LOGINSetelah mengetahui Nathan Sanjaya berselingkuh, aku memberinya tiga kesempatan. Kesempatan pertama, aku mengeluarkan surat cinta yang pernah dia berikan kepadaku saat kami berusia delapan belas tahun. Saat itu, Nathan masih begitu polos. Tangannya bahkan gemetar ketika menyodorkan surat itu kepadaku. Dia menerima kembali surat cinta itu dengan wajah penuh penyesalan. Lalu, tepat di depan mataku, dia menghapus kontak Whatsapp Bianca Haris. Kesempatan kedua, aku membuka video pernikahan kami yang tersimpan di galeri ponsel. Di dalam rekaman itu, Nathan yang telah meraih kesuksesan dan berada di puncak kariernya datang menjemputku untuk menikah. Dia menatap video itu dalam diam untuk waktu yang lama. Setelahnya, dia menyuruh sekuriti mengusir Bianca yang datang meminjam uang. Namun malam itu… Dia justru mabuk hingga tak sadarkan diri. Kesempatan ketiga... Adalah hari ini. Di depan ruang rawat Bianca, aku memberikan hasil pemeriksaan kehamilanku kepada Nathan. Dia hanya menyalakan sebatang rokok. Asapnya membuatku terbatuk-batuk. Namun, pandangannya tak pernah sekalipun berpaling dari Bianca yang terbaring di dalam ruang rawat. Jawabannya… Sudah sangat jelas. Tak perlu lagi diucapkan. Saat itulah aku benar-benar mengerti. Hubungan kami... Tak lagi memiliki hari esok.
View MoreKeesokan paginya.Saat terbangun, pinggang dan punggungku terasa pegal.Namun, Aska masih ingin menggulanginya lagi.Aku pun langsung menendangnya hingga menjauh.Dengan wajah penuh kecewa, dia tetap menyiapkan sarapan untukku.Aku menerima lamaran Aska yang telah dirancangnya dengan begitu romantis di atas balon udara.Tiga bulan setelah lamaran itu, kami pulang ke tanah air bersama.Aku pun bersiap mengajukan gugatan cerai secara resmi.Pada hari gugatan itu didaftarkan, aku kembali bertemu dengan Nathan.Tiga bulan telah berlalu.Wajah Nathan kembali muncul di hadapanku.Tanpa sadar, rasa muak terpancar di wajahku.Saat melihatku, mata Nathan langsung berbinar.Namun kebahagiaan itu segera berubah menjadi kehati-hatian.“Felicia… selama ini kamu ke mana? Aku sangat merindukanmu!”Melihatku hanya terdiam, nada bicaranya semakin hati-hati.“Felicia, maafkan aku. Aku mengaku salah. Aku sudah melihat sifat asli Bianca. Dia memang wanita jalang! Dia juga sudah menerima balasan yang setim
Nathan merasa dunianya seketika runtuh.Felicia benar-benar telah meninggalkannya.Rasa panik yang begitu besar seketika menyelimutinya.Selama ini, Felicia tak pernah menghilang dari hidupnya setegas ini.Dunia begitu luas.Felicia bisa pergi ke mana saja yang dia inginkan.Lalu… bagaimana mungkin Nathan bisa menemukannya?Air mata mengalir dalam diam.Nathan tak lagi mampu mengendalikan diri.Berkali-kali dia menampar wajahnya sendiri.Hingga akhirnya dokter dan perawat datang menghentikannya.Dengan langkah gontai dan hati yang hampa, dia berjalan menuju ruang rawat Bianca.Namun, sesampainya di sana, dia memergoki Bianca sedang berbicara dengan seorang dokter.Untuk pertama kalinya, Nathan tak mengetuk pintu.Dia terlihat berdiri di depan pintu, diam-diam mendengarkan percakapan mereka.“Kapan Bu Bianca transfer uang yang Ibu janjikan? Nggak gampang buat kami melakukan semua ini. Memalsukan rekam medis juga ada risikonya.”Bianca tampak kesal.“Aku tahu. Aku sudah mengusir wanita j
Saat menggendong Bianca yang berlumuran darah menuju rumah sakit, Nathan terus diliputi kegelisahan.Di benaknya, wajah Felicia yang dipenuhi keputusasaan terus terbayang.Tiba-tiba, hatinya terasa sakit.Tanpa sadar, dia bertanya pada dirinya sendiri.Mungkinkah kali ini dia benar-benar sudah keterlaluan?Mungkin Felicia hanya kehilangan kendali untuk sesaat.Lagi pula, bukankah nyawa Bianca sekarang sudah tak lagi dalam bahaya?Mungkin juga karena sedang hamil, emosi Felicia menjadi tidak stabil.Kenapa dirinya tak bisa sedikit saja memakluminya?Tak lama, dokter memberi tahu bahwa Bianca sudah sadar.Namun, pikirannya justru dipenuhi oleh Felicia.Felicia yang dulu selalu tersenyum manis kepadanya.Entah sejak kapan...Senyum itu menghilang.Apa sejak perselingkuhan pertamanya?Atau sejak yang kedua?Bahkan dia sendiri sudah tak mampu mengingatnya lagi.Tubuh Bianca dibalut perban.Dia menatap Nathan dengan mata yang berkaca-kaca.“Pak Nathan, jangan salahkan Bu Feli. Semua ini sala
Detik berikutnya, pintu justru terbuka dari dalam.Bianca mengenakan piyamaku.Saat melihatku menatap panel kunci pintu, dia menjulurkan lidah sambil tersenyum malu.“Bu Feli, Pak Nathan sudah mengganti kata sandinya. Aku belum sempat memberitahumu.”“Aku memang pelupa. Aku nggak bisa ingat tanggal anniversary kalian, jadi Pak Nathan menggantinya dengan tanggal ulang tahunku.”Aku menatap Nathan.Namun, dia justru menghindari tatapanku.“Aku membawa Bianca ke sini untuk dirawat sementara waktu. Jangan berpikir macam-macam.”Aku mengangguk tenang.Memang sudah tak ada lagi yang perlu kupikirkan.Bianca dengan antusias meraih tanganku.“Bu Feli, sore tadi aku sama Pak Nathan pergi beli banyak sekali perlengkapan bayi.”Sambil berbicara, dia menggandeng tanganku, juga menggandeng Nathan.Kami bertiga berjalan menuju kamar tamu.Ruangan itu kini dipenuhi ranjang bayi, kereta dorong dan berbagai mainan.Bianca menjelaskan semuanya satu per satu, seolah-olah bayi itu anaknya sendiri.Nathan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.