MasukAmaris kehilangan segalanya di Upacara Kebangkitan Serigala. Tanpa bisa memanggil serigala yang menjadi belahan jiwanya, apakah ia masih pantas menjadi bagian dari kaum werewolf? Akankah gadis tanpa serigala itu menemukan mate yang mau menerimanya? Bagaimana jika serigalanya ternyata tidak pernah hilang, melainkan dicuri?
Lihat lebih banyakDi Benua Utara berdiri sebuah desa kecil bernama Elvmond. Di tepinya mengalir sungai yang telah menemani desa itu sejak zaman yang nyaris dilupakan.
Pagi itu, desa diselimuti salju tipis. Permukaan sungai membeku, sementara asap mengepul dari cerobong rumah-rumah kayu. Meski udara menggigit, tawa anak-anak tetap memenuhi jalanan desa. Di antara mereka berdiri seorang gadis berambut perak bernama Amaris. Ia bersenandung, jemarinya merangkai bunga Cryssa menjadi mahkota kecil. Sesekali ia membantu anak-anak mengenakannya, lalu tertawa melihat kepolosan mereka. “Kak Amaris!” Seorang anak laki-laki berlari menghampirinya sambil membetulkan mahkota bunganya yang hampir terjatuh. “Besok Kakak mengikuti Upacara Kebangkitan, kan?” Amaris mengangguk. “Tentu.” “Kalau begitu besok Kakak pasti mendapatkan Penjaga yang hebat!” “Serigalanya pasti putih!” seru seorang gadis kecil. “Kenapa harus putih?” “Karena rambut Kakak juga putih!” Gelak tawa pun pecah. “Tapi Ayah bilang Penjaga tidak bisa dipilih,” celetuk bocah lain. “Benar,” jawab Amaris. “Saat Upacara Kebangkitan nanti, Dewi Bulan akan membangunkan Penjaga yang ada di dalam diri kita.” “Kalau Penjaga sudah bangun... nanti Kakak juga punya mate?” Pipi Amaris langsung memerah. “Kalian ini... masih terlalu kecil untuk membicarakan mate.” “Kalau Kakak duluan bertemu mate, ceritakan kepada kami ya!” “Baiklah.” “Janji?” “Janji.” Anak-anak kembali bersorak. “Kalau begitu nyanyikan satu lagu lagi!” Amaris mengangguk. Nyanyian Amaris mengalun lembut. Anak-anak yang tadi tertawa tiba-tiba diam. Mereka saling pandang, bingung dengan getaran hangat di dada mereka. “Kak Amaris...” seorang gadis kecil memegang dadanya. “Aku merasakan sesuatu.” Amaris berhenti. “Apa?” Gadis itu menggeleng. “Aku tidak tahu.” Amaris tersenyum. “Mungkin kau terlalu bersemangat menyambut upacara besok.” Ia tidak memikirkannya. Baginya, itu hanya kegugupan anak kecil. Amaris melanjutkan nyanyiannya. Tak lama, suara para ibu terdengar memanggil. “Sudah sore! Jangan ganggu Kak Amaris terus!” Anak-anak berhamburan. “Sampai besok, Kak Amaris!” “Sampai besok.” Amaris melambaikan tangan hingga mereka menghilang di balik rumah-rumah kayu. Setelah memastikan tak ada mahkota yang tertinggal, ia merapikan keranjang rotannya dan memetik beberapa bunga Cryssa yang masih utuh. Tujuan berikutnya Kuil Dewi Bulan. ... Jalan menuju kuil berada di sebuah bukit kecil yang menghadap langsung pada Sungai Elvmond. Bangunan batu itu sederhana dan terawat. Ukiran bulan sabit menghiasi jendelanya, sementara lonceng-lonceng perak berdenting lembut tertiup angin. Begitu tiba, Amaris langsung menyapu halaman, mengganti bunga-bunga yang mulai layu di altar, mengisi kembali wadah minyak untuk pelita, lalu membersihkan debu pada patung Dewi Bulan. Tak ada yang memintanya. Ia melakukannya karena ingin. “Bukankah kau datang terlalu larut, Amaris?” Suara serak seorang pendeta tua terdengar dari balik pintu. Amaris menoleh. Pria tua itu adalah Pendeta Rigel, penjaga Kuil Dewi Bulan yang telah mengabdikan hidupnya di sana selama puluhan tahun. “Kakek Rigel.” Amaris tersenyum hangat. “Jika aku menunggu bunga-bunga ini layu, Dewi pasti akan sedih.” Rigel terkekeh pelan. “Dewi Bulan itu pemalas. Dia tidak pernah menghitung segar atau layu bunganya. Yang dia lihat hanyalah ketulusan di hatimu. Selama kau datang dengan kebahagiaan, bunga apa pun akan dia terima.” Amaris mengangguk, lalu duduk di samping Rigel. “Kakek...” “Hm?” “Apa bedanya Penjaga dengan mate?” Rigel tersenyum. “Setiap