Aroma amis darah segar melayang tipis di udara kliring Puncak Belakang, tersapu oleh hembusan angin malam yang dingin. Empat mayat pembantai suruhan Tetua Lucius terbaring kaku di atas tanah berdebu, namun Saka sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada para pecundang tersebut. Bagi seorang mantan pakar yang telah melintasi ribuan pertempuran darah di kehidupan masa lalu, kematian empat pembunuh tingkat rendah tak lebih dari debu yang tersapu angin. Saka mengibaskan lengan jubah abu-abunya, menyulut seberkas api Qi murni dari ujung jarinya untuk membakar habis keempat mayat tersebut hingga menjadi abu tanpa menyisakan jejak sedikit pun. Setelah kliring tua itu kembali bersih dan sunyi, Saka berjalan perlahan menuju pondok kayunya yang terisolasi di balik rerimbunan pohon bambu. Di dalam pondok kayu yang sederhana, Saka duduk bersila di atas alas jerami yang dingin. Dia memejamkan mata sejenak, menenangkan denyut nadi serta mengatur irama napasnya hingga mencapai kondisi kehen
Última actualización : 2026-08-11 Leer más