FAZER LOGINTiga hari sebelum Jaksa Agung menandatangani surat permohonan penyitaan aset senilai Rp 72 Triliun—aset hasil dugaan korupsi yang akan dikembalikan untuk menambah alokasi bantuan sosial dan perlindungan pekerja terancam PHK—satu bundel berkas utama lengkap bukti otentik raib dari Brankas Nomor 17 di Ruang Penyimpanan Rahasia Kasus Khusus Lantai 3 Gedung Kejaksaan Agung. Pintu ruangan terkait ganda dengan sistem sandi biometrik, tidak ada tanda paksaan, kunci cadangan tersimpan aman di ruang pengamanan terpisah, dan rekaman CCTV selama jam kejadian terhapus total. Satu-satunya jejak yang tertinggal adalah sidik jari yang tidak terdaftar dalam database seluruh jaksa, staf, maupun petugas keamanan. Batas waktu tinggal 72 jam: jika berkas tidak ditemukan sebelum penandatanganan, kasus akan dihentikan, aset tersebut pasti akan dialihkan ke pihak lain, dan rencana bantuan bagi jutaan rakyat akan gugur total. Laras Kirana, jaksa muda yang terakhir memverifikasi dan menyimpan berkas itu, langsung ditetapkan sebagai tersangka utama. Ia terpaksa bekerja diam-diam bersama mantan penyidik senior kejaksaan untuk memecahkan teka-teki brankas itu, sebelum konspirasi yang dirancang bertahun-tahun itu menutup jejak selamanya.
Ver maisPukul sebelas lewat lima menit malam. Hampir seluruh lampu di gedung Kejaksaan Agung sudah padam. Di luar hujan turun halus, membasahi kaca jendela bertingkat tinggi itu sampai semuanya terlihat buram, samar‑samar memantulkan cahaya lampu jalan yang kuning redup. Suasana hening banget—bukan hening yang tenang, tapi hening yang terasa berat, kayak ada sesuatu yang ditahan supaya tidak keluar. Satu‑satunya suara yang terdengar jelas cuma bunyi AC yang berdengung terus‑menerus, sama langkah kaki Laras Kirana yang berjalan sendirian menyusuri lorong lantai tiga.
Dia satu‑satunya orang yang masih di dalam sana malam itu. Tangan kanannya memeluk erat sebuah map kulit cokelat tebal banget, di bagian depan ada stiker merah besar bertuliskan huruf‑huruf tebal: RAHASIA NEGARA – KASUS NO 09/KH/2026. Di bawahnya ada tanda tangan basah Jaksa Agung sendiri. Isinya bukan dokumen biasa. Ini hasil kerja keras tiga bulan penuh—ribuan lembar catatan, bukti transfer yang berliku sampai ke luar negeri, nama‑nama yang disembunyikan di belakang perusahaan lain, semuanya menunjuk ke satu hal: ada aset senilai Rp 72 triliun yang sebenarnya milik rakyat, tapi selama ini diam‑diam dikantongi sekelompok orang yang punya kekuasaan besar. Kalau berkas ini sah dan disahkan, uang itu balik ke kas negara—bisa buat bantuan tunai yang sampai ke orang yang benar‑benar butuh, perbaiki sekolah yang atapnya bolong di desa‑desa jauh, bangun puskesmas yang obatnya nggak pernah kosong, bantu ribuan pekerja yang sebentar lagi bakal kehilangan pekerjaan karena ulah orang‑orang ini. Banyak nasib orang bergantung pada map tebal di pelukannya ini. Laras sampai di depan pintu Ruang Simpanan Khusus. Dindingnya tebal, pintunya besi padat, sistemnya canggih—seharusnya nggak ada yang bisa masuk sembarangan. Dia lewati pemeriksaan tangan dan wajah, pintu berbunyi “klik” lalu bergeser terbuka. Udara di dalam lebih dingin, baunya kertas lama dan besi dingin. Di sana berdiri delapan baris lemari besi yang dipasang kuat sampai ke lantai. Dia jalan lurus ke ujung kanan—Brankas Nomor 17. Kuncinya dua, beda tempat simpan, beda putaran. Kiri dua kali ke kanan, kanan satu kali ke kiri. Dia hafal luar kepala, udah ratusan kali lakukan