Mag-log inKesialan datang bertubi-tubi menghampiri Briptu Aris. Di bawah teriknya matahari apel pagi, undangan pernikahan tunangannya bersama seorang bos besar bernama Haris seolah jadi peluru yang datang tiba-tiba. Emosi Aris yang tidak stabil juga membuatnya melakukan kesalahan fatal yang berujung skorsing. Tak hanya itu, Aris juga mendapat kabar kematian ayah tirinya di kampung, menyisakan segunung utang yang sekarang jadi tanggung jawabnya. Aris pun terpaksa menjadi kaki tangan musuhnya, Juragan Haris.Mengejutkan Adik kesayangan sang juragan Psikiater cantik jatuh cinta pada sosok Aris, bertekad melakukan segala cara untuk mendapatkan hati sang Britu. Akan cinta terlarang sang Britu dan Psikiater berlabuh atau kembali kandas dibawa kuasa Juragan Haris
view moreSuara langkah kaki sepatu laras (PDL) berderap di atas aspal. Samar-samar terdengar tawa dan obrolan para personel yang bubar apel. Suara peluit lantas di kejauhan.
“Ah, beneran gua bilang juga apa! Si Komandan kalau udah pidato perkara disiplin, embun pagi aja sampai kering!” Jaka tertawa lebar, menepuk pundak Rahman. “Biasa, Jak. Efek kopi hitamnya belum turun itu. Eh, tapi bentar...” Rahman ikut terkekeh. Rahman menghentikan langkahnya, menyenggol Jaka dengan siku sambil menunjuk ke arah Aris dengan dagunya. “Tuh, liat. Patung Polres kita masih mode standby di bawah beringin. Kagak gerak dari tadi.” “Lagi nunggu sinyal” ujar mereka kompak sambil menyeringai, berjalan menghampiri Aris. “Woy, Ris! Apel udah bubar, Komandan udah masuk ruangan. Lo masih mau hormat sama pohon beringin?” Aris tidak merespons. Ia bergeming. Detik berikutnya, saku celana PDL Aris bergetar kuat. Bunyi getaran pendek tapi beruntung khas notifikasi pesan masuk memenuhi keheningan di antara mereka. “Nah, nah... sinyal HP dari pedalaman baru masuk itu tampaknya. Dari sang pujaan hati ya, Pak Briptu? Yang ditunggu-tunggu demi mahar kerbau Mandailing.” Rahman ikut mendekat, bersendawa pelan. “Buka gih, Ris. Jangan-jangan dapet pesan: ‘Mas Aris, aku rindu’. Hahaha! Biar gak sia-sia lo tiap hari sarapan roti kering di pos penjagaan.” Mata Jaka ikut berbinar, menyenggol lengan Aris dengan map. Aris perlahan merogoh saku celananya. Tangannya tampak agak bergetar—gerakan halus yang tertangkap oleh mata Jaka, membuat senyum di wajah Jaka perlahan memudar. “Ris? Tangan lo kenapa gemeteran gitu? Kurang gula lo?” dahi Jaka berkerut heran. Rahman hanya terkekeh menimpali. Aris tidak menjawab. Ia menyalakan layar ponselnya. Layar menampilkan ruang obrolan dengan kontak bernama “Nisa”. Sebuah dokumen P*F terpampang di sana. Ketiga sahabat itu fokus pada layar ponsel Aris menunjukkan proses d******d P*F yang selesai, membuka sebuah file gambar digital dengan latar ornamen mewah bermotif ulos modifikasi dan tulisan emas. “Eh? Undangan? Siapa yang nikah, Ris? Keluarga lo?” Rahman menggaruk pipinya yang tidak gatal Aris membaca baris demi baris nama di layar itu. Suara riuh langkah kaki sepatu laras di sekitarnya perlahan terdengar berdengung, memudar, menyisakan kesunyian yang mencekik di kepala Aris. “Nisa...” suara Aris tercekat, berbisik lirih pada diri sendiri. Aris membuka dokumen itu. Matanya terpaku pada sebaris nama yang tertulis dengan tinta emas digital: Annisa Rahmah Nasution, S.E. & Juragan Haris Saputra. Di bawah nama itu, tertera rincian mahar dan seserahan yang sengaja ditulis sebagai bentuk penghormatan adat: Logam mulia seberat 150 gram, satu unit rumah mewah di pusat kota, dan satu unit mobil SUV keluaran terbaru. Jaka dan Rahman saling tatapan sekian detik. Jaka yang menyadari perubahan drastis pada ekspresi wajah Aris langsung merebut melihat layar ponsel tersebut. Mata Jaka membelalak membaca nama pengantin pria yang tertera di sana. “Juragan Haris Saputra...? Pengusaha sawit itu? Ris... ini... ini Nisa lo?” Jaka Terperanjat, menatap Aris dengan tak percaya. Dengan sisa tenaga dan genggaman yang gemetar, Aris menekan tombol telepon. Tuuut... tuuut... Setiap nada sambung