LOGINSuci dan Putra pernah saling mencintai dalam diam bertahun-tahun lalu. Namun sebelum sempat mengaku, Dina — sahabat Suci — lebih dulu mendekati Putra. Demi persahabatan, Suci mengubur perasaannya dan mundur perlahan. Kini, lima tahun kemudian, Suci kembali ke kota yang sama. Dina dan Putra sudah menikah, namun rumah tangga mereka retak. Suci berjanji menjaga jarak, tapi takdir terus mempertemukan mereka. Saat hati yang tak pernah benar-benar lepas bertemu kembali, mana yang harus dipilih: kesetiaan pada persahabatan, atau cinta yang sempat terputus?
View MoreSuci menarik napas panjang saat melangkah masuk ke gedung kantor itu. Lima tahun. Sudah lima tahun ia meninggalkan kota ini, dan kini ia kembali, karena pekerjaan dan ibunya yang sedang sakit.
Ia menatap nama di papan petunjuk: Putra Pratama — Manajer Divisi Keuangan.
Jantungnya berdegup kencang. Nama itu sudah ia coba hapus dari ingatannya selama bertahun-tahun, tetapi kenyataannya, ia hanya menyembunyikannya lebih dalam.
Pintu ruangan terbuka. Dan di sana, berdiri pria itu.
Putra menoleh. Langkahnya terhenti. Tatapan mata mereka bertemu, dan seketika itu juga, ruangan yang luas itu terasa sempit. Waktu seakan berhenti berputar.
"Suci..." Nama itu keluar dari bibir Putra, pelan dan tak percaya.
"Selamat siang, Mas Putra," jawab Suci, berusaha sekuat tenaga agar suaranya terdengar tenang. "Saya Suci, pegawai baru yang ditempatkan di bawah Bapak."
Putra mendekat. Wajahnya masih sama, tegas, rahang yang kuat, namun matanya kini tampak lebih lelah dari yang ia ingat. "Kau... kembali."
"Iya. Ada keperluan keluarga." Suci menunduk, tak berani menatap mata itu lebih lama. "Saya berjanji akan bersikap profesional. Saya tahu... Kau sudah menikah dengan Dina. Saya tak akan mengganggu kehidupan kalian."
Suasana hening. Hanya suara napas mereka yang terdengar.
"Apakah kau pikir kehadiranmu sekadar mengganggu?" tanya Putra pelan.
Suci tak menjawab. Ia tahu alasannya pergi dulu. Dulu, sebelum sempat ada kata terucap di antara mereka, Dina, sahabatnya sendiri lebih dulu menyatakan perasaannya kepada Putra.
Dan Putra, karena tak ingin menyakiti siapa pun, akhirnya menerima. Suci memilih diam. Ia pergi tanpa pamit, membiarkan dua orang yang ia sayangi bahagia tanpa dirinya.
"Aku pergi dulu karena aku pikir itu yang terbaik," kata Suci lirih. "Aku tak ingin persahabatan kita hancur. Dan aku tak ingin salah satu dari kalian terluka."
"Kau pikir dengan pergi, tak ada yang terluka?" Putra mendekat selangkah. Suci bisa merasakan kehangatan tubuhnya, jarak yang dulu begitu ia rindukan, namun kini menjadi batas yang tak boleh ia lintasi. "Kau salah, Suci. Yang terluka justru kita berdua."
Pintu terbuka lagi. Suara tawa yang ia kenal sangat baik terdengar ceria.
"Sayang, aku bawa makan siang kesukaanmu!"
Dina melangkah masuk, lalu berhenti seketika saat melihat sosok di hadapan suaminya. Senyum di bibirnya perlahan memudar, namun tak lama kemudian kembali terpasang, meski kali ini tak sampai ke matanya.
"Suci?" Dina mendekat, menyunggingkan senyum yang terasa dingin. "Wah, sungguh tak terduga. Kau kembali ke kota ini?"
"Iya, Dina. Kebetulan ada pekerjaan," jawab Suci, berusaha tetap tenang.
"Senang sekali mendengarnya," ucap Dina sambil merangkul lengan Putra erat, seolah ingin menegaskan sesuatu. "Sekarang kita bisa bertiga berkumpul lagi seperti dulu, kan? Dulu kita selalu bersama, tak terpisahkan."
Suci mengangguk pelan. "Tentu. Aku harap kalian bahagia."
"Kami bahagia," potong Dina cepat. "Sangat bahagia. Dan aku senang kau akhirnya kembali. Sekarang tak ada rahasia apa-apa di antara kita lagi."
Suci menunduk. Rasanya seperti ditusuk perlahan. Dina tahu. Dina selalu tahu apa yang ada di hati Suci dan Putra dulu. Dan kini, kalimat itu bagaikan peringatan halus: jangan coba-coba mengulanginya lagi.
"Saya izin kembali bekerja," pamit Suci, berbalik secepat mungkin sebelum air matanya jatuh di tempat yang salah.
Saat ia melangkah keluar, ia masih bisa mendengar suara Dina di belakangnya. "Dia terlihat berbeda, bukan? Seperti ada yang berubah..."
Dan suara Putra, singkat dan datar. "Dia tetap Suci. Sama seperti yang kau kenal."
Sore itu terasa berjalan sangat lambat. Setiap kali Suci mengangkat kepala, ia mendapati tatapan Putra yang tak kunjung beranjak darinya. Tatapan yang penuh pertanyaan yang tak berani diucapkan. Tatapan yang mengingatkannya pada malam-malam yang ia habiskan meratapi kepergian yang ia pilih sendiri.
Ia berusaha meyakinkan diri sendiri. Aku sudah melakukannya demi kebaikan semua. Aku tak akan mengulangi kesalahan itu. Dia milik Dina. Dan itu tak akan pernah berubah.