hal begini. Semua beres. Taruh mapnya pas di tengah, pastikan berdiri tegak, kunci balik sampai terdengar bunyi terkunci mantap. Catat di buku jaga: jam, tanggal, nama, keterangan “tidak ada hal aneh”. Semuanya sesuai prosedur, nggak ada yang salah sedikit pun. Pas dia balikin badan mau keluar, tiba‑tiba merinding sekujur tubuh. Bukan karena dingin. Ada sesuatu. Bukan suara pintu, bukan orang batuk, bukan apa pun yang bisa kamu sebut namanya. Cuma bunyi halus sekali—kayak ada yang gesekan pelan, dari arah belakang rak paling pojok. Tempat yang seharusnya kosong, nggak ada apa‑apa di sana selain dinding polos. Laras berhenti jalan. “Siapa di sana?” Nggak ada jawaban. Cuma keheningan lagi. Dia pelan‑pelan nengok ke belakang. Lorongnya kosong. Lampunya agak berkedip sesekali, bikin bayangan di lantai bergeser sedikit, tapi selain itu nggak ada siapa‑siapa. Nggak ada jejak kaki, pintu nggak terbuka, nggak ada suara apa‑apa lagi. “Terlalu capek, kayaknya,” gumamnya sendiri sambil menggeleng kepala. Tiga bulan ini tidur kurang dari empat jam sehari, wajar kalau pikiran mulai main‑main. Dia tutup pintu ruangan itu, pastikan terkunci benar, lalu jalan pergi keluar. Di belakangnya, saat dia sudah menghilang di ujung lorong, bayangan di dinding diam‑diam memanjang sedikit lebih lama dari seharusnya. Besok paginya jam enam tepat. Pintu ruangan itu dibuka lagi oleh Kepala Bagian Pengamanan, ditemani dua orang staf dan Laras. Semua orang masih santai, ngobrol pelan soal kopi pagi ini, sampai pintu Brankas 17 terbuka. Satu detik kemudian, semuanya diam. Di dalamnya kosong. Benar‑benar kosong. Nggak ada map merah itu. Nggak ada bekas jatuh, nggak ada sobekan kertas, nggak ada debu berantakan. Sejak kemarin malam sampai sekarang, kuncinya nggak rusak, nggak ada goresan, nggak ada tanda dipaksa buka apa pun. Map tebal sepuluh sentimeter itu cuma… hilang begitu aja. Orang‑orang mulai panik. Cek CCTV lorong lantai tiga, ruang depan, tangga darurat—semua yang merekam jam sebelas sampai jam empat pagi. Nggak ada. Semua rekaman hilang. Bahkan salinan cadangan yang disimpan di ruangan terpisah pun nggak ada. Seolah waktu di jam itu dihapus dari dunia ini. Terakhir, pas periksa permukaan brankas pakai alat khusus, ketemu satu jejak. Satu sidik jari, jelas banget, pas di tepi atas pintu. Mereka langsung masukkan ke sistem—cek seluruh pegawai, satpam, pembersih, kontraktor, semua orang yang pernah punya izin masuk gedung ini dua tahun terakhir. Hasilnya muncul di layar: DATA TIDAK DITEMUKAN. Sidik jari itu milik orang yang nggak tercatat di mana pun. Laras berdiri diam di sudut ruangan, tiba‑tiba sadar satu hal yang bikin jantungnya terasa berhenti berdetak: kalau orang yang bisa buka brankas paling aman di sini, hapus rekaman yang paling dijaga ketat, dan tinggalkan jejak yang nggak bisa dilacak… siapa lagi yang bisa dia percaya sekarang?Seminggu kemudian. Laras berdiri lagi di depan gedung Kejaksaan Agung. Tempat yang dulu rasanya berat, penuh rahasia, dan bikin napas sesak. Hari ini beda. Matahari bersinar terang banget, langitnya bersih biru tanpa satu pun awan gelap, udara pagi terasa segar dan ringan di dada. Orang‑orang yang lewat sapa satu sama lain dengan senyum beneran — bukan senyum pura‑pura sambil mikir siapa yang bisa dipercaya, bukan senyum tegang karena takut salah bicara. Senyum yang tenang, senyum yang tahu sekarang semuanya sedang berjalan dengan benar.Seno datang berdiri di sebelahnya, merapikan rambutnya yang makin memutih. Matanya menatap pintu utama gedung itu lekat‑lekat, seolah masih nggak percaya raksasa yang selama ini menindas kebenaran itu akhirnya berhenti. “Kamu tahu, Laras?” katanya pelan, suaranya penuh kekaguman. “Dulu saya pikir kebenaran itu hal yang paling susah sekali di dunia ini buat ditemukan, apalagi dipertahankan. Saya pikir musuhnya terlalu kuat — terlalu banyak uang, terlal
