Se connecter"Di sekte ini, yang lemah adalah sampah. Tapi mereka tidak tahu, sampah inilah yang memegang kunci kematian tetua agung mereka." Saka hanyalah seorang pemuda pembersih gua tanpa bakat di Sekte Awan Biru, yang saban hari dihina dan ditindas. Namun, sebuah insiden berdarah di Gua Terlarang mengubah segalanya. Saka secara tidak sengaja mewarisi ingatan taktis dan teknik terlarang milik Tetua Danu—seorang ahli yang tewas dikhianati organisasinya. Bersembunyi di balik topeng murid lemah, Saka mulai merayap di balik kegelapan. Satu per satu musuh yang mengusiknya dilenyapkan tanpa sisa. Ketika konspirasi besar mulai mengguncang sekte, sang 'pembersih sampah' siap muncul sebagai pencabut nyawa nomor satu.
Voir plus"Hei, pembersih! Apa yang sedang kau lamunkan?!"
Sebuah bentakan keras memecah keheningan Puncak Belakang. Sebelum Saka sempat menoleh, sebuah tendangan kasar mendarat telak di pinggangnya, melempar tubuh kerempengnya ke atas tanah berdebu. Bruk! Saka meringis pelan, menyapu debu yang menempel di jubah abu-abunya yang kusam. Dia mendongak, menatap Rian—senior murid luar bertubuh kekar—yang berdiri bersedekap bersama dua pengikutnya. "Maafkan saya, Senior Rian," ujar Saka datar, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maaf? Kau tahu jam berapa ini?!" Rian meludah ke samping, menatap Saka dengan pandangan jijik. "Tugasmu menyapu jalan setapak Gua Terlarang belum selesai. Jika Tetua Penegak Hukum melihat ada daun kering berserakan, aku yang akan kena semprot!" "Saya akan menyelesaikannya sekarang juga, Senior," balas Saka pelan tanpa melawan. "Bagus! Jangan kembali ke asrama sebelum tempat itu bersih sempurna!" gertak Rian sambil menunjuk muka Saka dengan ujung kakinya, lalu berbalik pergi bersama gelak tawa pengikutnya. Saka berdiri perlahan, memungut sapu lidinya yang tergeletak di tanah. Di balik poni rambut hitamnya yang menutupi dahi, tidak ada ketakutan atau kemarahan di mata Saka. Hanya ada keheningan yang amat sangat dingin. “Ranah Pengumpulan Qi tingkat kedua. Masih terlalu kuat untuk tubuhku yang lemah ini,” batin Saka menganalisis kekuatan Rian secara rasional. Saka tahu betul posisinya. Di Sekte Awan Biru, murid tanpa bakat seperti dirinya tidak lebih berharga daripada rumput liar. Bertahan hidup dengan bersikap penurut adalah satu-satunya taktik yang dia miliki. Malam mulai turun menyelimuti Puncak Belakang. Angin dingin menusuk tulang saat Saka melangkah sendirian menuju area luar Gua Terlarang—tempat paling terisolasi di sekte luar. Saka mengayunkan sapunya dengan ritme yang teratur. Namun, saat dia mendekati semak-semak dekat pintu gua, hidungnya menangkap bau yang sangat asing. Bau amis darah yang sangat pekat. Saka menghentikan gerakannya seketika. Dia merendahkan tubuhnya, melangkah tanpa suara menembus semak-semak di balik pintu gua. Di sana, bersandar pada dinding batu yang dingin, tergeletak seorang pria berambut putih dengan pakaian kebesaran sekte yang robek bertirai-tirai. Tiga luka tebasan menganga di dadanya, memancarkan racun hitam yang menjalar ke lehernya. "S-siapa... di sana?" bisik pria tua itu, suaranya parau dan terputus-putus. Matanya yang kabur menatap Saka. Saka tidak melarikan diri. Dia justru melangkah mendekat dengan tenang. "Saya hanya murid pembersih, Tetua." Pria tua itu terbatuk darah pekat, lalu tertawa getir. "Murid pembersih... Lucu sekali. Takdir benar-benar mempermainkanku." Pria itu meraba dadanya dengan sisa kekuatan terakhir, melepaskan sebuah cincin perunggu kuno dan melemparkannya ke arah kaki Saka. "Namaku Danu... Tetua Agung Sekte Dalam," bisik pria itu, napasnya semakin memburu. "Aku dikhianati oleh muridku sendiri... Faksi Pangeran Biru." Saka memungut cincin perunggu yang terasa sangat dingin di telapak tangannya. "Cincin itu... berisi ingatan dan seluruh teknik bertarungku," lanjut Tetua Danu dengan mata membelalak penuh dendam. "Ambil... dan balas dendam untukku! Atau... gunakan untuk menyelamatkan nyawamu sendiri!" Sebelum Saka sempat bertanya, Tetua Danu meraih pergelangan tangan Saka dengan cengkeraman bagai jepit besi. Wush! Sebuah sensasi terbakar meledak di dalam kepala Saka. Ribuan bayangan, teknik pedang, garis meridian, dan informasi rahasia mengalir deras masuk ke dalam lautan kesadarannya. "Argh!" Saka menggertak giginya rapat-rapat, menahan rasa sakit luar biasa yang mencoba merebut kesadarannya. Cengkeraman tangan Tetua Danu mendadak terkulai lemas. Matanya terbuka lebar tanpa nyawa lagi. Tetua Agung itu telah tewas. Saka terduduk di samping mayat Tetua Danu, napasnya tersengal-sengal. Di