werewolf terlahir dengan dua ikatan,” ujarnya. “Yang pertama adalah Penjaga. Ia bukan makhluk lain, melainkan serigala yang hidup di dalam jiwamu.” Amaris memiringkan kepala. “Jadi... Penjaga setiap orang berbeda?” “Tentu. Karena ia cerminan pemiliknya.” “Lalu mate?” Rigel menatap patung Dewi Bulan sejenak. “Mate adalah pasangan yang telah dipilih oleh Dewi Bulan. Ia bukan bagian darimu, melainkan seseorang yang akan dipertemukan denganmu.” Amaris mengangguk pelan. “Jadi... Penjaga adalah jiwaku. Sedangkan mate adalah takdirku.” Rigel tersenyum. “Tepat sekali.” Amaris memandang patung Dewi Bulan. “Kalau begitu... aku berharap bisa bertemu keduanya.” Rigel terkekeh. “Kesabaran juga bagian dari doa.” Amaris tersenyum kecil. “Maka, aku akan berdoa lebih banyak kepada Dewi.” Rigel hanya menggeleng. Amaris memang selalu seperti itu. Terlalu tulus untuk dunia yang semakin keras. “Kalau begitu, kau bisa membantuku menyalakan pelita sebelum pulang.” “Tentu saja!” Amaris menyalakan pelita satu per satu. Cahaya hangat memenuhi aula dan menerangi patung Dewi Bulan. “Semoga cahaya-Mu selalu melindungi desa kami.” Di hadapan patung itu, Amaris tak pernah ragu menitipkan setiap doa, harapan, dan impiannya. Rigel memperhatikan gadis itu. Setiap kali Amaris berdoa, suasana kuil terasa berbeda. Bahkan nyala pelita seolah ikut bergoyang mengikuti irama napasnya. “Kakek?” Suara Amaris membuyarkan lamunannya. “Kenapa Kakek menatapku seperti itu?” Rigel tersenyum kecil. “Kakek hanya berpikir... seandainya semua orang memiliki hati sebaik dirimu.” Amaris menunduk malu. “Kakek terlalu melebih-lebihkan.” Rigel tidak menjawab. Ia justru merasa kata-kata itu masih jauh dari cukup. Tiba-tiba— DONG! Suara lonceng besar desa menggema tiga kali. “Bel desa?” Rigel mengangguk pelan. “Seluruh warga sedang dipanggil. Untuk ritual malam sebelum Upacara Kebangkitan.” “Oh...” Amaris segera meraih keranjang rotannya. “Kalau begitu aku pamit dulu, Kek.” “Hati-hati di jalan” Rigel tersenyum. “Kuil ini selalu terbuka untukmu.” Amaris berlari kecil menuruni bukit. Angin dingin meniup rambut peraknya hingga berkibar. Di alun-alun, hampir seluruh penduduk telah berkumpul. Anak-anak yang sebelumnya bermain dengannya kini berdiri di samping orang tua mereka. Para pemburu, tetua, bahkan para ibu yang biasanya telah bersiap beristirahat pun ikut memenuhi alun-alun. Kepala desa melangkah ke tengah panggung. “Warga Elvmond. Malam ini kita kembali berkumpul untuk memanjatkan doa kepada Dewi Bulan. Besok anak-anak kita akan menjalani Upacara Kebangkitan. Semoga Dewi memberkati mereka.” Ia mengangkat tangan kanannya ke langit. Seluruh warga mengikuti gerakannya. Mereka menghentakkan kaki ke tanah. DUG! DUG! DUG! Suara hentakan bergema ke seluruh desa. “Seperti yang diwariskan leluhur kita, mari panjatkan doa sebelum anak-anak kita memasuki Upacara Kebangkitan.” Tak ada sorak-sorai. Seluruh warga menundukkan kepala, membiarkan doa-doa lirih menyatu dengan angin musim dingin. Di antara kerumunan, Amaris melihat ibunya. Wanita itu tidak menghentakkan kaki. Ia hanya tersenyum tipis, tetapi jemarinya mencengkeram syal hingga memutih. “Akhirnya...” bisik seorang wanita tua di sampingnya, tangannya gemetar memegang kalung doa. “Giliran anak-anak kita.” Amaris memandang langit utara, tempat upacara itu akan berlangsung esok. Tanpa sadar, jemarinya menggenggam erat liontin bulan sabit di lehernya. “Besok...” tatapannya penuh harap. “Akhirnya, aku akan bertemu serigalaku.” Ia tak menyadari bahwa cahaya bulan yang ia puja pernah membakar langit ribuan tahun lalu. Ia tak menyadari bahwa Dewi yang ia sembah memiliki rahasia yang lebih tua dari desa ini. Ia tak menyadari bahwa esok, seluruh hidupnya akan berakhir. Tapi malam itu, Amaris hanya tersenyum. Dan berdoa.Kereta berjalan perlahan melewati jalan utama Frostland.Amaris tidak berhenti melihat keluar jendela. Semakin