terasa seperti detak bom waktu di kepalanya. Di dering ketiga, panggilan itu tersambung. Suara riuh angin lapangan Polres kontras dengan suara isak tangis yang tertahan di ujung telepon. “Halo... Ris,” suara Nisa bergetar, langsung terisak sebelum Aris sempat mengucap salam. Aris menarik napas pendek, suaranya tercekat di tenggorokan. “Nis... ini... ini maksudnya apa? Undangan ini... Juragan Haris?” “Maaf, Ris... maafin aku...” Tangis Nisa pecah, terdengar begitu tersiksa namun juga sarat akan kepasrahan. “Orang tuaku... mereka sudah menerima pinangan Juragan Haris. Semuanya sudah dipersiapkan.” “Tapi kenapa, Nis?!” Suara Aris meninggi tanpa bisa ia tahan, menarik perhatian beberapa rekan polisi yang berjalan lewat, namun Aris tidak peduli lagi. “Kita sudah sepakat! Aku di sini memeras keringat, pindah ke pedalaman, hidup hemat, semuanya demi mengumpulkan mahar yang diminta keluargamu! Tabunganku hampir cukup, Nis! Kenapa kamu gak bisa tunggu sebentar lagi?!” “Sampai kapan, Aris?!” Nisa balas berseru di antara tangisnya, suaranya terdengar frustrasi dan lelah yang amat sangat. “Aku capek, Ris! Aku lelah hidup dalam ketidakpastian bersama polisi muda yang bertugas jauh di hutan sana! Setiap hari aku Cuma bisa mandang ponsel, nunggu kabar yang kadang timbul tenggelam karena susah sinyal!” Aris tertegun, bibirnya bergetar. “Aku di sini berjuang untuk kita, Nis...” “Keluargaku menuntut kepastian setiap hari, Ris! Juragan Haris datang membawa semua yang mereka minta secara tunai. Rumah, mobil, mahar adat... semuanya langsung ada di depan mata,” ucap Nisa, suaranya perlahan melemah, menyiratkan kepasrahan pada takdir. “Aku gak punya kekuatan lagi untuk bantah orang tuaku demi hubungan kita yang gak tahu kapan ujungnya. Maafkan aku, Aris... tolong ikhlaskan aku.” Klik. Sambungan diputus sepihak. Aris perlahan menurunkan ponselnya dari telinga. Pandangannya mengabur, bukan karena air mata, melainkan karena kepalanya mendadak bising oleh dengungan keras. Wajah tersenyum Nisa, suara tawa Jaka yang menyindirnya kemarin sore, dan bayangan kerbau yang disembelih di pesta mewah itu berputar-putar di dalam otaknya bagai badai. Di bawah terik matahari pagi yang mulai memanas, Briptu Aris berdiri membeku, memeluk kehancurannya harapan di tengah lapangan Polres. Mata Rahman membelalak, wajahnya memerah menahan amarah yang meledak. "Kurang ajar! Apa-apaan cewek itu?! Gak punya hati!" Rahman melangkah maju dengan emosional. Gerakannya cepat dan gusar. Ia langsung merebut ponsel dari genggaman Aris yang melemas. Rahman sambil menekan-nekan layar ponsel dengan kasar. "Sini! Biar gua yang telepon balik cewek itu! Mau gua tanya, otaknya ditaruh di mana?! Lo di sini bela-belain makan roti kering sampai kayak orang kurang gizi, dia enak-enakan milih juragan sawit karena gak sabaran!" Jaka mencoba menahan lengan Rahman. "Man! Man, udah, Man! Sadar, ini lingkungan Polres!" Rahman menepis tangan Jaka, makin emosional "Gak bisa, Jak! Gua gak terima temen kita diginiin! Setahun kita liat si Aris kesiksa di pedalaman, dan ini balesannya?! Halo? Halo, Nis?!" Rahman menempelkan ponsel Aris ke telinganya dengan napas memburu. Namun, tidak ada nada sambung. Ia menurunkan ponsel itu dan melihat layarnya. Layar ponsel menunjukkan logo sinyal yang perlahan surut, berubah menjadi tanda silang merah dengan tulisan "Tidak Ada Layanan / No Service" "Sialan! Malah hilang sinyalnya! Brengsek!" Rahman menepis angin dengan tangannya, frustrasi. Rahman menatap layar ponsel itu dengan geram, lalu menatap Aris yang masih bergeming seperti patung es. Kemarahan Rahman perlahan berubah menjadi rasa iba yang mendalam. "Ris... HP lo... sinyalnya mati, Ris. Cewek itu... dia bener-bener matiin teleponnya." Rahman suaranya melunak, tapi bergetar menahan dongkol. Aris tidak merespons. Di bawah rindangnya pohon beringin, angin pagi berembus dingin, namun tidak mampu meredakan badai yang baru saja menghancurkan seluruh hidup Briptu Aris.Suara barang pecah berantakan