Seminggu kemudian. Laras berdiri lagi di depan gedung Kejaksaan Agung. Tempat yang dulu rasanya berat, penuh rahasia, dan bikin napas sesak. Hari ini beda. Matahari bersinar terang banget, langitnya bersih biru tanpa satu pun awan gelap, udara pagi terasa segar dan ringan di dada. Orang‑orang yang lewat sapa satu sama lain dengan senyum beneran — bukan senyum pura‑pura sambil mikir siapa yang bisa dipercaya, bukan senyum tegang karena takut salah bicara. Senyum yang tenang, senyum yang tahu sekarang semuanya sedang berjalan dengan benar.Seno datang berdiri di sebelahnya, merapikan rambutnya yang makin memutih. Matanya menatap pintu utama gedung itu lekat‑lekat, seolah masih nggak percaya raksasa yang selama ini menindas kebenaran itu akhirnya berhenti. “Kamu tahu, Laras?” katanya pelan, suaranya penuh kekaguman. “Dulu saya pikir kebenaran itu hal yang paling susah sekali di dunia ini buat ditemukan, apalagi dipertahankan. Saya pikir musuhnya terlalu kuat — terlalu banyak uang, terlal
Última actualización : 2026-07-24 Leer más