Sepanjang hari itu, Emily nggak bisa fokus sama sekali. Matanya terus-menerus melirik ke arah gerbang sekolah, tunggu kemunculan sosok yang asing. Namun hingga matahari mulai tenggelam, pelatih Samuel tetap nggak muncul.Akhirnya, dia nggak sanggup tahan diri lagi. Dia lari menuju ruang guru. Aku nggak tahu apa yang dia tanyakan ke para guru. Yang aku tahu, setelah cukup lama ada di dalam, dia keluar dengan mata yang sudah sembap karena nangis.Begitu lihat aku, dia langsung teriak, “Olivia! Kamu habis ngapain?! Kenapa Pelatih Samuel nggak datang hari ini?!”Aku miringkan kepala dengan wajah bingung.“Kamu ngomong apa? Pelatih yang mana?”Wajah Emily seketika dipenuhi amarah.“Nggak usah pura-pura nggak tahu! Jelas-jelas kamu yang ….”Aku potong ucapannya. Tatapanku berubah jadi dingin.“Aku sudah tinggalkan rumah karena kamu terus-terusan tekan aku. Kamu mau apa lagi?”Baru saja aku selesai bicara, beberapa teman sekelas langsung maju belain aku.Emily dihujani berbagai pertanyaan yan
Read more