Suara barang pecah berantakan terdengar nyaring dari luar. Pintu depan terbuka. Aris dan Alvin menghentikan langkah secara mendadak di ambang pintu, terpaku melihat ruang tamu rumah mereka yang hancur berantakan. Kursi terguling, vas bunga pecah, dan barang-barang berserakan di lantai. Bagong menggebrak sisa meja kayu yang masih berdiri, berteriak garang. “Gua enggak mau tahu, Bu! Hari ini bunga sama pokoknya harus cair! Kalau enggak ada uangnya, rumah ini gua acak-acak sampai rata!” Di sudut ruangan dekat lemari, Ibu memeluk Mentari erat-erat. Mentari menangis terisak sambil menyembunyikan wajahnya di dada neneknya. “Beri kami waktu Tuan, tolong,“ suara ibu Aris bergetar ketakutan Mata Alvin membelalak, emosi meluap. “Mentari! Ibu!” Alvin langsung menerobos masuk, pasang badan tepat di depan Ibu dan anaknya. “Bagong! Apa-apaan lu, hah?! Jangan berani-berani lu sentuh anak dan ibu gua!” Bagong menoleh, melipat tangan di dada lalu tertawa mengejek “Oho, datang juga
Last Updated : 2026-08-13 Read more