terdengar nyaring dari luar. Pintu depan terbuka. Aris dan Alvin menghentikan langkah secara mendadak di ambang pintu, terpaku melihat ruang tamu rumah mereka yang hancur berantakan. Kursi terguling, vas bunga pecah, dan barang-barang berserakan di lantai. Bagong menggebrak sisa meja kayu yang masih berdiri, berteriak garang. “Gua enggak mau tahu, Bu! Hari ini bunga sama pokoknya harus cair! Kalau enggak ada uangnya, rumah ini gua acak-acak sampai rata!” Di sudut ruangan dekat lemari, Ibu memeluk Mentari erat-erat. Mentari menangis terisak sambil menyembunyikan wajahnya di dada neneknya. “Beri kami waktu Tuan, tolong,“ suara ibu Aris bergetar ketakutan Mata Alvin membelalak, emosi meluap. “Mentari! Ibu!” Alvin langsung menerobos masuk, pasang badan tepat di depan Ibu dan anaknya. “Bagong! Apa-apaan lu, hah?! Jangan berani-berani lu sentuh anak dan ibu gua!” Bagong menoleh, melipat tangan di dada lalu tertawa mengejek “Oho, datang juga
Di tengah tangis Aris dan Alvin yang masih bergemuruh di ruang rawat yang sempit itu, pintu kamar perlahan diketuk. Jaka dan Rahman melangkah masuk dengan ragu. Keduanya masih mengenakan seragam dinas, namun topi pet mereka sudah dilepas, dijepit di bawah ketiak sebagai bentuk penghormatan pada situasi keluarga Aris.Rahman yang melihat Alvin berlutut dengan pakaian lusuh langsung mendekat, menepuk pundak pemuda itu dengan lembut.“Kamu adiknya Aris, ya? Alvin?” sapa Rahman menepuk pundak Alvin.Alvin menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu berdiri dan mengangguk kikuk“Siap, iya, Pak. Saya adiknya Mas Aris.”Jaka tersenyum hangat, menepuk pundak Alvin“Gak usah panggil Pak, panggil Mas Jaka sama Mas Rahman aja. Kita berdua ini abang-abangan Masmu di Polres.”Jaka kemudian melangkah mendekati sisi ranjang Aris. Ia melihat borgol di tangan kiri Aris, lalu menoleh ke luar pintu, memanggil petugas piket klinik yang berjaga di koridor.Jaka setengah berteriak ke arah pint
AKBP Supriadi duduk di kursi kerjanya, membolak-balik berkas laporan setebal beberapa halaman. Suara gesekan kertas terdengar nyaring di ruangan yang kedap suara itu. Ipda Yudha berdiri terpaku di seberang meja, pandangannya lurus ke depan.BRAK!Kapolres menutup map laporan itu dengan sedikit penekanan, tidak sampai menggebrak, namun cukup membuat suasana di ruangan semakin mencengam. Beliau melepas kacamata bacanya, lalu menatap tajam ke arah Yudha.“Yudha. Kamu tahu apa yang saya pegang ini?” suara Komandan bariton diruangan.“Siap. Laporan pengamanan konflik lahan di dermaga kemarin, Komandan.” Menjawab tegas Ipda Yudha.“Bagus kalau kamu tahu. Lalu, bisa kamu jelaskan kepada saya, bagaimana bisa seorang Briptu, anggota di bawah komando langsung kamu, mengokang senjata laras panjang dan menodongkannya ke arah kerumunan warga tanpa ada perintah Flash Ball atau penggunaan kekuatan dari kamu?” Tukas Komandan berang.“Siap, Komandan. Anggota atas nama Briptu Aris mengalami serang
Suara riuh demonstran berteriak saling bersahutan memprotes batas lahan dermaga. Pagar pembatas besi diguncang-guncang oleh massa. Suara ombak menghantam tiang dermaga berbaur dengan teriakan emosional dari kedua belah pihak. IPDA YUDHA bicara melalui megaphone “Harap tenang! Bapak-bapak, Ibu-ibu, harap tenang dan mundur tiga langkah! Tolong jangan lakukan tindakan anarkis!” suara IPDA Yudha tenang melalui megaphone. Di barisan belakang tameng, Aris berdiri dengan tubuh kaku. Matanya melotot, menatap liar ke arah kerumunan massa yang berteriak-teriak. Namun, di dalam kepala Aris, suara teriakan massa perlahan meredup, digantikan oleh dengungan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga. Suara bising dermaga perlahan teredam,bertransisi menjadi suara gema tawa laki-laki yang berat, bersahutan dengan suara Nisa. “Polisi miskin... Cuma modal seragam tapi gak punya apa-apa. Kasihan.” Suara Juragan Haris tertawa meremehkan tiba tiba mengema ditelinga Aris. “Aku capek hidup susah
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.