jauh mereka meninggalkan istana, semakin ramai jalanan yang mereka lewati. Rumah-rumah batu berdiri di kedua sisi jalan, dengan cerobong asap yang mengeluarkan asap tipis. Beberapa bangunan memiliki lambang serigala di atas pintunya, sementara salju menumpuk di sepanjang atap.Namun kota itu tidak terlihat mati.Justru sebaliknya.Orang-orang memenuhi jalan. Pedagang membuka kios, para prajurit berpatroli, dan anak-anak berlari di antara rumah sambil tertawa.Dan hampir di mana-mana, Amaris melihat serigala.Ada yang berwarna putih, abu-abu, hitam, bahkan kecokelatan. Mereka berjalan di samping manusia, berbaring di depan toko, atau mengikuti pemiliknya melewati jalanan.Amaris memperhatikan salah satu serigala putih yang duduk di depan sebuah toko. Serigala itu mengangkat kepala ketika kereta mereka lewat, matanya mengikuti Amaris.“Indah,” gumamnya.Asterion yang duduk di s
Amaris bangun dan menemukan pakaian baru yang diberikan Agatha. Bukan pakaian mewah. Namun satu setel pakaian yang tebal dan hangat, dengan jahitan rapi yang cocok untuk udara luar Frostland. Amaris mengangkatnya dengan bingung. “Untuk apa ini?” Agatha menjawab, “Yang Mulia meminta Nona mengenakannya.” Amaris terdiam. Asterion mau membawaku ke mana? Ia tidak bertanya lebih. Hanya saja, pertanyaan itu terus berputar di kepala saat ia mengenakan pakaian tersebut. Ketika selesai, Amaris berdiri di depan cermin. Pakaian itu pas di tubuhnya. Bahkan bagian lengannya terasa lebih hangat daripada pakaian yang biasa ia gunakan di Elvmond. Ia menyentuh bahan mantel tersebut perlahan. “Anu...” “Ya, Nona?” “Apakah semua tamu di sini mendapatkan pakaian seperti ini?” Agatha terdiam sesaat. “Saya tidak tahu, Nona.” Jawaban itu membuat Amaris tersenyum kecil. Ia tahu dirinya bukan tamu biasa. Sejak tiba di Frostland, terlalu banyak hal yang diberikan kepadanya tanpa pernah ia minta.
Amaris bangun dengan perasaan aneh. Bukan karena ia tidak nyaman. Kamarnya hangat, ranjangnya empuk, dan cahaya pagi yang masuk melalui tirai putih kebiruan membuat ruangan terasa jauh lebih nyaman daripada tempat mana pun yang pernah ia tempati setelah meninggalkan Elvmond. Namun ada sesuatu yang mengganjal. Ia tidak punya pekerjaan. Di Elvmond, sejak pagi ia terbiasa membantu. Mengambil air, membantu dapur, merawat anak-anak, membersihkan altar kuil, atau sekadar membantu warga yang membutuhkan. Setiap harinya selalu ada sesuatu yang harus dilakukan. Di Frostland, semuanya sudah disiapkan untuknya. Makanan. Pakaian. Air hangat. Bahkan pelayan selalu datang sebelum ia sempat meminta sesuatu. Amaris duduk di tepi ranjang dan memandangi kedua tangannya. “Aku tidak terbiasa hanya duduk.” Ketika Agatha datang untuk memastikan kebutuhannya, Amaris akhirnya bertanya. “Nyonya Agatha.” Agatha menoleh. “Apa yang bisa kulakukan di sini?” Agatha sedikit mengernyit. “Nona tidak
Pagi datang perlahan di Frostland. Cahaya menembus jendela-jendela tinggi istana, memantul di atas dinding marmer putih yang masih terasa dingin meskipun perapian telah dinyalakan sejak fajar. Namun pagi itu terasa sedikit berbeda. Bisikan terdengar di sepanjang lorong. “Utusan Kuil Pusat benar-benar datang kemarin?” “Dua orang pendeta.” “Dan Yang Mulia menolak menyerahkan gadis itu?” “Katanya begitu.” “Kenapa mereka begitu menginginkannya?” “Entahlah. Aku hanya dengar mereka datang untuk membawanya kembali.” “Dan Yang Mulia menolak?” “Begitu katanya.” “Berarti gadis itu pasti penting.” “Atau justru membawa masalah.” “Berhenti membicarakan hal itu.” Bisikan itu berhenti ketika beberapa pelayan melihat Agatha berjalan melewati lorong. Mereka langsung menundukkan kepala. Namun begitu Agatha menghilang di tikungan, percakapan kembali terdengar. “Menurutmu dia akan tinggal lama di sini?” “Entahlah.” “Aku dengar Yang Mulia sendiri yang membawanya kema


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.