Surya melirik ke kiri, lalu ke kanan. Semua mata di ruangan besar itu sekarang menatap dia. Bukan dengan hormat seperti dulu. Bukan dengan takut. Tapi campuran kaget, kecewa, dan marah. Orang yang kemarin semua orang sapa dengan senyum, yang namanya dipakai buat menenangkan hati orang, yang dipajang di dinding sebagai contoh teladan… sekarang berdiri sendirian. Orang‑orang yang tadinya berdiri di dekatnya, yang dia kira setia sampai mati, pelan‑pelan mundur selangkah demi selangkah, menjauh. Nggak ada yang mau berdiri di dekat orang yang ketahuan membohongi semua orang.Dia tahu semuanya udah berakhir. Nggak ada lagi yang bisa dia lakukan. Nggak ada kata manis, nggak ada alasan bagus, nggak ada cara buat bikin semuanya kembali seperti semula. Kebohongan itu cuma kuat selama orang percaya. Begitu mereka tahu kenyataannya… dia nggak punya kuasa apa‑apa lagi.Dengan bahu yang perlahan merosot turun, wajahnya yang tadi kelihatan bangga dan tenang tiba‑tiba berubah terlihat tua banget. Dia
“BELUM SELESAI!”Kata itu keluar dari mulut Laras dengan tegas banget, sampai Surya sendiri terdiam sebentar, seolah nggak menyangka gadis muda ini berani memotong kata‑katanya. Laras sendiri bahkan kaget betapa tenangnya suaranya — padahal jantungnya rasanya mau copot, keringat dingin mulai merembes di telapak tangan. Tapi begitu dia melihat mata Surya yang tadinya penuh keyakinan mulai berkedip ragu sedikit, Laras tahu satu hal: orang yang benar nggak pernah takut. Cuma orang yang berbohong saja yang merasa terancam saat kebenaran mulai muncul.“Ayah saya nggak kalah dua belas tahun lalu,” lanjut Laras pelan tapi jelas, matanya menatap lurus tepat ke mata Surya, nggak berkedip sedikit pun. “Dia cuma tahu kalau dia bertarung sendirian waktu itu, dia pasti kalah. Karena lawannya bukan cuma satu dua orang — tapi sistem yang sudah dibangun buat melindungi siapa pun yang duduk di atasnya. Jadi dia nggak bertarung. Dia mundur sebentar. Bukan karena takut. Tapi karena dia lagi menyiapkan s
“JANGAN DITANDATANGANI!”Suara Laras meledak membelah keheningan ruangan itu, bergema keras sampai ke dinding paling ujung, membuat kaca jendela kecil di belakang ruangan seolah ikut bergetar. Semua kepala serentak berbalik ke arahnya. Jaksa Agung kaku di tempat, pena emas menggantung diam di udara — ujungnya cuma sehelai rambut lagi dari menyentuh kertas berkas palsu itu. Satu goresan kecil saja, dan semuanya selesai. Laras melangkah maju selangkah lagi, map merah di tangannya terangkat tinggi supaya semua orang di ruangan besar itu bisa melihatnya dengan jelas. “Itu dokumen PALSU! Yang asli… ada di sini!”Ruangan seketika gempar luar biasa. Orang‑orang saling pandang, berbisik‑bisik kaget. Beberapa pejabat yang tadinya duduk tenang dan santai langsung berdiri kasar dari kursinya, wajahnya merah padam, mata melotot penuh amarah dan kepanikan yang nggak bisa disembunyikan lagi. Mereka tahu kalau kebenaran ketahuan di sini hari ini, bukan cuma rencana mereka hancur — nama baik, jabatan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações