Sudah lima hari sejak Amaris ditahan di kuil. Ia mulai makan sedikit demi sedikit. Bukan karena lapar, melainkan karena ingin tetap hidup. Jauh di dalam hatinya, masih tersisa secercah keyakinan bahwa Dewi Bulan tidak akan meninggalkannya. Setiap pagi dan malam, ia masih menangkupkan kedua tangannya dalam doa, seperti yang selalu diajarkan sejak kecil. “Dewi Bulan Nythera...” bisiknya lirih. “Jika aku telah melakukan kesalahan, tolong tunjukkan padaku. Jika ini adalah ujian, berilah aku kekuatan untuk melewatinya.” Ia menunggu. Berharap mendengar sesuatu—bisikan, angin, atau sekadar kehangatan yang dulu selalu ia rasakan saat berdoa di altar. Namun yang datang hanyalah dinginnya lantai batu dan kegelapan yang tak pernah bergeser. “Aku tahu aku tidak sempurna,” lanjutnya, suaranya mulai bergetar. “Tapi aku tidak pernah berniat menyakiti siapa pun. Aku hanya ingin menjadi bagian dari desa ini. Menjadi seperti mereka.” Tak ada jawaban. Hanya keheningan yang memenuhi sel batu.
Last Updated : 2026-07-31 Read more