“Asalkan kamu nggak membuat masalah, kamu akan selalu menjadi satu-satunya istriku. Anak kita juga akan tetap menjadi satu-satunya pewaris Keluarga Sanjaya.”Ucapan Nathan membuat nyeri di perutku yang baru saja mereda kembali menyerang, menusuk tanpa henti.Aku menatap wajahnya.Wajahnya masih setampan dulu.Namun, aku sudah tak lagi bisa menemukan sedikit pun bayangan pemuda polos yang pernah kuingat.Nathan telah berubah.Atau mungkin…Sejak awal, akulah yang tak pernah benar-benar mengenalnya.Setelah mengatakannya, dia meletakkan apel yang tadi dikupasnya, lalu berbalik pergi.Sore harinya, dokter menyatakan aku sudah diperbolehkan pulang.Nathan sebenarnya berniat mengantarku.Namun, baru saja dia hendak keluar, seorang perawat datang memberi tahu bahwa Bianca sudah sadar.Tangannya yang sedang meraih pakaianku mendadak terhenti.Dia mengusap dahinya, lalu menatapku dengan sedikit rasa bersalah.“Felicia, Bianca sendirian di sini. Nggak ada keluarga yang menemaninya. Untuk sement
Read more