Suci mundur selangkah, tangannya mencengkeram tepi meja hingga buku jarinya memutih. "Tolong berhenti, Mas. Ini salah. Semua ini salah."Putra menghela napas panjang, pundaknya merosot pelan. "Kau benar. Maaf." Ia berbalik duduk kembali di kursinya, wajahnya tertutup bayangan lelah. "Kembalilah bekerja. Kita... bicara soal tugas saja mulai sekarang."Suci mengangguk cepat, bergegas keluar ruangan sebelum air matanya jatuh. Sepanjang hari itu, ia tak bisa berkonsentrasi. Setiap kali mendengar suara langkah kaki, jantungnya berdegup tak beraturan. Setiap kali bertatapan mata dengan Putra, ada rasa sakit yang menusuk — rasa bersalah yang tak pernah hilang.Sore itu, saat jam kantor sudah habis, Dina datang lagi. Kali ini wajahnya tak lagi tersenyum manis. Ia berdiri di depan meja Suci, menatapnya tajam."Suci," panggilnya pelan namun tegas. "Bisa bicara sebentar?""Tentu, Kak," jawab Suci, berdiri dan mengikutinya ke sudut lorong yang sepi.Dina menatapnya lama, lalu berkata, "Aku tahu k
Last Updated : 2026-07-21 Read more