dalam pikirannya yang dipenuhi informasi asing, sebuah buku rahasia emas melayang dengan megah: Seni Pedang Bayangan Sunyi. Saka menatap cincin perunggu di tangannya, lalu beralih menatap mayat di depannya. Matanya yang tadinya polos kini berkilat dengan cahaya ketajaman yang baru. "Warisan dari orang yang salah..." bisik Saka dingin, menyarungkan cincin itu ke jarinya. "Tapi aku akan menggunakannya dengan benar. Kegelapan ini akan menjadi panggung utama dalam membalas seluruh pengkhianatan yang ada di sekte ini."Pernyataan Saka yang menerima Ujian Garis Pedang tanpa ragu bergema tegas di atas pelataran marmer putih Puncak Utama. Bisik-bisik suram langsung merebak di antara para murid inti Sekte Dalam. Mereka menatap Saka dengan pandangan tak percaya—sebagian menganggapnya sangat pemberani, sementara sebagian besar menilai murid baru dari Puncak Belakang itu terlampau sombong dan bodoh. Tetua Lucius menyunggingkan senyuman culas yang tak lagi disembunyikan. Matanya berkilat penuh kemenangan. “Bocah ingusan. Kau sendiri yang melangkah masuk ke dalam lubang kuburmu!” batin Tetua Lucius girang. Penatua Ridwan menatap Saka dengan dahi berkerut cemas. Dia melangkah mendekat, lalu berbisik pelan di samping Saka. "Saka, kau tidak perlu memaksakan diri. Ujian Garis Pedang mengalirkan kehendak pedang dari para leluhur sekte. Jika fondasi pemahaman pedangmu belum menyatu sempurna dengan jiwa, niat pedang di dalam formasi itu sanggup merobek meridianmu hingga cacat permanen." Saka membalas tatapan Pen
Sinar fajar merekah di ufuk timur, membakar kabut tipis yang menyelimuti Puncak Belakang. Saka melangkah keluar dari pondok kayunya dengan jubah abu-abu kusam yang kini nampak bersih sempurna. Meski penampilannya tetap sederhana dan merendah, aura yang terpancar dari gerak-gerik Saka telah berubah drastis. Berkat penyerapan Pil Pemurni Jiwa dan keberhasilannya menembus puncak Ranah Pengumpulan Qi tingkat sembilan, setiap pijakan kakinya membawa ketenangan yang tak tergoyahkan. Ngunggg... Suara deru angin lembut terdengar dari atas langit. Sebuah kereta kayu cendana berukir awan keemasan yang ditarik oleh dua ekor burung bangau bersayap perak meluncur turun dari angkasa, mendarat dengan sangat anggun di pelataran rumput Puncak Belakang. Seorang pria paruh baya mengenakan jubah biru tua bersulam benang emas melangkah turun dari kereta. Dia adalah Utusan Puncak Utama Sekte Dalam, yang diutus khusus untuk menjemput sang Juara Utama Turnamen Sekte Luar. "Kau pasti Saka," ujar utusa
Aroma amis darah segar melayang tipis di udara kliring Puncak Belakang, tersapu oleh hembusan angin malam yang dingin. Empat mayat pembantai suruhan Tetua Lucius terbaring kaku di atas tanah berdebu, namun Saka sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada para pecundang tersebut. Bagi seorang mantan pakar yang telah melintasi ribuan pertempuran darah di kehidupan masa lalu, kematian empat pembunuh tingkat rendah tak lebih dari debu yang tersapu angin. Saka mengibaskan lengan jubah abu-abunya, menyulut seberkas api Qi murni dari ujung jarinya untuk membakar habis keempat mayat tersebut hingga menjadi abu tanpa menyisakan jejak sedikit pun. Setelah kliring tua itu kembali bersih dan sunyi, Saka berjalan perlahan menuju pondok kayunya yang terisolasi di balik rerimbunan pohon bambu. Di dalam pondok kayu yang sederhana, Saka duduk bersila di atas alas jerami yang dingin. Dia memejamkan mata sejenak, menenangkan denyut nadi serta mengatur irama napasnya hingga mencapai kondisi kehen
Kegelapan malam membungkus Puncak Belakang dengan keheningan yang mencekam. Hanya derit daun bambu yang saling bergesekan diterpa angin malam dan derak halus kerikil di bawah pijakan kaki Saka. Kliring tua yang terisolasi itu kini menjadi panggung tersembunyi, jauh dari jangkauan pengawasan para penjaga arena Sekte Awan Biru.Saka berdiri tegap di tengah kliring, membiarkan jubah abu-abu kusamnya berkibar bebas. Tatapannya lurus menembus pekatnya malam, memancar dengan kilatan keemasan yang redup namun mematikan."Empat ekor lalat Faksi Pangeran Biru," ujar Saka dengan suara datar yang membelah sunyi. "Kalian merayap terlalu lambat untuk ukuran seorang pembunuh."Wush! Wush! Wush! Wush!Empat bayangan serba hitam melompat keluar dari balik pepohonan bambu secara bersamaan. Mereka mengepung Saka dari empat penjuru angin, mengunci seluruh celah melarikan diri. Di tangan masing-masing pembunuh, terhunus belati ganda beracun yang memancarkan pendaran hijau kebiruan yang sangat berbahaya.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires