayan miskin kaya lo setahun pun nggak akan pernah cukup untuk menggantinya!" bentaknya kasar, suaranya menggelegar ke setiap sudut ballroom. Keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan. Musik klasik yang mengalun seolah meredup, digantikan oleh ratusan pasang mata kaum borjuis yang kini tertuju padaku. Mereka menatapku dengan pandangan menghina, memandangku rendah seolah aku adalah seonggok sampah yang mengotori pemandangan indah malam mereka. Bisik-bisik mencemooh mulai terdengar, berputar-putar di kepalaku bagai lalat yang mengganggu. Aku menelan ludah yang terasa sangat pahit. Lima puluh juta? Kalimat itu menghantam kepalaku bagai godam yang tak kasat mata. Dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam semalam? Jangankan lima puluh juta untuk mengganti sebuah gaun, uang sepuluh juta untuk menyambung nyawa adikku saja aku belum tahu harus mengemis ke mana. Air mata keputusasaan yang sejak tadi kutahan kini mulai menggenang di pelupuk mataku, siap runtuh bersama hancurnya harga diriku. Aku merasa begitu kecil, begitu tidak berdaya di tengah-tengah lautan manusia yang memandang nyawa sepertiku tidak lebih berharga daripada debu. "Ada apa ini, Selena? Kenapa berisik banget?" Sebuah suara bariton yang berat, dalam, dan terdengar malas memecah kerumunan dari arah belakang. Suara itu memiliki getaran magnetis yang sanggup menghentikan napas siapa saja yang mendengarnya.Ruangan VIP nomor 302 yang semula terasa hangat dan menenangkan itu mendadak berubah menjadi sedingin es kutub. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh suster tersebut terasa seperti hantaman palu godam raksasa yang seketika menghancurkan seluruh sisa rasa lega di dalam dadaku. Aku berdiri mematung di samping ranjang, menatap suster itu dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa tidak percaya, sementara sekujur tubuhku mulai gemetar hebat menahan gelombang kepanikan. Selena Radenka. Nama cewek ular itu langsung berteriak kencang dengan dengungan yang memekakkan di dalam isi kepalaku. Dia benar-benar gila. Dia bahkan tidak sudi menunggu sampai batas waktu tiga hari yang dia berikan sendiri semalam berakhir. Cewek itu langsung menggunakan kekuasaan dan tumpukan saham keluarganya malam ini juga untuk menendang adikku yang baru saja selesai melewati operasi besar. Jiwaku menjerit terluka, meratapi betapa murahnya harga nyawa orang miskin di mata penguasa kota. "P-pindah ke bangsal umum, Suste
Acara peluncuran proyek bisnis berskala raksasa itu akhirnya selesai setelah dua jam yang terasa seperti dua abad bagiku. Begitu kami kembali ke dalam kabin mobil mewah Rolls-Royce milik Devan, seluruh pertahanan tubuhku runtuh seketika. Aku langsung menyandarkan kepala ke kaca jendela yang dingin, memejamkan mata yang lelah akibat kilatan lampu kamera wartawan yang brutal tadi. Di dalam kegelapan benakku, bayangan Selena Radenka yang menunjuk jam tangannya dari atas balkon terus berputar-putar tanpa henti bagai lingkaran setan. Waktu tiga hari yang tersisa dari ancaman mautnya. 'Gue bener-bener nggak tahu harus gimana lagi menghadapi situasi gila ini. Di satu sisi, Devan baru aja pasang badan di depan kejaran media demi ngelindungin harga diri gue. Di sisi lain, Selena punya kuasa mutlak yang mengerikan buat ngehancurin masa depan dan menyabotase kesembuhan Arsen di rumah sakit itu. Jiwa gue rasanya robek, tercabik oleh ketakutan yang kian mengganas di dalam dada.' Batin kecil
Pintu mobil mewah itu dibuka dari luar oleh petugas keamanan berbadan tegap. Begitu telapak kaki yang terbalut sepatu mahal ini menyentuh lantai lobi gedung, kilatan lampu kilat dari puluhan kamera langsung menyambar brutal tanpa henti dari segala arah. Cahayanya yang putih menyengat sangat menyilaukan, membuat mataku terasa perih dan pandanganku kabur sesaat. "Mbak Aletta! Benarkah Anda memanfaatkan posisi sebagai staf hotel untuk menjebak Devan Raditya?!" teriak seorang wartawan pria bertubuh gempal dari sisi kanan, menyodorkan mikrofon dengan agresif. "Bagaimana tanggapan Anda tentang perbedaan status sosial kalian yang seperti langit dan bumi?!" tanya wartawan lain dengan nada merendahkan, sambil merangsek maju menyodorkan alat perekam suara ke arah wajahku yang mulai memucat. "Apakah hubungan ini cuma rekayasa kontrak untuk menaikkan pamor bisnis semata?!" cecar suara melengking lain dari arah belakang yang semakin mendesak maju. Rentetan pertanyaan kejam itu terus m
Jantungku berdegup kencang, berpacu liar menggedor rongga dada hingga rasanya mau copot. Haruskah aku jujur sekarang? Haruskah aku memberi tahu dia soal Selena yang mendatangiku di koridor, melempar map, dan membawa semua berkas hitam masa lalu keluargaku? Tapi kalau aku jujur, bagaimana kalau Devan justru menganggapku sebagai beban masa lalu yang merepotkan reputasinya? Bagaimana kalau dia memilih mematikan kontrak ini secara sepihak dan membuangku kembali ke jalanan? Kalau kontrak ini batal, dari mana aku bisa membiayai perawatan intensif Arsen selanjutnya? Aku mengepalkan tangan erat-erat di bawah meja, merasakan kuku-kukuku menusuk telapak tangan yang terluka. Aku harus menguatkan hati untuk memendam rahasia berdarah ini sendirian. Aku tidak boleh terlihat rapuh. "Nggak ada apa-apa, Tuan Devan. Gue cuma... cuma masih syok aja karena kejadian mengejutkan semalam," jawabku pelan. Aku memaksa mataku menatap lurus ke dalam manik mata elangnya yang kelam, mencoba me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.