Malam tiba. Suci sampai di rumah kontrakan kecilnya. Ia meletakkan tas di meja, duduk lemas di tepi tempat tidur. Kelelahan fisik tak sebanding dengan beban di dadanya.
Ponsel di atas meja bergetar satu kali. Pesan masuk.
Suci melirik layarnya. Tak ada nama kontak. Namun, nomor itu... ia hapus dari daftar bertahun-tahun lalu, tetapi ia tetap hafal setiap angkanya.
Jantungnya seakan berhenti berdetak. Ia mengangkat ponsel itu dengan tangan gemetar, membuka pesan itu perlahan.
Aku tak pernah berhenti memikirkanmu.
Suci menatap layar itu lama sekali. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya yang dingin. Ia tahu satu hal dengan pasti: kepulangannya bukan sekadar tentang pekerjaan.
Jangan pernah merasa kita sudah menang sepenuhnya.”Suci berhenti tepat di ujung lorong, punggungnya menjauh dari ruang rawat namun pikirannya tetap tertinggal di sana. Ia menatap lurus ke arah Putra—matanya jernih, tak tergoyahkan oleh ketenangan sesaat yang baru saja tercipta. Putra menyandarkan bahu ke dinding, napasnya teratur namun tatapannya tetap waspada.“Kau merasa ada yang kurang?” tanyanya singkat dan tegas.“Jauh lebih dari sekadar kurang,” jawab Suci cepat. “Dina mengaku lelah, ia menangis sedikit, dan kita merasa lega. Tapi perhatikan matanya—sebelum kita keluar, ia melirik laci meja samping tempat tidur seolah ada sesuatu yang paling berharga tersimpan di sana. Sesuatu yang tak ingin ia diketahui siapa pun.”“Mungkin hanya barang pribadi,” Putra mencoba, namun nada bicaranya menunjukkan ia pun mulai meragukan ucapannya sendiri.“Bukan begitu caranya,” bantah Suci mantap. “Aku mengenal tatapan itu sejak kita remaja. Itu tatapan rahasia yang dijaga mati-matian—hal yang ji
“Pintu ini tak boleh tertutup rapat lagi.”Suci berhenti tepat di ambang pintu ruang rawat, suaranya tajam, tanpa ragu sedikit pun. Ia menatap Putra dengan sorot mata yang penuh kewaspadaan—tak lagi sekadar rasa cemas, melainkan tekad yang kuat. Putra mengangguk mantap, rahangnya mengeras. Ia mengerti: peringatan Ibu Dina bukan sekadar firasat kosong.“Kita tak boleh terbuai oleh ketenangan yang ia tunjukkan,” sahut Putra rendah namun tegas. “Dia pandai menyembunyikan segalanya—terutama saat merasa paling terpuruk.”Mereka melangkah masuk perlahan. Dina duduk bersandar di bantal, menatap jendela kaca yang membiarkan langit sore tampak kelabu. Sikapnya tenang, terlalu tenang—persis seperti topeng yang selama ini ia pakai rapi. Saat mendengar langkah kaki, kepalanya beralih perlahan, senyum tipis terukir di bibirnya—namun tak sampai ke matanya.“Kalian kembali cepat sekali,” ucapnya lembut, nada bicaranya halus dan terkontrol. “Ada yang terlupa?”“Hanya ingin memastikan kau tak merasa s
“Kau lihat cara dia bicara tadi?”Suci berhenti di lorong yang sama, namun kali ini suaranya lebih tajam, lebih terkontrol. Ia menatap Putra dengan sorot mata yang tak lagi ragu—melainkan penuh keyakinan yang mulai menyatu dengan firasat.“Dia bilang dia tidak tahu arah hidupnya,” lanjutnya tanpa menunggu jawaban. “Tapi yang lebih menggangguku bukan itu. Yang menggangguku adalah cara dia menatap kita—seolah dia sudah menyerah sepenuhnya. Bukan menyerah karena lega, tapi menyerah karena merasa tidak berharga lagi.”Putra menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke dinding lorong yang dingin.“Dina memang selalu begitu. Dulu, saat kita masih bersama… setiap kali ada konflik besar, dia akan diam. Bukan tenang, tapi kosong. Seolah jiwanya sementara pergi meninggalkan tubuhnya.”“Dan kau tidak pernah menanyakan alasannya?” Suci melangkah selangkah lebih dekat, menatapnya dengan tatapan yang menuntut kejujuran penuh. “Kau membiarkannya diam saja?”“Aku pikir itu caranya menenangkan dir
“Kau tidak merasa aneh?”Suci berhenti tepat di sudut lorong yang agak teduh, jauh cukup dari jangkauan pendengaran keluarga Dina. Ia menatap lurus ke arah Putra—matanya tajam, tak lagi diselimuti keragu-raguan yang pasif, melainkan penuh kewaspadaan yang tumbuh.“Aneh bagaimana?” Putra berhenti bersamanya, tetap tenang namun siap mendengarkan. “Karena orang tuanya mulai memberi ruang? Atau karena Dina terlihat begitu tegar?”“Terutama Dina,” jawab Suci cepat, suaranya rendah namun jelas. “Dia baru saja terancam nyawanya, napasnya masih terasa berat saat berbicara—tapi tatapannya begitu jernih. Bahkan terlalu tenang. Seolah ada sesuatu yang ditahan rapat-rapat di balik senyum tipis itu.”Putra menghela napas pendek, menoleh ke arah pintu ruangan yang masih tertutup di kejauhan.“Itu bukan kelemahan yang kau lihat, Suci. Itu harga diri. Dina selalu punya cara menampung segalanya sendirian, teringatkah? Dulu ia tak pernah menangis di depan siapa pun meski terluka.”“Tapi ini bukan hal y


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.